FT/understood.org

Oleh: Khoirul*

BANYAK kasus perundungan terjadi pada saat ini, terlebih yang paling banyak diberitakan adalah perundungan yang terjadi di sekolah. Hal itu tentu membuat orang tua mempunyai rasa khawatir ketika melepas anaknya pergi ke sekolah. Pada umumnya kasus perundungan yang sampai diberitakan di media massa adalah kasus perundungan yang mengakibatkan korbannya terluka secara fisik. Hal itu menimbulkan persepsi salah pada sebagian masyarakat yang menganggap perundungan hanyalah kaitanya dengan perundungan secara fisik saja.

Sebenarnya perundungan bukanlah kasus yang baru terjadi pada akhir-akhir ini saja. Sejak zaman kolonial, perundungan sudah banyak dilakukan, seperti diskriminasi, pengucilan, dan lainnya. Akan tetapi, pada zaman itu istilah perundungan belumlah banyak dipakai. Baru akhir-akhir ini istilah itu marak dipakai dalam pemberitaan di media massa atau juga di media sosial yang saat ini bisa diakses dengan mudah oleh hampir setiap umat manusia.

Perundungan memanglah mempunyai dampak yang sangat buruk bagi korbannya.  Banyak korban perundungan yang mengalami depresi bahkan sampai bunuh diri. Contoh kasus yang terjadi pada artis Korea Selatan. Pemberitaan di media massa memaparkan bahwa sebelum bunuh diri, mereka menuliskan sesuatu di media sosial atau catatan yang menunjukkan bahwa mereka mengalami perundungan oleh pembenci atau penggemar mereka sendiri. Besarnya dampak perundungan bagi korbannya tersebut mungkin menjadi dasar yang membuat perundungan saat ini dianggap menjadi kasus yang serius hinga banyak UU yang dibuat untuk kasus ini, seperti UU No. 23 tahun 2002 dan UU No. 35 tahun 2014. Bahkan Presiden Jokowi pun berkomentar tegas mengenai kasus ini. Hal itu tampak Presiden Jokowi tunjukkan dengan menerbitkan Perpres tentang perundungan.

Tanpa disadari mungkin banyak orang telah melakukan perundungan. Banyak orang yang dengan maksud bergurau telah menghina, mengejek, atau menyindir orang di sekitarnya. Tenyata menurut seorang psikolog Amerika, Barbara Coloroso, bentuk perundungan banyak macamnya. Tidak hanya perundungan fisik, seperti menendang, memukul, dll, tetapi juga perundungan secara verbal, relasional, dan elektronik. Menurut Coloroso perundungan verbal itulah yang sering tidak disadari pelakunya tetapi dampaknya sangat buruk bagi korbannya.

Menilik bentuk perundungan yang sangat banyak itu tentunya tidak cukup bagi orang tua untuk sekadar menggalang dukungan untuk menghentikan perundungan di sekolah saja. Akan tetapi, menanamkan mentalitas pada anak untuk mampu melawan setiap perundungan juga perlu. Jika anak dirundung secara fisik apa yang perlu dia lakukan, jika dirundung secara verbal apa yang perlu dia lakukan, dan juga mentalitas untuk melawan perundungan lainnya. Hal itu tentunya membuat korban perundungan tidak akan mengalami depresi dan sampai melakukan hal yang sangat buruk, seperti bunuh diri. Bahkan jika mentalitas anak sudah terbangun, bisa jadi perundungan yang dia alami menjadi pemantik baginya untuk meraih kesuksesan. Hal itu sesuai filosofi bola bekel. Semakin dijatuhkan dari ketinggian semakin memantul lebih tinggi. Memang mencegah terjadinya perundungan itu penting. Akan tetapi, mengobati atau bahkan menjadikan perundungan sebagai pemicu hal yang positif juga dirasa penting.

Penting pula, sebagai benteng terakhir orang tua harus menjadi penguat dan pelindung bagi anak. Jangan sampai setelah sering mengalami perundungan di sekolah, anak masih juga mengalami perundungan di rumah oleh orang tuanya sendiri. Hal itu tentu membuat mentalitas anak jatuh dan akhirnya mereka akan mengalami depresi bahkan bunuh diri.

Dari ulasan tersebut tentu yang patut kita lakukan adalah berhati-hati dalam bergurau. Jangan sampai gurauan kita dapat menyakiti hati saudara, teman, atau orang-orang di sekitar kita. Hal itu sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw, yakni keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Lisan adalah pedang, maka berhati-hatilah dalam memakainya.

*Penulis adalah dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (Unisma) dan pernah mengajar pada tingkat SD-SMA di beberapa sekolah.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry