Pimpinan Untag Surabaya berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. DUTA/ist
CIREBON | duta.co – Digitalisasi dan modernisasi bagi Untag Surabaya tidaklah cukup di 2026 ini. Nilai-nilai dan warisan para tokoh bangsa perlu dibangun.

Sebab, kemajuan tidak semata ditopang oleh teknologi dan infrastruktur, melainkan juga oleh
karakter, amanah, dan kepedulian terhadap sesama.

Pemaknaan itulah yang mengiringi kunjungan Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro,
S.T., M.T. bersama Wakil Rektor I Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, dan Wakil Rektor II, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA ke kawasan Sunan Gunung Jati di Cirebon pada Kamis (9/7/2026) lalu.

Lebih dari sekadar perjalanan, kunjungan tersebut menjadi ruang untuk merenungkan kembali nilai-nilai kepemimpinan yang tetap relevan dalam mengarahkan langkah Untag Surabaya menghadapi tantangan zaman.

Sunan Gunung Jati membangun peradaban melalui pendidikan, dakwah dan kepemimpinan. Namun, warisan terbesarnya bukanlah bangunan ataupun kekuasaan, melainkan keyakinan bahwa peradaban selalu bertumpu pada manusia dan niat baik yang melandasi setiap pengabdian.

Gedung dapat dibangun semakin megah, teknologi akan terus berkembang, tetapi karakter tetap menjadi fondasi yang menentukan arah sebuah institusi.

Nilai itu terasa dekat dengan perjalanan Untag Surabaya hari ini. Transformasi digital merupakan keniscayaan, tetapi kemajuan tidak boleh hanya dimaknai sebagai percepatan teknologi.

Pendidikan tetap memiliki tanggung jawab melahirkan manusia yang unggul secara intelektual sekaligus berintegritas, berempati, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Bagi Rektor Untag Surabaya, refleksi ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan sekadar membawa kampus mengikuti perkembangan zaman. Kepemimpinan juga berarti menjaga agar setiap langkah modernisasi tetap berpijak pada semangat patriotisme, kebangsaan, dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Teknologi boleh berkembang, tetapi jati diri Kampus Merah Putih tidak boleh bergeser.
Pesan itu semakin terasa melalui petuah Sunan Gunung Jati, Ingsun titip tajug lan fakir miskin. Dalam konteks pendidikan tinggi, “tajug” dapat dimaknai sebagai rumah ilmu yang harus dijaga. Nilai tersebut tercermin dalam peran Wakil Rektor I yang mengawal kualitas akademik, penelitian, dan pembentukan karakter mahasiswa agar tetap mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan kompas moral,” jelasnya.

Di tengah derasnya perkembangan AI, teknologi memang mampu mempercepat pekerjaan dan melahirkan berbagai inovasi. Namun, teknologi hanyalah alat. Tanpa etika, moral dan spiritualitas, kemajuan dapat kehilangan arah.

Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup mencetak lulusan yang cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan.

Sementara itu, makna “fakir miskin” mengingatkan bahwa pendidikan harus selalu berpihak kepada masyarakat. Nilai tersebut sejalan dengan amanah Wakil Rektor II, Supangat dalam mengelola administrasi, keuangan, dan sarana prasarana.

Dikatakannya, pengelolaan keuangan tidak semata berbicara tentang angka, melainkan menjaga kepercayaan yang telah dititipkan masyarakat kepada perguruan tinggi.

“Dalam makna yang lebih luas, amanah tersebut layaknya sebuah “Baitul Mal” modern, yakni titipan masyarakat yang harus dikelola dengan jujur, transparan, dan bertanggung jawab demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya.

Karena itu, pembangunan sarana prasarana, optimalisasi aset, digitalisasi layanan, maupun perluasan akses beasiswa bukan sekadar target institusi. Seluruhnya merupakan wujud amanah yang harus dikelola secara transparan dan akuntabel agar manfaatnya kembali kepada mahasiswa melalui pendidikan yang semakin berkualitas.

Ketika amanah dijaga, kebermanfaatannya akan mengalir ke dalam kehidupan akademik dan menguatkan langkah kampus dalam menjalankan misinya.

Keteladanan Sunan Gunung Jati juga menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap dunia tidak harus menghilangkan jati diri. Dahulu Cirebon menjadi pelabuhan yang mempertemukan berbagai bangsa, termasuk Arab, Cina, Eropa, dan Nusantara.

Keterbukaan terhadap peradaban luar justru berjalan berdampingan dengan kuatnya  identitas yang dimiliki. Nilai tersebut relevan dengan langkah Untag Surabaya dalam memperkuat kolaborasi internasional, mengembangkan inovasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai pendorong kemajuan.

Kampus diharapkan menjadi “Pelabuhan Ilmu”, tempat berbagai gagasan dari penjuru dunia berlabuh tanpa tercerabut dari nilai-nilai Indonesia.

Mahasiswa diharapkan mampu mengepakkan sayap di panggung global, tetapi tetap memiliki cengkeraman yang kuat pada bumi pertiwi melalui semangat patriotisme, integritas, dan kepedulian sosial.

Pada akhirnya, perjalanan menuju Untag Surabaya 2026 bukan sekadar tentang kesiapan menghadapi disrupsi teknologi atau memperluas jejaring internasional. Lebih dari itu, perjalanan ini merupakan ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap kebijakan, proses pembelajaran, dan langkah pembangunan selalu berpijak pada nilai-nilai yang memuliakan manusia.

“Barangkali itulah pelajaran paling berharga dari Tanah Cirebon, kemajuan perguruan tinggi tidak diukur semata dari megahnya bangunan, canggihnya teknologi, atau luasnya jejaring kerja sama, melainkan dari amanah yang dijaga, keteladanan yang dihadirkan, dan ilmu yang diabdikan bagi kemaslahatan,” kata Supangat.

“Dengan pijakan itulah Untag Surabaya melangkah menuju 2026, meyakini bahwa kemajuan terbaik bukan hanya tentang menjadi lebih modern, tetapi juga menjadi semakin bermakna,” tambahnya. ril/lid

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry