Habib Rizieq Syihab (HRS) diborgol (Keterangan foto kronologi.id)

“Tahun 2021 baru 20 hari, sudah tercatat di laman resmi BNPB sebanyak 169 bencana alam. Termasuk 54 kali gempa bumi yang disebut Daryono (BMKG), sangat tidak lazim. Di luar teori yang biasa dijadikan rujukan.”

Oleh: Choirul Anam*

TAHUN 2021 adalah tahun punishment. Hukuman bagi siapa saja—terutama penguasa dan pemimpin—yang tidak amanah dan terus-menerus mempertontonkan ketidakadilan dan kezalimannya. Akibat perbuatan merekalah, rakyat tak berdosa ikut menanggung derita, merana  dan sengsara.

“Mereka (penguasa dan pemimpin), yang tidak amanah dan gemar memamerkan ketidak-adilan dan kezaliman itu, tidak menyadari bahwa hukuman (bahaya) akibat perbuatannya sudah di depan mata,” kata Ki Ismoyo Prabu Depro yang, sejak 1 Muharram bersamaan dengan 1 Syura, bertepatan pula dengan neloni (hari ketiga) Proklamasi Kemerdekaan RI tahun kembar 20 Agustus 2020, sudah memperingatkan akan datangnya malapetaka besar akibat kedustaan dan kezaliman penguasa dan pemimpin.

Seusai melakukan ritual khusus di Puncak Tidar, Ki Ismoyo mendengar suara langit melalui wejangan dari Eyang Semar Ismoyojati alias Sabdo Palon bahwa akan terjadi musibah dan bencana besar di negeri ini akibat kerusakan yang amat parah di muka bumi, dan (kerusakan itu) bukan hanya di sektor lingkugan saja (baca kembali: Menapaki Jejak Supernatural (4).

“Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi penyebab utama, karena sudah tidak normal dan terbalik-balik. Kaedah hukum berkeadilan sudah tak berlaku, dan penegak hukum pun sudah rusak parah. Pasal-pasal diperdagangkan layaknya ikan di pasar, sangat vulgar dan tanpa rasa malu,” tambah Ki Ismoyo yang menerima wejangan langsung dari Eyang Sabdo Palon, di puncak Tidar, Magelang, 1 Muharram/1 Syura/20 Agustus 2020 lalu.

Kala itu, Ki Ismoyo juga telah mengingatkan agar masyarakat waspada, karena fenomena alam pun sudah mulai marah lantaran kesewenang-wenangan dan ketidak-adilan yang terus dipertontonkan.

“Ada 7 gunung berapi di Jawa dan 7 lagi di luar Jawa yang saya kunjungi, sudah pada marah dan siap memuntahkan laharnya. Juga angin, air sungai dan air laut akan menggelontarkan kemarahannya,” tandas Ki Ismoyo yang (kala itu) juga dapat pesan ghaib dari Bapak Soekarno (Bung Karno) saat ritual di Pantai Ngliyep Malang Selatan, Pantai Parang Tritis dan Parang Kusumo Yogyakarta, serta  Pantai Karang Hawu Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Apakah gunung-gunung bisa bicara Ki? “Loh…semua yang ada di langit dan di bumi itu mahluk ciptaan Alllah. Jangan dikira gunung, bumi, langit itu benda mati,”ujar Ki Ismoyo sembari mengutip al- Qur’an Surat al-Ahzab ayat (72): ”Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amant itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat  bodoh.”

Nah, jadi, lanjut Ki Ismoyo, Allah SWT pertama kali menawarkan amanat, mengemban tugas-tugas keagamaan seperti misalnya: menjaga harmoni sosial, menjaga keserasian alam untuk kebaikan lingkungan dll itu, kepada langit, bumi dan gunung-gunung. “Tapi semua enggan menerima karena takut tidak dapat melaksanakan amanat itu. Lalu manusia yang sangat zalim dan bodoh inilah, kemudian bersedia memikulnya”.

Lantas apa yang diperbuat manusia sebagai pemikul amanat? “Lihat saja! Kerusakan alam terjadi di mana-mana. Musibah dan bencana pun datang susul menyusul”.

Laporan TEMPO, umur tahun 2021 baru 20 hari, sudah tercatat di laman resmi BNPB sebanyak 169 bencana alam. Termasuk 54 kali gempa bumi yang disebut Daryono (Koordinator Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG), sangat tidak lazim. Di luar teori yang biasa dijadikan rujukan.

“Kerusakan harmoni sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, juga sudah amat parah. Manusia yang diberi amanah, terutama penguasa dan para pemimpin zalim, sudah lupa pada rambu-rambu Sang Pencipta. Tinggal menunggu puncak hukuman yang, pada awal tahun 2021 ini, sudah mulai dijalankan,” kata Ki Ismoyo sambil mengaitkan berbagai bencana dengan wejangan para leluhur nusantara dan firman Allah SWT Surat al-A’raf ayat (182): “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur menuju (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

Ayat-ayat Allah itu ada yang tertulis (al-Qur’an plus sabda Nabi/hadits) dan yang tercipta (berupa alam termasuk di dalamnya manusia). Kedua ayat Allah itu sudah ditentukan hukumnya berupa Sunnatullah. Lalu diamantkan untuk menjaganya pertama kali kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka semua enggan menerimanya karena takut tidak dapat melaksanakan dan khawatir mengkhianatinya.

“Manusia yang sangat bodoh dan zalim inilah yang kemudian bersedia memikul amanat itu. Tapi mereka (penguasa dan pemimpin yang diberi amanat itu—red) justru dusta, durhaka dan khianat. Contoh, misalnya, jutaan hektar hutan digunduli diganti sawit, tambang-tambang dikeduk menyalahi hukum Allah. Semuanya hanya untuk kemakmuran penguasa dan pengusaha. Rakyat yang mengkritisi ditangkap dan dipenjarakan. Lalu dipamerkan perlakuan sewenang-wenang tanpa keadilan. Maka, Sang Pencipta pun marah, dan pasti menjatuhkan hukuman.”

“Tetapi tidak scara langsung, dan mereka (penguasa dan pemimpin durhaka itu) tidak juga menyadari akan kesesatannya,”kata Ki Ismoyo. Tafsir Surat al-A’raf ayat (182) sudah jelas, bahwa Allah SWT akan memberi hukuman (punishment) secara istidraj (berangsur-angsur) menuju kebinasaan kepada mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan mereka tidak menyadari, tidak pula mengetahui, karena pekatnya kesesatan dan kedurhakaan yang menutup hati mereka. “Puncak hukuman akan tuntas pada 2021 ini,” tegas Ki Ismoyo penuh keyakinan lantaran senada dengan “pesan ghaib Bung Karno”.

Bung Karno sangat marah melihat pengelolaan negara yang karut-marut sekarang ini. “Beliau sedih bercampur marah melihat tata kelola negara yang jauh menyimpang dari yang beliau cita-citakan,” tandas Ki Ismoyo yang mengaku hampir setiap hari diperlihatkan sosok Bung Karno, pemimpin besar yang memiliki keterpaduan spiritual dan intelektual handal.

“Negeri subur makmur yang aku perjuangkan dengan susah payah, kini menuju kehancuran. Sudah dilumuri semangat pencitraan, dan tak ada sedikitpun ketulusan mengabdi pada nusa dan bangsa. Jasmerah…jasmerah…jasmerah,” kata Bung Karno seperti ditirukan Ki Ismoyo yang mengaguminya karena kejujuran dan keterbukaan beliau. Ketika disinggung detik-detik terakhir kepemimpinannya yang sempat kacau, beliau langsung menjawab: ”Ambil dari saya yang baik, dan hindari dari saya yang kelak justru bisa menjeratmu.”

Bung Karno sangat berharap generasinya mau baca sejarah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah perjuangan leluhur bangsa. “Jasmerah, bukan berarti memakai jas warna merah,” tuturnya menyindir pengagum dan penganut ajaran Bung Karno yang cuma gemar memakai jas warna merah.

Lebih lanjut Ki Ismoyo, juga membuka misteri harta amanah Soekarno. “Beliau telah memeberikan petunjuk mengenai kunci rahasia harta amanah bagi pemimpin yang sanggup mengatasi persoalan kemanusiaan dunia, sekaligus mampu menyelamatkan dan mengembalikan kejayaan nusantara”. Pengakuan Ki Ismoyo yang penuh msteri ini, tidak biasanya disampaikan karena, akhir-akhir ini, ia sulit ditemui lantaran lelaku ritualnya seringkali “mendadak dipanggil” leluhur nusantara—terutama Bung Karno.

Dalam tahun 2021 ini, lanjutnya lagi, semua musibah, bencana, wabah dan kejadian luar biasa lainnya, akan dipertontonkan dalam dunia cinema nyata tanpa edit. Semuanya akan belangsung live, dan masyarakat dunia—khususnnya Indonesia—akan menyaksikannya dengan penuh keprihatinan dan kewaspadaan.

Believe it or Not! Ki Ismoyo sendiri, sejak 25 Desember 2020 “diajak” berkelana menembus buana-samudera dan baru berakhir Senin (11 Janauari 2021) di pusara Bapak Soekarno (Bung Karno), di Blitar, Jawa Timur. Wejangan para leluhur—teruatama Bapak Soekarno—dalam tahun 2021 akan terjadi puncak hukuman buat penguasa dan pemimpin yang tidak amanah. Mengapa?

Karena, mereka (penguasa dan pemimpin yang tidak amanah–red) telah lupa dan mengira bahwa ketidak-adilan dan kezaliman yang dipertontonkan, tak ada lagi yang mengawasinya. Mungkin saja mereka beranggapan kekuasaanya sudah power full, dan tak ada lagi yang berani mengganggu. Karena faktanya, kelompok oposisi (yang dulu sempat gebrak-gebrak meja—red) sudah tekuk lutut menjadi pembantu setia. Dan sejumlah tokoh kritis, termasuk di antaranya, Habib Rizieq Shihab (HRS) sudah pula dikurung dengan segala cara. “Di  situlah letak kekeliruan akal sesat mereka,”kata Ismoyo.

Tidak satupun peristwa di jagat raya ini, lanjut Ki Ismoyo, yang terjadi  secara kebetulan. “Semuanya terjadi atas kehendak dan sepengetahauan Sang Pencipta, Allah SWT,” tutur Ki Ismoyo sambil mengutip Surat al- An’am ayat (59):”Dan semua kunci-kunci yang ghaib ada pada-Nya, dan tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daunpun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil Mahfudz)”.

Nah, semua kezaliman dan ketidak-adilan yang dipertontonkan itu sudah merupakan kehendak dan sepengatahuan Sang Pencipta. “Tapi penguasa zalim tak pernah mau merasa, apalagi meyakini bahwa di atas kekuasaannya masih ada Yang Maha Kuasa. Mereka sudah lupa karena gemerlap dunia. Sehingga, siapa pun yang mengingatkan atau mengkritisi, pasti diserang balik atau bahkan ditangkap polisi,” kata Ki Ismoyo.

Apalagi sekarang ada buzzeRp. “lihat tuh… Pak SBY”. Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono yang, sangat wajar sebagai mantan presiden, mengingatkan beban utang negara yang terlampau besar, dan mengkhawatirkan terjadinya keretakan kerukunan masyarakat yang sudah terpola sejak tiga tahun lalu. “Itu kan wajar sebagai mantan presiden yang mencitai rakyat dan tanah airnya,”kata Ki Ismoyo.

Tapi apa yang terjadi? Justru Pak SBY diserang habis oleh para buzzeRp. Bahkan ada pula guru besar dari Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Yusuf Leonard Henuk, ikut membodoh-bodohkan Pak SBY hanya karena ingin diangkat jadi menteri Jokowi.” Cara- cara semacam itu akan terus dipertontonkan di era rezim sekarang ini. Mereka tidak sadar bahwa model pengelolaan negara seperti itu berpotensi terjadinya konflik horizontal.

Lebih parah lagi apa yang diunggah Ketum Pro-Jokowi, Ambroncius Nababan, yang menyandingkan foto Natalius Pigai dengan gambar Gorila. Masyarakat Indonesia sudah sangat paham kenapa ada unggahan hinaan pada sosok mantan Komisioner Komnas HAM itu? Tak lain dan tak bukan adalah, karena Natalius Pigai murupakan tokoh muda harapan bangsa yang konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah yang terus menerus momojakkan Islam. “Sampai kapan anak negeri yang nyaris sempurna mayoritas ini dipojokkan terus seperti itu,” kata Pigai bernada tanya dalam acara ILC.

Dalam kondisi negara hampir bangkrut, hutang menggunung, ekonomi meroket ke bawah, korupsi puluhan triliun merajalela: uang simpanan rakyat Jiwasraya diembat, dana Asabri digarong, dana Bansos rakyat miskin diduga dicuri partai berkuasa dan anak Pak Lurah, dan terbaru dana BPJS buruh Rp 43 triliun diduga juga digondol maling. Belum lagi korupsi vaksin Corona yang tetap mengganas. Tapi anehnya, pemerintah justru “jualan” Islam radikal, Islam teroris, Islam intoleran yang harus ditumpas habis guna menutupi kegagalannya.

“Tidak ada Islam radikal, Islam garis keras, Islam teroris dan intoleran. Yang ada adalah cara pandang penguasa yang radikal,”tandas Natalius Pigai. Kenapa sih pemerintah tidak membenahi saja kegagalannya yang kasat mata? Apa dikira rakyat tidak tahu. Sampai-sampai mantan ketua DPR RI, Marzuki Alie, berteriak keras terkait maraknya korupsi. “Korupsi ABPN sudah biasa. Ini korupsi Bansos, BPJS Ketenagakerjaan, luar biasa. Sudah tidak punya hati manusia lagi, lebih buruk dari binatang,”kata Marzuki di akun Twitter @marzukialie__MA, Rabu, 20 Januari 2021.

Unggahan gambar hinaan terhadap Natalius Pigai, dan serangan serta hinaan buzzeRp terhadap HRS dan WNI keturunan Arab yang sudah di luar batas etika bermasyarakat, memang bisa memicu konflik rasial dan horizontal. Jika pemerintah tetap menggunakan cara murahan itu untuk membungkam kelompok kritis, dan tidak segera membuka kran dialog untuk mengatasi karut marut pengelolaan negara, Pigai mengingatkan: “Bakal terjadi konflik rasial”. Apalagi TKA Cina dibiarkan terus mengalir masuk Indonesia di musim pandemi Corona ini.

Bukan hanya itu. Lebih aneh dan tidak bisa diterima akal sehat, adalah perlakuan semena-mena terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS). Tidak perlu orang pintar. Rakyat jelata dan penganut agama yang benar, tentu menilai perlakuan penguasa terhadap HRS adalah kezaliman dan ketdak-adilan yang nyata. Dan HRS akan menjadi simbol dan bukti serta contoh kezaliman dan ketidak-adilan rezim saat ini. Sekaligus akan menjadi picu peledak kehancurannya.

“Perlakuan semena-mena terhadap HRS, juga masuk radar leluhur nusantara yang, sejak 1 Muharram/1 Syura/20 Agustus 2020 atas izn Allah SWT—turun ke bumi bertugas membimbing para “Satrio Piningit” guna menyelamatkan sekaligus mengembalikan kejayaan nusantara,” ujar Ki Ismoyo sembari menambahkan bahwa apa yang ditimpakan penguasa kepada HRS, bukan hanya menjadi keluhan dan keprihatinan umat Islam saja, tetapi juga umat beragama lain dan para tokoh bangsa.

Janganlah mengira perkara HRS tidak berimplikasi serius terhadap keberlangsungan kekuasaan. Sang Pencipta, Allah SWT, telah memberikan contoh kezaliman Fir’aun yang berakhir dengan keburukan (ditenggelamkan bersama bala tentaranya ke dalam laut). Kezaliman  apa saja yang sudah, sedang dan akan ditimpakan penguasa kepada HRS, justru akan mempercepat proses kehancurannya.

Memang, kalau mengikuti komentar para buzzeRp di medsos, HRS dianggap sudah habis. “HRS kena batunya, dikira hukum di tangan FPI, apa? Baru tahu dia bahwa hukum berada di tangan presiden bro,”katanya dengan bangga mendukung Jokowi dan Polri untuk tegas dan terus mencari pasal guna “menghabisi” HRS dan pendukungnya.

Selain buzzeRp, banyak juga orang, termasuk orang-orang top NU dan Ansor-Banser, yang mendukung rezim dan Polri untuk “menghabisi” HRS dan pendukungnya. Tapi percayalah, kata Ki Ismoyo, mereka itu hanyalah oknum yang memanfaatkan nama besar NU untuk “cari muka” pada pejabat yang biasa melayani “kebutuhannya”. “NU asli dan nahdliyin pada umumnya, serta para pengasuh pesantren salaf, justru simpati pada HRS,” ujar tokoh spiritual yang juga alumni pesantren dan kerap mengikuti pengajian jama’ah NU.

Lebih lanjut, Ki Ismoyo mengingatkan, bahwa zaman raja Fir’aun  banyak juga orang alim yang mendustakan ayat-ayat Allah karena besarnya nafsu cinta dunia (harta, tahta dan wanita). Bahkan ada mufassir ayat-ayat Allah dalam Surat al-A’raf ayat (175-178), menyebut nama wali besar Bal’am bin Ba’ura’, yang rela bergabung dan mendukung kezaliman Fir’aun untuk mencelakai Nabi Musa, hanya karena syahwat dunianya terlalu besar dan kedengkiannya terhadap posisi Musa sudah sampai ubun-ubun. Dalam konteks zaman now, tokoh-tokoh mirip Bal’am itu bersuka-cita dengan dikurungnya HRS.

Apakah HRS selevel Nabi Musa, tentu saja tidak! Tapi yang sudah pasti dan dipercayai rakyat adalah: HRS bukan tipe manusia yang menggandrungi gemerlap dunia. HRS bukan penjahat, bukan pembunuh dan bukan pula koruptor Bansos yang mengerikan. Bukan pembohong, bukan raja hutang dan bukan penggarong uang rakyat.

HRS adalah seorang ulama yang ingin memenuhi panggilan agama untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru pada kebaikan dan menjauhi kemungkaran) demi tegaknya kebenaran dan keadilan di bumi pertiwi. Tapi tugas mulia yang juga dibenarkan konstitusi itu, ternyata oleh penguasa, dianggap radikal dan mengganggu hubungan mesra penguasa dan pengusaha taipan naga merah.

Puncaknya, karena HRS tidak mempan dibungkam dengan suap triliunan rupiah, maka 6 warga sipil bumi putra yang setia mengawalnya, ditembak mati polisi. HRS pun kemudian ditangkap karena kerumunan “Maulid Nabi”, dan ormas FPI dibubarkan tanpa proses hukum. Semua rekening bank terkait HRS dan FPI diblokir, dan pesanten HRS di Megamendung, Bogor, yang dibangun di atas tanah dengan pembelian yang sah, juga diancam akan dibolduzer penguasa. Itupun masih juga dicari-cari lagi pasal yang bisa menjerat HRS seumur hidup. Coba, kurang hebat apa lagi penguasa kita sekarang ini bro?

Lantas bagaimana dengan HRS yang menerima perlakuan hidup sekeras dan sekejam itu? Pandangilah wajah HRS! Apakah dia terlihat takut dan khawatir? Sama sekali tidak! Sebagai tokoh yang terzalimi, HRS tidak punya rasa takut dan khawatir. Ia justru teguh iman dan takwa serta berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Melihat sikap tegar HRS dalam menerima kekejaman penguasa, umat Islam teringat firman Allah dalam Surat Yunus ayat (62-63) :”Alaa inna auliyaa-allaahi laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun. Alladziina aamanuu wa kaanuu yattaquun—Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak berduka cita. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa.”

Kiranya benar vedio pendek Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang beredar luas belakangan ini, terkait kewalian HRS. “Siapa yang memusuhi wali-Ku, berarti memusuhi Aku”. Jika HRS disakiti, kata Cak Nun, Allah lah yang “menabuh genderang perang”. Tunggu saja saatnya akan tiba. Karena Allah sendiri telah berjanji: akan mengakhiri kezaliman dengan keburukan—sebagaimana disimbolkan pada Fir’aun.

Sebenarnya masih banyak perlakuan kejam, zalim dan tidak adil yang, secara sadar dan disengaja, ditimpakan kepada HRS. Dan selain buzzeRp, ada pula tokoh-tokoh agama—terutama dari NU dan Ansor/Banser—yang bersuka ria dengan “dihabisinya” HRS. Tapi sebaiknya kita bicarakan pada edisi berikutnya saja. Insya Allah!

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry