TNI Copot Spanduk Habib Rizieq: Keterangan foto detik.com

Kala itu, saya tidak tertarik mendengarkannya sampai kemudian Gus Dur menegur saya: “Sampeyan jangan terlalu rasional dalam soal ini. Harta amanah itu nilainya tak terhinngga besarnya. Tapi baru bisa dipahami dengan menggunakan pendekatan total spiritual,” kata Gus Dur waktu itu.”

Oleh: Choirul Anam*

Believe it or not! Tahun kembar 2020 merupakan tahun pemberian reward dan punishment. Hukuman akan dikenakan kepada penguasa zalim dan pemimpin yang tidak amanah. Sedangkan reward akan diberikan kepada orang-orang terpilih yang selama ini terzalimi.

Tahun kembar 2020 juga merupakan era dimulainya proses pemunculan Satrio Piningit. Lalu dilanjutkan dengan lahirnya Sang Ratu Adil dalam perpolitikan nasional. Tanda-tanda itu hanya bisa diketahui melalui ritual di area paku Tanah Jawa, yakni di puncak Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

“Di puncak Tidar, terdapat makam leluhur yang urutannya, dari bawah: makam Syech Subakir, Kyai Sepanjang (nama senjata Syech Subakir untuk mengusir pageblug Tanah Jawa). Kemudian makam Pangeran Purboyo, dan di puncak Tidar bersemayam Eyang Semar Ismoyo Jati,”ujar Ki Ismoyo Dedy Suyanto (selanjutnya disebut Ki Ismoyo) yang telah mendapati tanda-tanda itu, setelah dua kali melakukan ritual di puncak Tidar.

Ritual pertama, pada malam Jum’at Kliwon (6 Desember 2019) cukup berat. “Kala itu saya hanya ditemani seorang pemuda luar biasa (cucu juru kunci Tidar) menapaki ratusan tangga pada tengah malam dengan guyuran hujan lebat dan padamnya aliran listrik. Kondisi fisik terasa lelah karena (tiga hari sebelumnya), saya keliling ziarah ke Demak dan Jepara,”kenang Ki Ismoyo yang kini menyimpan “pusaka pemersatu” buatan Gajah Mada dari batu meteor (versi Joshua, dan batu petir versi Ponari).

“Alhamdulillah, akhirnya, saya bisa masuk ke tempat Eyang Semar di puncak Tidar. Sebuah bangunan kerucut warna kuning, yang dipuncaknya tertancap Keris Pusaka Trisula. Di dalamnya terdapat sebatang pohon “Jati Tunggal Kakang” menjulang. Dikelilingi pagar besi bertirai putih nan cantik khas Eyang Semar. Namun ada larangan memasuki ruang khusus, apalagi sampai memegang pohon,”ujar Ki Ismoyo.

Kenapa? Konon, katanya, “dulu ada orang yang memegang pohon di ruang khusus Eyang Semar, lalu berubah menjadi ular dalam bentuk pusaka Trisula di atasnya,” kata Ki Ismoyo yang (secara ghaib) meyakini kejadian itu benar adanya.

Ritual kedua, Kamis Wage malam Jum’at Kliwon (10 September 2020) bertepatan dengan 20 Asy-Syura. Tetapi kunjungan kedua ini, Ki Ismoyo ditemani tim lelaku di antaranya: Ki Lemuni Usmani, Ki Dimas Shodiq, Ki Ronggo Surendra dan Aki Soleh Abdullah Banten. “Sehabis shalat ’ashar kami berlima sudah masuk ke ruang Eyang Semar untuk ritual. Sebelumnya, kami tawasul dan ritualan dulu di Petilasan Syaich Subakir, Kyai Sepanjang dan di makam Pangeran Purboyo,” tambah Ki Ismoyo menceritakan ritual kedua di puncak Tidar.

Sekitar satu jam di ruangan Eyang Semar, tiba-tiba empat teman Ki Ismoyo (rupanya) sudah keluar pindah ke bawah, karena sudah selesai ritualnya. “Nah, ketika saya ditinggal sendirian itulah, saya seperti “dipertemukan” Eyang Semar dengan seorang lelaki yang ciri-cirinya hampir sama dengan yang digambarkan Bapak Soekarno dalam buka “Harta Amanah Soekarno” karya Dr Safari Ans,” kenang Ki Ismoyo sambil menunjukkan buku bersampul Presiden Soekarno dan Presiden Amerika ke-35 (1961-1963) John Fitzgerald Kennedy.

Sebuah buku tebal yang mengupas “Harta Amanah Soekarno”, yang ditanda-tangani kedua pemimpin negara itu, dalam bentuk perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement—pengakuan Amerika Serikat terhadap aset Indonesia yang tersimpan di negara Paman Sam.

Tentang “Harta Amanah”, ini memang pernah saya dengar dari Gus Dur jauh sebelum beliau menjadi Presiden RI ke-4.  Ketika Gus Dur masih suka berziarah ke berbagai makam leluhur bersama Bapak Ghofar Rahman, dalam suatu kesempatan rehat, saya diberitahu adanya harta amanah Soekarno untuk keperluan kemanusiaan, yang lagi dijaga ketat oleh mahluk halus.

Kala itu, saya tidak tertarik mendengarkannya sampai kemudian Gus Dur menegur saya: “sampeyan jangan terlalu rasional dalam soal ini. Harta amanah itu nilainya tak terhinngga besarnya. Tapi baru bisa dipahami dengan menggunakan pendekatan total spiritual,” kata Gus Dur waktu itu.

Lalu saya jawab, mungkin saja, ada kaitan dengan pidato Bung Karno 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI. Waktu itu Bung Karno menguraikan “Pancasila sebagai philosofische grondslag: fundamen, dasar filsafat, pikiran, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.”

Berarti, kata saya waktu itu, Pancasila merupakan fundamen, dasar atau pondasi negara Indonesia Merdeka. Bukan pilar, apalagi atap. “Itu sudah jelas. Tapi bukan itu yang saya maksud,” ujar Gus Dur.

Loh ada kaitannya Gus! Ketika Bung Karno mengurai Sila kedua: “Internasionalisme, atau peri-kemanusiaan” beliau menyebut raja-raja nusantara merdeka, “tetapi kita hanya dua kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sriwijaya dan di jaman Majapahit,”kata Bung Karno.

Apakah, mungkin, harta raja-raja nusantara itu yang dimaksud harta amanah Soekarno? Tapi disimpannya di mana Gus?

Mendengar jawaban saya, Gus Dur masih saja mengatakan “terlalu rasional”. Saya pun tak menganggapnya sebagai suatu yang penting. Namun, setelah saya baca buku karya Dr. Safari Ans, ternyata apa yang disinggung Gus Dur kala itu, agaknya, benar adanya. Harta amanah Soekarno yang tak terhitung besarnya itu, sepertinya nyata adanya. Tapi biarlah… nanti kita bicarakan dalam kesempatan lain saja.

Kembali kepada Ki Ismoyo yang “dipertemukan” (secara ghaib) oleh Eyang Semar dengan lelaki yang ciri-cirinya hampir sama dengan yang digambarkan Bapak Soekarno itu, ternyata, ada kisah tambahan lain sebagai “wejangan” yang amat penting untuk menerawang kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang karut-marut belakangan ini. Wejangan apa itu Ki?

“Cukup lama kami bertiga berbicara. Saya “diwejangi” tentang Nusantara ke depan dengan tatanan barunya. Termasuk diberikan gambaran tentang kejadian-kejadian yang mendahuluinya,”kata Ki Ismoyo sambil menunjuk pengelolaan negara yang kacau balau saat ini, termasuk tanda-tanda yang diwejangkan Eyang Semar.

Ketika disinggung berbagai peristiwa penting yang terjadi akhir-akhir ini, seperti misalnya, amandemen UUD 1945–mengganti fundamen, dasar atau pondasi negara– yang diletakkan Bung Karno dengan nama Pancasila. Berubah menjadi kapitalisme dan liberalisme hingga berbagai UU turunannya (terutama yang diproduksi DPR dan Pemerintah di musim pandemi Covid-19), yang berpihak pada kepentingan oligarki kapitalis dan taipan komunis, menurut Ki Ismoyo, “itu semua termasuk kejadian pendahuluan yang digambarkan Eyang Semar.”

Bahkan Ki Ismoyo sendiri terkejut ketika usai shalat dhuha Senin pekan lalu, mendapati foto Bung Karno mengeluarkan air mata kemerahan. “Allah Akbar…saya melihat wajah Bapak Soekarno mengeluarkan air mata kemerahan. Beliau sedih hingga menangis karena para pemimpin yang diberi amanat mengelola negara justru meninggalkan Pancasila. Mereka beramai-ramai mengampanyekan empat pilar yang jauh dari fundamen yang beliau bangun,” kata Ki Ismoyo yang telah berkali-kali melakukan ritual di Istana Bung Karno di Gebang, Blitar maupun Mbojo, Bima.

Peristiwa kenegaraan paling aktual pun, seperti pencopotan beberapa Kapolda karena dinilai tak tegas mengatasi kerumunan massa di musim pandemi Corona. Pemeriksaan Gubernur Anies Baswedan oleh Polisi yang terkesan membalik logika hukum. Pencopotan baliho Habib Rizieq Shihab atas perintah Pangdam Jaya disertai ramainya cacian buzzer istana terhadap Habib sebagai keturunan Rasulullah.

Menurut Ki Ismoyo, semua rentetan peristiwa yang membalik logika hukum dan kebenaran itu, “sudah diceritakan Eyang Semar sejak Jum’at Kliwon, 20 Syuro (10 September 2020). Terpenting, umat Islam jangan curiga pada TNI. Sebab, TNI masih tetap setia bersama rakyat, terutama umat Islam,”pesan Ki Ismoyo.

Dan masih akan banyak lagi peristiwa yang akan terjadi di luar nalar kebenaran dan logika hukum yang berlaku. “Penguasa seolah berada di atas segalanya. Karena semua itu merupakan peristiwa pendahuluan bagi terjadi proses kelahiran “Satrio Piningit” dalam tatanan baru bangsa Indonesia. Saya memperoleh wejangan jelas sekali dari Eyang Semar,”ujar Ki Ismoyo dengan penuh keyakinan. Tapi bagaimana kita bisa tahu Satrio Piningit telah datang di panggung kepemimpinan Indonesia Ki?

“Tunggu, nanti akan saya ceritakan dengan gamblang dan rasional. Yang terang, tahun kembar 2020, merupakan proses tampilnya Satrio Piningit yang kelak dijuluki Ratu Adil. Dia akan datang ke Puncak Tidar untuk menemui sekaligus mohon restu kepada Pamong Tanah Jawa dan Nusantara, yakni Eyang Semar Ismoyo Jati, atau yang juga dikenal dengan julukan Sabdo Palon,”kata Ki Ismoyo. Boleh percaya atau tidak. Itulah pesan para tokoh spiritual.

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry