
“Langkah ini tak hanya mengangkat KEK Singhasari sebagai pusat baru ekonomi digital nasional, tapi juga mengangkat harkat pendidikan Indonesia di panggung dunia. Dunia kini tak lagi memandang Jawa Timur sebagai daerah penyangga, tetapi sebagai poros baru inovasi global.”
Oleh Dr H ROMADLON, MM
TAKDIR pendidikan tinggi dunia tak lagi hanya ditulis dari Cambridge, Boston atau Tokyo, Jepang. Kini, dari Singhasari — tanah yang dahulu menjadi pusat spiritual dan strategi politik kerajaan Jawa— memulai babak baru. Kini hadir King’s College London, bukan sebagai penjajah intelektual, tetapi sebagai mitra sejajar dalam transformasi masa depan. Bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, ia telah melampaui batasan geografis dan mengajukan narasi baru: bahwa dari timur Indonesia, pemimpin digital dunia masa depan bisa dilahirkan, dibentuk, dan diberdayakan.
Strategi Penguatan SDM Global
Di tanah tempat raja-raja dahulu membangun pusat kekuasaan dan spiritualitas, kini ilmu pengetahuan didudukkan di singgasana tertingginya. Singhasari—yang dalam sejarah pernah menjadi episentrum kekuatan politik dan kebudayaan Jawa—kini kembali mengambil peran strategis. Bukan lagi dengan pedang dan panji, melainkan dengan gagasan, inovasi, dan kolaborasi global. Di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, tanah ini tidak hanya membangkitkan kejayaan masa lalu, tetapi memproyeksikan masa depan sumber daya manusia Indonesia yang kompetitif secara global.
Strategi pembangunan SDM yang digagas Khofifah bukan sekadar adaptasi terhadap revolusi industri 4.0 atau era society 5.0. Ia melampaui itu: memadukan antara teknologi dan nilai-nilai budaya, mengintegrasikan antara kecanggihan artificial intelligence dengan kearifan lokal, serta menyelaraskan antara literasi digital dan spiritualitas yang membumi.
Pendidikan bukan hanya transmisi pengetahuan, melainkan transformasi manusia—dan dalam kerangka itulah SDM Jawa Timur diarahkan: menjadi talenta unggul, berkarakter kuat, serta mampu bersaing dan berkolaborasi di panggung global.
Dengan menghadirkan King’s College London di tanah Jawa, Khofifah menyusun langkah strategis, konkret: menjadikan Jawa Timur sebagai laboratorium hidup pendidikan masa depan. Dari Singhasari ke dunia, ia menanam fondasi bagi “ekosistem talenta global dari Timur” yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki daya tahan moral dan semangat kebangsaan. Ilmu tak lagi hanya menjadi milik menara gading di belahan barat, tetapi kini bertakhta di tanah para raja— mengukuhkan posisi Jawa Timur sebagai ‘jantung’ baru peradaban digital dan kemanusiaan global.
Dari Ketidakpercayaan Menjadi Takjub
Ketika Khofifah Indar Parawansa menyampaikan niatnya untuk menggandeng King’s College London—salah satu universitas terbaik dan paling bergengsi di dunia—banyak pihak yang mengernyitkan dahi. Bahkan tokoh-tokoh kunci, dari lingkaran Istana hingga Duta Besar Indonesia di London saat itu, nyaris tak ada yang sungguh percaya. “Serius ingin menggandeng King’s College? Lembaga akademik kelas dunia nomor satu itu?”—begitulah nada skeptis yang berhembus. Seolah mustahil bahwa dari Timur Indonesia, seorang gubernur bisa melangkah sejajar dengan lembaga global sekelas Ivy League Inggris.
Namun sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang berani menabrak batas skeptisisme. Khofifah tidak datang dengan keraguan, tetapi dengan visi yang jernih, strategi yang terukur, dan keyakinan bahwa peradaban besar hanya bisa dibangun dengan keberanian mengambil langkah-langkah luar biasa.
Ia menyiapkan segala sesuatunya dengan rapi—mulai dari konsep besar ekosistem SDM global dari timur, proposal strategis kolaborasi pendidikan, hingga pendekatan diplomasi budaya yang menyentuh akar kemanusiaan bersama. Dan hasilnya? Tak sekadar audiensi formal, tapi respons yang luar biasa antusias dari pihak King’s College London.
Pimpinan institusi pendidikan elite itu bukan hanya menerima kehadiran Khofifah, mereka menyambutnya sebagai mitra yang setara. Dengan apresiasi tinggi, mereka membuka pintu kerja sama untuk membangun program akademik langsung di Jawa Timur—tanah yang sebelumnya mungkin tidak pernah ada dalam peta strategis perguruan tinggi kelas dunia itu. Inilah momen ketika dunia menyaksikan: bahwa visi besar bisa lahir dari tanah Jawa, dan bahwa seorang pemimpin daerah bisa menjadi arsitek diplomasi intelektual global. Bukan dengan retorika, tetapi dengan langkah nyata yang mengubah peta pendidikan abad ke-21.
Jejak Raja, Jejak Ilmu, dan Jejak Masa Depan
Transformasi ini tidak hadir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa masa depan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kemegahan institusi klasik di Barat, tetapi harus membuka ruang bagi kearifan lokal, inovasi teknologi, dan keberanian untuk menulis ulang peta pengetahuan global. Di sinilah Khofifah Indar Parawansa mengambil posisi strategis, menjadikan Jawa Timur bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi pencipta arah baru dalam ekosistem digital pendidikan dunia.
Singhasari, yang dahulu menjadi titik tolak ekspedisi Pamalayu dan jejaring maritim Nusantara, kini berubah menjadi episentrum baru transformasi digital berbasis nilai-nilai timur. Kolaborasi dengan King’s College London menjadi simbol dari rekonsiliasi masa lalu dan masa depan—antara pusat dan pinggiran, antara tradisi dan disrupsi. Sebuah sinergi yang tidak hanya berorientasi pada pertukaran akademik, tetapi juga pada pembangunan peradaban: tempat di mana algoritma bertemu dengan aksara, dan AI berdampingan dengan etika.
Inisiatif ini bukan hanya soal teknologi atau infrastruktur, tetapi tentang bagaimana membangun manusia masa depan—digital native yang tetap berakar pada budaya, berdaya secara sosial, dan berdaya saing secara global. Dari desa-desa di kaki Gunung Arjuno hingga auditorium kampus King’s di London, mimpi itu kini sedang ditulis bersama. Inilah era baru dari timur dunia, ketika pendidikan tinggi tidak hanya mengejar gelar, tetapi mencetak arsitek peradaban.
Di tanah Singhasari—tempat raja-raja Jawa dahulu memahat kejayaan dengan kebijaksanaan dan strategi—sebuah kejadian bersejarah baru saja menggetarkan nadi Nusantara. Bukan karena panji perang atau kejayaan kerajaan, melainkan karena berdirinya sebuah institusi pendidikan global yang menjadi simbol kebangkitan baru: King’s College London, salah satu universitas terbaik dunia, resmi menanamkan ilmunya di jantung Jawa Timur.
Dulu, siapa pun yang menyebut kemungkinan kampus semegah KCL hadir di Indonesia, apalagi di luar Jakarta, mungkin dianggap sedang berandai-andai. Tapi sejarah tak digerakkan oleh para pemimpi, melainkan oleh mereka yang berani mewujudkan mimpi. Dan di balik terobosan ini, berdiri kokoh sosok pemimpin perempuan dengan pandangan jauh ke depan: Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, yang tak hanya ingin warganya belajar dari dunia, tapi menghadirkan dunia untuk belajar bersama Jawa Timur.
Bersama kerja keras, diplomasi lintas samudra, dan visi yang melampaui generasi, Khofifah menjadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari bukan sekadar kawasan bisnis digital, tetapi pusat kecemerlangan intelektual global. Ia tidak hanya membangun kampus, tapi menanam akar peradaban masa depan—tempat anak-anak muda Indonesia tidak sekadar bermimpi, tetapi benar-benar bersaing, bertumbuh, dan memimpin dunia digital dari tanah sendiri.
Dari Kerajaan Menjadi Kawah Candradimuka Digital
Ketika King’s College London resmi membuka program magister Digital Economy dan Digital Future di Singhasari pada Oktober 2024, itu bukan hanya peristiwa akademik. Itu adalah titik balik sejarah. Untuk pertama kalinya, sebuah universitas peringkat 40 dunia memutuskan membuka perkuliahan penuh (bukan hanya kelas jarak jauh atau kolaborasi singkat) di tanah Jawa. Bahkan, di luar metropolitan seperti Jakarta.
Langkah ini tak hanya mengangkat KEK Singhasari sebagai pusat baru ekonomi digital nasional, tapi juga mengangkat harkat pendidikan Indonesia di panggung dunia. Dunia kini tak lagi memandang Jawa Timur sebagai daerah penyangga, tetapi sebagai poros baru inovasi global.
Dan inilah misi utama Khofifah: transformasi dari pinggiran ke pusat, dari pengguna ke pencipta, dari tertinggal ke terdepan.
Strategi “Cangkok SDM Dunia
Dalam dunia yang bergerak cepat, keberanian untuk bertindak lebih bernilai daripada sekadar retorika. Saat banyak pemerintah daerah masih sibuk menyusun rencana pendidikan, Khofifah sudah menanam benih nyata: menghadirkan kelas dunia ke depan pintu rumah anak-anak Jawa Timur.
Melalui kerja diplomatik lintas negara, ia berhasil meyakinkan King’s College London bahwa Jawa Timur layak menjadi titik pijak peradaban digital baru. Bukan sekadar mendirikan kampus, tapi membangun ekosistem: dari beasiswa LPDP yang diarahkan khusus untuk KCL di Singhasari, hingga penyiapan asrama, kurikulum relevan, dan jejaring industri global.
Dan semua itu lahir dari kesadaran bahwa bonus demografi tanpa kualitas hanya akan menjadi beban. Maka Khofifah bertaruh besar, tidak hanya pada investasi fisik, tapi pada kecerdasan manusia dan martabat generasi.
Singhasari sebagai Generator Kepakaran Masa Depan
King’s College London tak datang dengan tangan kosong. Setelah Digital Economy dan Digital Future berjalan sukses, kini tiga program baru disiapkan: Digital Law, Cyber Security, dan Psychology. Bidang-bidang ini bukan hanya tren, tapi kebutuhan mendesak dunia digital yang sarat etika dan keamanan.
Dalam era pasca-pandemi dan ledakan kecerdasan buatan, peran psikologi digital, keamanan data, dan hukum siber menjadi poros utama peradaban. Maka Singhasari tak hanya menjadi kampus, tapi generator kepakaran masa depan Indonesia dan dunia.
Dan seperti yang dikatakan Prof. ‘Funmi Olonisakin dari KCL: “Kami ingin menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijak.”Maka hadirnya King’s di Singhasari bukan sekadar transfer ilmu, tapi penanaman nilai.
Penutup: Dari Tanah Raja Menuju Cahaya Dunia
Apa yang dibangun Khofifah di Singhasari bukan hanya untuk hari ini. Ia adalah investasi lintas generasi. Di balik gedung-gedung kampus itu, tersimpan cita-cita agar anak-anak Malang, Bojonegoro, Jember, hingga Sumenep, punya akses yang sama dengan anak-anak di London atau New York—tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Inilah bentuk baru nasionalisme: berani membawa standar global ke dalam negeri, bukan sekadar membanggakan peninggalan masa lalu. Singhasari kembali bersinar. Bukan lewat pedang atau mahkota, tapi lewat ilmu, karakter, dan visi.
Dan, kelak, dunia menoleh dan bertanya, “Dari mana lahir pemimpin digital Asia?” Maka jawabannya akan terdengar jelas: Dari Jawa Timur, Singhasari—tempat peradaban ditanam dan masa depan dipanen. (*)
*Dr H ROMADLON, MM adalah Pemerhati dan Pemberdaya SDM Insan Kamila Nusantara.





































