
“Muncul sebuah pertanyaan sederhana, bagaimana jika seluruh tanah milik pesantren dikelola dengan konsep Green Pesantren?”
Oleh Fahmi Arif, Mantan Anggota Pramuka Saka Wanabakti, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
KETIKA dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap tanggal 5 Juni, pesantren sesungguhnya memiliki banyak kisah yang layak diceritakan. Tahun 2026, peringatan ini mengangkat kampanye global #NowForClimate atau #SekarangUntukIklim, sebuah seruan agar semua pihak mengambil tindakan nyata menghadapi perubahan iklim. Bagi pesantren, seruan tersebut bukanlah sesuatu yang asing. Dalam banyak tradisi pesantren, merawat bumi adalah bagian dari merawat amanah Allah.
Dalam berbagai forum pengajian, para santri mengenal ajaran bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Mereka juga mempelajari pentingnya menjaga kemaslahatan dan menghindari kerusakan. Gagasan itu bahkan mendapatkan penjelasan yang lebih khusus dalam kitab Fiqh al-Bi’ah dan Ri’ayah al-Bi’ah fi Syari’ah al-Islam karya Yusuf al-Qaradawi. Melalui karya-karya tersebut, lingkungan hidup tidak dipandang sebagai isu modern yang datang dari luar tradisi Islam, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang harus dijaga bersama.
Belajar dari Ath-Thaariq dan Nurul Haramain
Beberapa tahun lalu, ketika berkunjung ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut, kesan yang muncul bukanlah suasana pesantren yang dipenuhi bangunan beton. Yang terlihat justru hamparan kebun, tanaman pangan, bibit-bibit yang tumbuh rapi, dan santri yang akrab dengan tanah. Di sana, belajar agama dan belajar membaca alam berjalan beriringan.
Para santri tidak hanya berbicara tentang fikih dan tafsir. Mereka juga berdiskusi tentang kesuburan tanah, keberagaman benih lokal, siklus air, dan cara bertani yang tidak merusak lingkungan. Agroekologi bukan sekadar teori, tetapi menjadi praktik sehari-hari. Tanah diperlakukan sebagai sahabat yang harus dirawat, bukan sekadar objek produksi yang bisa dieksploitasi tanpa batas.
Pengalaman yang tidak kalah menarik dapat ditemukan di Pesantren Nurul Haramain Narmada Lombok Barat. Ketika memasuki kawasan pesantren ini, orang akan mendengar banyak cerita tentang pohon. Pohon yang ditanam santri. Pohon yang dibagikan kepada masyarakat. Pohon yang tumbuh kembali di lahan-lahan yang sebelumnya gersang.
Di balik cerita itu ada sosok TGH. Hasanain Juaini yang selama bertahun-tahun menggerakkan santri dan masyarakat untuk melakukan penghijauan. Bagi beliau, menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan, tetapi bagian dari dakwah. Pohon dipahami sebagai sedekah yang manfaatnya terus mengalir kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.
Jejak gerakan tersebut dapat dilihat pada kawasan-kawasan yang kini kembali hijau. Apa yang dilakukan Nurul Haramain akhirnya mendapatkan pengakuan luas melalui Kalpataru dan Ramon Magsaysay Award. Namun bagi masyarakat sekitar, penghargaan yang paling nyata adalah hadirnya kembali sumber-sumber air, udara yang lebih sejuk, dan lingkungan yang lebih lestari.
Ath-Thaariq dan Nurul Haramain menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi ruang di mana agama, pendidikan, dan ekologi bertemu dalam praktik yang nyata. Di tempat-tempat seperti itulah kampanye #SekarangUntukIklim menemukan maknanya yang paling konkret.
Ketika Negara Hadir untuk Green Pesantren
Dalam perjalanan mengunjungi berbagai pesantren, ada satu kenyataan yang selalu menarik perhatian. Hampir semua pesantren memiliki lahan. Ada yang berupa tanah wakaf peninggalan para dermawan, ada yang diperoleh dari swadaya masyarakat, dan ada pula yang berkembang melalui usaha pesantren sendiri. Sebagian lahan sudah produktif, tetapi tidak sedikit yang masih belum dikelola secara optimal.
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan sederhana, bagaimana jika seluruh tanah yang dimiliki pesantren di Indonesia dikelola dengan konsep Green Pesantren?
Bayangkan ribuan hektare tanah pesantren ditanami pohon produktif, dikelola sebagai kawasan agroforestri, dijadikan hutan wakaf, kebun pangan, sentra pembibitan, atau kawasan konservasi sumber air. Bayangkan jutaan santri belajar langsung tentang pertanian berkelanjutan, pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan konservasi lingkungan. Dari pesantren akan lahir bukan hanya ahli agama, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran ekologis yang kuat.
Namun, pengalaman lapangan juga menunjukkan bahwa pesantren tidak dapat berjalan sendirian. Banyak pesantren memiliki semangat besar tetapi menghadapi keterbatasan bibit, akses teknologi, pendampingan, maupun permodalan. Karena itu, gerakan Green Pesantren memerlukan kehadiran negara.
Kehadiran negara dapat diwujudkan melalui bantuan penghijauan pesantren, pengembangan hutan wakaf, konservasi mata air, pelatihan agroekologi, pertanian organik, energi terbarukan, hingga penguatan usaha hijau berbasis pesantren. Dukungan tersebut bukan sekadar bantuan program, tetapi bentuk pengakuan bahwa pesantren merupakan mitra strategis dalam menjaga lingkungan dan menghadapi perubahan iklim.
Bila gerakan ini dilakukan secara nasional, dampaknya akan sangat besar. Setiap pohon yang ditanam di lingkungan pesantren akan menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi karbon. Setiap kebun pesantren yang produktif akan memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Setiap santri yang belajar mencintai alam akan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya tentang peringatan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa bumi membutuhkan tindakan nyata. Di banyak sudut Indonesia, tindakan itu sesungguhnya telah dimulai dari pesantren-pesantren yang menanam pohon, menjaga mata air, mengolah sampah, dan mengajarkan bahwa mencintai alam adalah bagian dari mencintai Sang Pencipta.
Dari kebun-kebun santri, dari tanah-tanah wakaf yang ditanami harapan, dan dari tangan-tangan muda yang setiap hari belajar tentang ilmu dan kehidupan, tumbuh sebuah optimisme bahwa pesantren dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menghadapi krisis iklim. Ketika pesantren bergerak, ketika masyarakat terlibat, dan ketika negara hadir memberikan dukungan, maka semangat #NowForClimate atau #SekarangUntukIklim tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma menjadi gerakan nyata yang meneduhkan bumi dan menjaga masa depan generasi mendatang.(*)




































