“Pertemuan yang bermakna adalah pertemuan yang mampu memanusiakan setiap individu di dalamnya. Baik dalam balutan buka bersama maupun Halalbihalal.”
Oleh Astatik Bestari*

BUDAYA berkumpul masyarakat kita saat bulan Ramadan dan Idulfitri adalah fenomena yang unik. Dua agenda besar yang selalu memenuhi kalender sosial adalah buka bersama (Bukber) dan Halalbihalal.

Secara sekilas, keduanya memiliki tujuan yang sama: menyambung silaturahmi. Namun, jika kita bedah lebih dalam melalui kacamata efektivitas komunikasi, muncul sebuah pertanyaan reflektif. Manakah di antara keduanya yang benar-benar berhasil membangun kedekatan antar-manusia?

Sering kali, kita terjebak dalam acara-acara yang padat secara administratif namun kosong secara substansif. Halalbihalal, yang secara tradisi dianggap sebagai ajang saling memaafkan, belakangan ini cenderung berubah menjadi kegiatan seremonial yang kaku. Kita datang, duduk di barisan kursi yang diatur rapi, lalu mendengarkan serangkaian sambutan yang panjang. Mulai dari ketua panitia, perwakilan tuan rumah, hingga tokoh yang dituakan.

Bahkan kadang-kadang dalam Halalbihalal, tempat pertemuan disiapkan sedemikian rupa berdasarkan kelas sosial. Hal ini berdampak kurang adanya hubungan persaudaraan atau persahabatan yang lebih erat dan harmonis.

Masalah utama dari protokol yang kaku ini adalah terbatasnya ruang gerak untuk berinteraksi secara personal. Waktu habis untuk agenda formal. Ketika acara inti selesai, banyak peserta yang sudah merasa lelah atau harus segera bergeser ke agenda lain.

Alhasil, niat awal untuk bertanya kabar, mendalami perubahan hidup kerabat, atau sekadar bertukar tawa secara santai hanya berakhir pada jabat tangan singkat dan ucapan maaf yang terasa mekanis. Kita hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir secara batin.

Berbeda halnya dengan buka bersama. Secara struktural, Bukber biasanya lebih cair. Tidak ada podium, tidak ada pengeras suara yang digunakan untuk pidato panjang, dan tidak ada protokoler yang mengatur siapa harus bicara kapan.

Keadaan tersebut justru menciptakan atmosfer yang egaliter. Semua orang duduk di level yang sama, menghadapi hidangan yang sama, dan memiliki kesempatan yang sama untuk memulai percakapan.

Dalam suasana Bukber, interaksi mengalir secara natural. Sambil menunggu azan Magrib, percakapan mengenai pekerjaan, pendidikan anak, hingga hobi baru bisa mengalir tanpa interupsi. Kelekatan justru lahir dari sela-sela aktivitas sederhana, seperti saat saling mengoper piring atau menuangkan air minum. Di sinilah letak kekuatan Bukber. Bukber memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri tanpa perlu dibatasi oleh sekat-sekat formalitas.

Lebih jauh lagi, aspek spiritualitas dalam Bukber tetap terjaga dengan cara yang sangat organik. Salat Magrib, Isya, dan Tarawih berjamaah yang dilakukan bersama sahabat atau kerabat memberikan dimensi religius yang kuat. Ibadah ini dilakukan sebagai bagian dari aktivitas yang menyatu, bukan sekadar pelengkap acara. Ada rasa kebersamaan yang nyata saat kita berdiri dalam satu saf dengan orang-orang yang sudah lama tidak kita temui. Kedekatan spiritual ini sering kali lebih membekas daripada ceramah formal dalam sebuah halal bihalal.

Jika kita bicara tentang esensi, bukankah tujuan silaturahmi adalah untuk mengenal kembali satu sama lain? Kata “silaturahmi” sendiri berarti menyambung tali kasih sayang. Kasih sayang sulit tumbuh di atas tanah yang kering akan komunikasi dua arah.

Dalam halal bihalal yang terlalu formal, komunikasi berlangsung searah, dari pembicara di depan kepada audiens. Sedangkan dalam bukber, komunikasi berlangsung segala arah.

Fenomena ini menjadi bahan renungan tentang cara kita mengatur pertemuan sosial. Ada sebuah kecenderungan di mana kita lebih mementingkan tampilan luar daripada kualitas interaksi. Padahal, hubungan yang mendalam tidak tumbuh dari teks pidato yang dibacakan, melainkan dari ruang untuk mendengar dan bercerita.

Tanpa disadari, banyak orang pulang dari acara Halalbihalal dengan perasaan hampa karena belum sempat mengobrol secara mendalam dengan orang yang ingin mereka temui. Sebaliknya, buka bersama sering kali meninggalkan kesan yang lebih lekat karena setiap orang merasa “didengar” dan “melihat” kondisi sahabatnya secara langsung.

Pergeseran fokus dari sekadar kehadiran fisik menuju kualitas pertemuan adalah hal yang menarik untuk dicermati. Kesederhanaan dalam pengaturan acara justru sering kali membawa makna yang lebih luas dalam hubungan manusia. Esensi dari maaf dan kasih sayang nyatanya tidak selalu terletak pada jabat tangan yang disaksikan banyak orang di atas panggung, melainkan pada tatapan mata dan obrolan tulus di meja makan.

Pertemuan yang bermakna adalah pertemuan yang mampu memanusiakan setiap individu di dalamnya. Baik dalam balutan buka bersama maupun Halalbihalal, kesempatan untuk menyapa secara personal tetap menjadi inti yang paling dicari. Menghargai waktu pertemuan dengan memberikan ruang bagi komunikasi yang jujur jauh lebih bernilai daripada sekadar menuntaskan agenda seremonial yang melelahkan.
——

*Astatik Bestari adalah Ketua 2 Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (DPP ASTINA). Ketua Bidang Peningkatan Mutu PTK DPW FK-PKBM Jatim. Anggota Dewan Pembina DPD Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional Jombang. Wakil Sekretaris 2 LP Ma’arif PCNU Jombang dan Pendiri Yayasan Bestari Indonesia.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry