
JAKARTA | duta.co – Kode keras! Prediksi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang mengungkap]calon yang berpotensi maju sebagai Ketua Umum (Ketum) PBNU menjadi ‘kode keras’ muktamar NU mendatang. “Saya melihat apa yang disampaikan Gus Ipul menjadi kode keras,” demikian kader NU di Jakarta kepada duta.co Minggu (10/5/26).
Gus Ipul memang telah menyebut Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dan sejarah Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang telah menjadi Ketum PBNU. Pria yang saat ini juga menjabat sebagai Menteri Sosial (Mensos) ini mengaku tak risau terkait siapa yang akan jadi penerus pemimpin organisasi warga nahdliyin.
“Salah satu yang berpotensi ya, kalau bicara itu salah satu yang berpotensi karena Pak Nasaruddin Umar juga pernah jadi Katib Aam sebelumnya. Gus Yahya dulu juga pernah jadi Katib Aam sebelumnya, Kiai Said kalau nggak salah sebelumnya juga pernah jadi Katib Aam,” kata Gus Ipul di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Menurut Gus Ipul, Nasaruddin Umar dinilai memiliki potensi karena rekam jejaknya di organisasi. Menteri Agama Nasaruddin Umar layak masuk dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 menjelang Muktamar ke-35 yang akan digelar pada Agustus 2026.
Gus Ipul menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada nama resmi yang diajukan. Pihaknya membuka ruang yang sama bagi seluruh kader NU untuk mencalonkan diri sesuai mekanisme organisasi. Nasaruddin sendiri terlihat aktif dalam ke-NU-an. “NU selalu punya cara sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Saya datang ke sini sebagai Wakil Rais Syuriyah PBNU dan mudah-mudahan keputusan ini bisa menjadi solusi yang terbaik,” ujar Nasaruddin saat menghadiri pleno Syuriyah PBNU.
Sosok Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
Ialah Imam Besar Masjid Istiqlal yang didapuk Presiden Prabowo Subianto menjadi Menteri Agama. Ia juga mantan Wakil Menteri Agama di Kabinet Indonesia Bersatu ini dilantik sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Merah Putih periode 2024-2029 di Istana Merdeka, Jakarta pada 21 Oktober 2024.

Menurut Prof Dr H Munawir K, SAg, MAg sosok Nasaruddin Umar adalah figur lengkap dan tahan banting. “Fenomena derasnya arus zaman, di tengah gelombang pertentangan yang tak henti-hentinya menghantam sendi kehidupan, lahirlah sosok yang menghadirkan kesejukan di tengah panasnya perdebatan dan perbedaan. Bagai embun yang menetes perlahan di padang gersang, ia datang membawa pesan damai, menyulam harmoni di antara perbedaan, dan merajut kasih sayang dalam setiap helaan napas perjuangannya,” begitu ia menggambarkan.
“Dialah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, seorang ulama yang tak hanya memahami Islam dalam teks, tetapi menghidupkannya dalam realitas konkrit. Ia terlahir di tanah Bugis, di bawah langit Sulawesi yang memancarkan semangat perjuangan, ia tumbuh dalam pelukan ilmu dan adab. Sejak belia, ia telah meniti jalan panjang, menapaki tangga-tangga hikmah dengan penuh keikhlasan dan ketekunan,” tegasnya.
Menurutnya (Nasaruddin), Islam bukan sekadar ajaran yang dihafal, bukan sekadar hukum yang diterapkan dengan kaku, tetapi cahaya yang menerangi akal, jiwa dan hati. Baginya, membaca Al-Qur’an bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hatinya yang penuh cinta. Ia menghafal hadits bukan hanya dengan ingatan, tetapi dengan amal dan tindakan.
“Kesungguhannya dalam mendalami agama membawanya menyusuri lorong-lorong ilmu dari pelosok pesantren hingga puncak akademik di berbagai penjuru dunia. Dari Pesantren As’adiyah Sengkang, tempat ia pertama kali merasakan manisnya ilmu, hingga universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika, ia terus menggali pemahaman yang lebih dalam tentang Islam dan berbagai agama-agama lain,” tulisnya.
Dalam pemahannya, katanya, bahwa Islam bukan agama yang eksklusif, bukan ajaran yang menutup diri dari peradaban lain, tetapi agama yang membawa rahmat bagi semesta alam. “Menurutnya, Islam adalah lentera yang menuntun manusia menuju kebaikan dengan kelembutan, bukan dengan pemaksaan kehendak. Beliau menolak dakwah yang penuh amarah, menepis fatwa-fatwa yang lahir dari kebencian, dan menentang ajaran yang menghalalkan permusuhan. Seperti Rasulullah SAW. yang selalu mengulurkan tangan persahabatan bahkan kepada mereka yang memusuhinya, Nasaruddin Umar menghadirkan wajah Islam yang penuh kasih sayang dan kelemah lembutan,” tambahnya.
Dalam situasi dunia yang semakin terpecah oleh sekat-sekat perbedaan, lanjutnya, ia hadir sebagai jembatan. Ia menyatukan yang tercerai, mempertemukan yang berselisih, dan mendamaikan konflik yang berbenturan. “Dalam posisinya sebagai ulama yang teguh dalam prinsip wasathiyah (moderasi), ia mengajarkan bahwa Islam bukan tentang siapa yang paling keras berteriak, tetapi tentang siapa yang paling tulus mengasihi dan menyayangi,” lanjutnya.
Dakwahnya bukan dengan nada tinggi, tegasnya, bukan dengan retorika penuh ancaman, tetapi dengan kelembutan yang menyejukkan jiwa. “Saat dunia Islam dirundung badai ekstremisme dan fanatisme buta, ia memilih jalan berbeda. Ia tidak tergoda untuk membalas kebencian dengan kebencian, tetapi menjawabnya dengan pemahaman yang dalam dan kasih sayang yang luas serta merata. Menurutnya, Islam bukan hanya tentang benar dan salah, tetapi tentang bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang indah,” urainya.
Nasaruddin, tegas Prof Dr H Munawir, sangat memahami bahwa kebenaran yang disampaikan dengan kasar hanya akan menimbulkan perlawanan, sedangkan kebenaran yang disampaikan dengan kelembutan akan mengetuk hati yang paling keras sekalipun. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, ia menjadikan rumah ibadah terbesar di Indonesia itu sebagai simbol persatuan, tempat di mana setiap orang dapat merasakan kesejukan Islam yang sesungguhnya.
“Di sana, ia membuka pintu bagi siapa saja, muslim maupun non-muslim, ulama maupun akademisi, politisi maupun rakyat jelata, untuk berdialog, mencari titik temu, dan membangun harmoni. Sebagai ulama universalis, ia tidak mengenal batas-batas yang memisahkan manusia. Ia menjelajah dunia untuk menyampaikan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, dari ruang-ruang akademik hingga forum-forum internasional,” tambahnya.
Prof Dr H Munawir melihat ia sebagai cerminan dari sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam setiap langkahnya, ia membawa kelembutan itu, melembutkan hati yang keras, menyatukan yang tercerai, dan menyejukkan yang panas.
“Di saat dunia terjebak dalam polarisasi, di saat manusia lebih suka mencari musuh daripada sahabat, Nasaruddin Umar datang sebagai pelita yang menerangi jalan. Ia membuktikan bahwa menjadi muslim yang taat tidak berarti harus menjadi keras, bahwa menjadi penjaga akidah tidak berarti harus menjadi kaku, dan bahwa menjadi ulama tidak berarti harus berdiri di menara gading tanpa menyentuh realitas,” tegasnya.
Cahaya dan Sinarnya Takkan Redup oleh Tuduhan
Di tengah gemerlap keberhasilan, selalu ada bayangan yang mencoba meredupkan sinarnya. Di saat seseorang menapaki tangga prestasi, selalu ada angin fitnah yang berusaha menggoyahkan pijakannya. Namun, seperti halnya matahari yang tetap menyinari meski awan hitam mencoba menutupinya, kebenaran takkan pudar hanya karena tuduhan.
“Inilah Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA, seorang ulama yang telah mengabdikan dirinya bagi Islam dan kemanusiaan, seorang pemimpin yang mengulurkan tangannya bagi persatuan dan keharmonisan, seorang cendekiawan yang membawa Islam ke panggung keagungan dengan kebijaksanaan dan ketulusan. Ketika dunia mengakui prestasinya, ketika kerja kerasnya membuahkan apresiasi sebagai menteri paling berkinerja terbaik, justru segelintir suara sumbang mencoba mengecilkan namanya. Mereka menuduhnya sebagai “kaki tangan Yahudi,” sebagai “antek musuh Islam,” seolah keberhasilannya adalah sebuah kejahatan yang harus dicurigai, bukan prestasi yang patut dibanggakan,” katanya heran.
Keberhasilan yang Selalu Diuji oleh Fitnah?
Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa semakin tinggi seseorang melangkah, semakin kencang pula angin yang berusaha menjatuhkannya. Nabi Muhammad SAW. manusia paling mulia, bahkan dituduh sebagai tukang sihir dan pemecah belah masyarakat, padahal beliau adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Imam Syafi’i, seorang mujtahid besar, dituduh sebagai pengkhianat karena pandangan-pandangannya yang moderat dan rasional. Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, difitnah sebagai perusak tatanan keilmuan karena pemikirannya yang begitu dalam. Begitulah hukum alam. Orang-orang besar akan selalu menjadi sasaran tuduhan, bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena ada yang merasa terguncang oleh cahaya kebenaran yang mereka bawa.
“Nasaruddin Umar bukanlah pengecualian. Keberhasilannya dalam membangun Islam yang damai, moderat, dan berwibawa, justru membuatnya menjadi target bagi mereka yang menginginkan perpecahan. Jika seseorang ingin menilai Nasaruddin Umar, jangan lihat dari bisikan fitnah, tetapi lihatlah dari jejak karyanya,” tegas Prof Dr H Munawir. (mky dan www.uin-alauddin.ac.id)




































