PRODUKSI: Anik Retnowati memperlihatkan aneka hijab dan baju muslim produksinya. (duta.co/wiwik)

SURABAYA | duta.co  – Menabung dan berbagi, dua pengertian dan kegiatan yang berbeda dan berlawanan. Menabung berarti menyimpan sesuatu, sementara berbagi membagikan atau mengeluarkan sesuatu yang dimiliki.

Namun dua kegiatan yang berbeda itu justru menjadi penguat dan modal utama sekaligus kunci sukses Anik Retnowati dan suaminya Danar Dono mengembangkan Hijab Keinarra eksis dan bangkit dari keterpurukan.

Anik Retnowati didamingi suaminya Danar Dono mengisahkan perjalanan usaha hijab yang dirintisnya serta bagaimana mengelola manajemen keuangan sehingga tetap eksis dan kini makin berkembang. Bagi Anik, menabung salah satu kunci kelancaran usaha Hijab Keinarra selain berbagi.

“Untuk operasional dan kegiatan usahanya, saya punya sekitar 8 no rekening bank, konvensional dan syariah. Seperti BNI, BCA, BRI dan produk Tabunganku dari BCA. Kenapa punya banyak account bank untuk memudahkan transaksi kastamer yang jumlahnya bisa ribuan baik grosir dan ritel,” jelasnya dalam perbincangan di rumah produksinya sekaligus ruang pamer di Kendangsari gg XIV No 15 Surabaya.

Bagi Anik selain untuk memudahkan kastamer, sebelum memilih perbankan juga tidak lupa memilih bank yang ikut program LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).  Meski mengaku tidak terlalu paham soal LPS, Anik berkeyakinan dengan memilih bank yang ada tanda LPS pasti dijamin dan sesuai regulasi yang ditetapkan pemerintah.

“Pengelolaan keuangan menjadi konsen yang  sangat diperhatikan. Karena disinilah, pokok utama dari proses berlangsungnya usaha dan kegiatan ekonomi lainnya. Misalnya bagaimana bisa mengerem pembelian kain untuk produksi hijab agar tidak menyebaban ketimpangan neraca keuangan. Untuk produk Tabunganku BCA, khsusus untuk investasi, asuransi pendidikan anak dan kebutuhan tidak trduga lainnya. Karena Tabunganku aa limitasi pengambilan, tidak seperti produk tabungan lainnya, ” jelas Anik yang mengaku terus belajar mengelola manajemen keuangan dua usaha yakni Hijab Keinarra dan jualan segonyimutsurabaya.com.

KONSISTEN : Anik Retnowati konsisten dengan produksi hijab untuk segmen menengah atas (duta.co/wiwik)

Memisah Keuangan Dua Perusahaan

Anik menegaskan membedakan arus kas dari  transaksi dua usaha yang sama-sama dijalankan bersama suaminya. Namun demikian, untuk lebih maksimal dalam pengelolaan dan pengawasan, Anik dan suaminya berbagi peran dalam pengelolaan dari dua usaha tersebut. Untuk Hijab Keinarra pimpinannya diserahkan kepada suaminya, sementara untuk jualan nasi online dikelolanya sendiri.

“Jadi untuk pengelolaan Hijab Keinarra sepenuhnya dipegang suami termasuk pengawasan keuangan dan memiliki account sendiri. Demikian juga dengan arus transksaksi jualan nasi online berbeda sehingga mudah diketahui kalau ada masalah yang harus dibenahi  termasuk keuntungan yang didapatnya,” tegas Anik.

Atas pertimbangan itulah, kenapa Anik dan suami memiliki banyak account yang memang dibutuhkan karena transaksi harian dari dua usaha yang dikendalikannya sangat tinggi. Baik Hijab Keinarra ataupun jualan nasi online melayani ritel dan grosir.

“Dengan pengelolaan keuangan yang terkendali, optimistis bakal bisa bersaing dan menjadi pemenang dtengah ketatnya persaingan bisnis hijab dan jualan nasi bungkus online. Satu trik dalam jual bisnis online, tidak boleh mudah percaya dengan pembeli. Untuk proteksi keuangan, setiap transfer dari pembeli dilakukan verifikasi  berlapis. Tidak hanya percaya dengan struk yang dikirimkan pembeli, melainkan juga di chek di internet banking yang dimiliki. Kalau sudah pasti ada dana masuk, baru barang dikirim ” jelas Anik.


AWASI : Anik Retnowati mengawasi langsung proses produksi Hijab Keinarra. (duta.co/wiwik)

Ikut Program Shopping Charity Rumah Zakat

Satu konsep berani yang perlu dtiru selain menabung yakni berbagi. Meski usahanya belum besar, Anik dan suaminya memutuskan untuk ikut program Shopping Charity  yang dikelola Rumah Zakat. Yakni setiap transaksi penjualan Hijab Keinarra disisihkan Rp 1.000,- untuk donasi.

“Saya sadar betul, diantara keberhasilannya salah satunya bantuan peralatan jahit dan modal dari Rumah Zakat selain pastinya kehendak Allah. Karenanya sejak November 2017 Hijab Keinarra ikut program shopping charity. Kalau dulu jadi penerima modal, sudah saatnya menjadi muzakki yakni menjai penyumbang biar makin banyak UKM dan usaha kecil lain yang terbantu,” jelas Anik.

Dan Alhamdulillah jelas Anik meski diawal ikut program shopping charity jumlahnya sedikit, justru menjadi tantangan bagi Anik dan suaminya untuk bisa memacu transaksi sehingga bisa menyerahkan donasi dalam jumlah besar.

“Semangat inilah yang menjadi pelecut dan pemacu semangat untuk menggenjot kinerja Hijab Keinarra dan jualan nasi online. Malu juga kalau nyerahkan donasi tetapi jumlahnya kecil. Puncaknya pada bulan Ramadan lalu, omset Hijab Keinarra melambung tinggi dan pastinya berpengaruh juga pada donasi yang diberikan kepada Rumah Zakat,” jelas Anik.

Soal target omset Hijab Keinarra, Anik dan suaminya mematok omset bisa menjual 2.000 piece per bulan dan keuntungan Rp 10 juta per bulan. Selain hijab, Hijab Keinarra juga memproduksi  aneka baju muslim. Dan Alhamdulillah, ada pembeli dari Pekalongan yang rutin order dalam jumlah besar.

“Untuk berbagi  dan menjadi donatur tidak perlu menunggu usaha besar justru sebaliknya. Ketika usaha masih kecil menjadi pemacu untuk menjadikan usaha menjadi lebih besar dan tentunya donasinya juga besar,” tegas Anik.

Jualan Nasi Bungkus Online

Sementara untuk jualan nasi online yang dikelolanya, Anik mengaku awalnya untuk sampingan sekaligus pendukung usaha Hijab Keinarra. Tujuannya agar cash flow HIjab Keinarra tidak terganggu, melainkan diambilkan dari hasil jualan nasi bungkus online yang dibaderol Rp 7000,- per bungkus.

“Tidak disangka pelan namun pasti, jualan nasi bungkus online mampu menjadi penyelamat cash flow harian. Dalam seminggu mampu menjual  sampai 1.000 bungkus. Ada yang dikonsumsi sendiri, ada yang dijual kembali dan tidak banyak yang dibagikan kepada jemaah jumat. Makin banyak pembeli yang mempercayakan kepada segonyimutsurabaya.com,” ujar Anik.

Untuk terus mengembangkan Hijab Keinarra dan jualanan nasi bungkus online Anik dan suamnya sepakat untuk menata manajemen SDM, menyiapkan diri  untuk lebih banyak ikut pameran dan pelatihan serta forecast dan budgeting sehingga lebih teratur, tertata dan tidak mudah goyah meski menghadapi persaingan di era terbuka seperti ini.

Anik mengisahkan usaha Hijab Keinarra mulai dirintis tahun 2013 lalu berbekal keyakinan bersama suaminya memberanikan diri mendirikan usaha produsen Hijab. Tujuanya selain buka usaha yang bisa dilakukan dari rumah juga dengan harapan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

Usaha yang dirintis Anik Retnowati, perempuan asli Nganjuk 2 Maret 1984 ini bermula dari ketertarikan melihat hijab yang dikenakan  teman-teman akhwat dari Malaysia tampil sederhana tetapi tetap terlihat elegan (anggun).

Dari sini otak bisnisnya mulai berjalan bagaimana kalau diproduksi dan dipasarkan meski Anik mengaku tidak memiliki background sekolah tata busana dan menjahit. Yang lebih penting jelas Anik alasan yang terakhir bermimpi memiliki banyak waktu luang untuk bisa mewakafkan dirinya untuk umat disaat usahanya sudah auto pilot dan besar.

“Modalnya benar-benar nekad. Tidak punya bekal keahlian apapun tapi ingin menjadi produsen hijab yang persaingannya sangat ketat karena  berkaitan dengan trend yang harus update bila ingin bertahan dan sukses memenangkan persaingan,” jelasnya.

KEKINIAN : Anik Retnowati dengan produksi hijab yang kekinian sesuai trend (duta.co/wiwik)

Modal Bonek dan Belajar Otodiak

Di awal memulai usahanya, banyak sekali kendala diantaranya alpha tentang pengetahuan kain dan pernak pernik lainnya. Semua berangkat dari nol dan awam akan dunia usaha. Bermodalkan status sebagai karyawan Anik dan suaminya terlalu sombong untuk mengambil langkah fasilitas dana bank sebagai modal usaha dengan jaminan slip gaji tiap bulannya.

“Dan ini kesalahan yang menjadi pelajaran berharga bagi saya dan suami untuk tidak lagi masuk lubang yang sama karena buruknya pengelolaan manajemen keuangan dari perusahaan yang baru dirintisnya,” kenang Anik didampingi suaminya mengisahkan.

Setiap akhir pekan Anik dan suami habiskan waktu survey kain dan jasa jahit, ditipu penjahit dan gelap mata dalam membeli bahan baku menjadikan kisah perjalanan usahanya sekaligus pembelajaran. Dan pada akhir tahun 2015 Anik dan suami mulai fokus untuk bisa membesarkan usahanya dengan proses produksinya bertempat di kontrakan.

Anik mulai kursus menjahit Bersama adik ipar dan memulai menerima orderan meskipun jumlahnya masih belum banyak.  Meski sudah berjalan, usahanya masih bisa dibilang stagnan bahkan terancam karena cash flow dan pengeloaan manajemen keuangan yang tidak bagus ala Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tidak punya bekal sama sekali.

Disaat kondisi yang masih dibawah itulah, bertemu kembali dengan salah satu fasilitator dari Rumah Zakat. Diluar dugaan Rumah Zakat menawarkan bantuan berupa dana hibah, permodalan dan perlengkapan mesin jahit serta menghubungkan dengan komunitas bisnis yang memberinya upgrade ilmu bisnis.

Bersama komunitas bisnisnya akhirnya beliau memutuskan untuk fokus membangun brand Kafilah Hijab dan kini Keinarra sekaligus membenahi  SDM internal dan merajut jaringan di berbagai aspek dalam dunia bisnis.

Dikala usahana mulai menunjukkan hasil, awal tahun 2016 akhirnya suaminya resign dari perusahaan dan bertekad membesarkan brandnya bersama. Semua pesangon dari suami beliau gunakan untuk menutup utang yang sebelumnya dari dana bank yang beliau gunakan untuk merintis usaha di awal tahun 2013.

“Dengan resign suami, ini makin focus membesarkan brand Kafilah Hijab dan Keinarra meski dengan pertaruhan karena kini semua mengandalkan pendapatan dari usaha ini. Bismillah meski berat dan keputusan sudah diambil, saya dan suami siap dengan semua risikonya,” jelas Anik.

Merekrut Tim Marketing

Di tahun 2016 produksi sempat terkendala karena konsentrasi terpecah dan posisi masih belum memiliki tim lengkap (marketing).  Mulailah merekrut karyawan sebagai penjahit dan memproduksinya sendiri di kontrakan dengan kontrol langsung sehingga kualitas produksinya lebih baik. Dan di tahun 2016 mulai bergabung dengan instansi pemerintah sehingga memudahkan promo secara langsung dengan gratis.

Di awal tahun 2017 menempati kontrakan baru, menata ulang internal dan membenahi tim. Kontrakan baru menjadi rumah sekaligus workshop, ruang tamunya menjadi outlet dan salah satu kamarnya beliau jadikan ruang produksi.

Dua bulan pertama tahun 2017 omset meningkat 70%, tetapi bulan berikutnya turun karena terkendala  dengan hak paten brand Kafilah. HAKI  menolak merk yang sudah didaftarkan tahun 2014 menjadikan Anik dan suami harus membagi tenaga, waktu, pikiran dan biaya lagi.

“Semua atribut harus diubah dan otomatis banyak internal harus di tata ulang. Merek produk hijab yang awalnya Kafilah Hijab, dengan banyak proses akhirnya berganti nama Hijab Keinarra. Dan Alhamdulillah merek Keinarra justru menjadi momen sekaligus pijakan menapaki sukses,” jelasnya.

Meski awalnya jelas Anik yang paling sulit dalam revolusi merk adalah edukasi ulang para costumer yang sebelumnya sudah menjadi pelanggan tetap beliau. Selama ini beliau memasarkan produk beliau secara offline (pameran) dan online melalui media Web serta sosial media seperti Facebook, Instagram, Whats app.

“Segmen pasar Hijab Keinarra menengah atas. Karenanya perkembangan model, trend dan bahan yang digunakan harus detil sehingga sesuai dan diterima pasar. Alhamdulillah meski perlu belajar, sudah bisa sesuai bidikan pasar,” jelas Anik.

Jenis produk yang Hijab Keinarra hasilkan mayoritas adalah produk yang di design simple, praktis dan sederhana tetapi tetap terlihat elegan saat dikenakan. Belajar dari hasil coaching selama ini dengan target market tersebut, Hijab Keinarra memprioritaskan bahan baku yang premium dan kualitas jahit home made untuk bisa menghasilkan kepuasan pelanggan.

Produk hijab keinarra diantaranya adalah Kerudung segi empat, Kerudung Phasmina, Kerudung Phasmina Instan, Kerudung Instan Bergo, Inner Kerudung, niqab, Inner Celana, Gamis dengan beberapa model pilihan, Rok celana yang memudahkan para muslimah dalam beraktifitas (fasilitas untuk tidak menyerupai laki-laki) serta Bross dari sisa kain perca. (imam ghozali)

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.