“Kalau benar-benar ingin memperbaiki NU, jangan hanya sibuk melihat ke atas. Sekali-kali lihatlah ke bawah.”

Oleh: Makmur Idrus – Aktivis NU Sulawesi Selatan

SETIAP kali muncul persoalan di tubuh Nahdlatul Ulama, perhatian publik hampir selalu tertuju kepada PBNU. Siapa ketua umum, siapa yang masuk kepengurusan, siapa yang berbeda pandangan, siapa yang berkonflik, hingga siapa yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap keadaan organisasi.

Tidak salah memperhatikan PBNU. Sebagai struktur tertinggi organisasi, PBNU memang mempunyai tanggung jawab besar dalam menentukan arah kebijakan Nahdlatul Ulama secara nasional.

Namun pertanyaannya: apakah persoalan NU hanya berada di PBNU? Jawabannya tentu tidak.

NU adalah organisasi yang sangat besar. Struktur dan jamaahnya tersebar dari pusat sampai provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa dan kelurahan. Karena itu, apabila kita benar-benar ingin berbicara tentang perbaikan NU, maka pandangan kita tidak boleh berhenti di Jakarta ataupun Jawa.

Kita harus melihat kondisi NU secara utuh sampai ke daerah.

Kritik Harus Berangkat dari Data

Orang yang berada di luar struktur tentu mempunyai hak memberikan kritik. Bahkan kritik dari luar sering kali diperlukan agar organisasi memperoleh pandangan yang lebih objektif.

Tetapi kritik mempunyai kelemahan apabila tidak didukung data yang cukup.

Bagaimana kita bisa mengatakan sebuah organisasi gagal apabila kita tidak mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan? Bagaimana kita bisa menawarkan perubahan apabila kondisi PCNU di berbagai daerah saja belum dipetakan secara serius?

NU di Jawa tentu mempunyai karakter berbeda dengan NU di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua maupun Nusa Tenggara.

Ada PCNU yang mempunyai pesantren kuat. Ada yang mempunyai perguruan tinggi. Ada yang mempunyai aset besar. Ada pula yang bahkan belum mempunyai kantor representatif.

Ada cabang yang kaderisasinya berjalan baik, tetapi ekonominya lemah. Ada yang kegiatan keagamaannya hidup, tetapi administrasi organisasinya tertinggal. Ada pula yang mempunyai banyak pengurus, tetapi aktivitas organisasinya hanya terlihat menjelang konferensi.

Karena itu, membicarakan perbaikan NU tanpa memahami keadaan cabang sama seperti seorang dokter memberikan obat sebelum mengetahui penyakit pasien.

Masalahnya Bukan Berada di Dalam atau di Luar

Sering muncul anggapan bahwa memperbaiki NU harus berada di dalam struktur. Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa kritik justru lebih bebas apabila berada di luar struktur.

Menurut saya, persoalannya bukan di situ.

Berada di dalam struktur tidak otomatis membuat seseorang memahami seluruh persoalan organisasi. Sebaliknya, berada di luar organisasi juga tidak berarti kehilangan hak untuk memberikan gagasan.

Yang paling penting adalah apa yang kita tawarkan kepada NU.

Kritik yang hanya mengatakan seseorang tidak layak, pengurus tidak becus, atau kepemimpinan gagal, memang mudah disampaikan. Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih berat: Apa solusinya?

Kalau kita mengatakan PCNU tidak mandiri, bagaimana konsep kemandiriannya? Kalau kita mengatakan administrasinya buruk, bagaimana sistem pembenahannya?

Kalau kita mengatakan kaderisasi tidak berjalan, bagaimana model kaderisasi yang kita tawarkan?

Di sinilah kritik diuji.

NU Membutuhkan Peta Kondisi Cabang

Salah satu langkah yang menurut saya sangat penting adalah melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi PCNU.

PBNU seharusnya mempunyai gambaran yang jelas mengenai kondisi setiap cabang.

Berapa PCNU yang mempunyai kantor sendiri Berapa yang mempunyai sumber pendapatan organisasi? Berapa MWCNU yang benar-benar aktif? Berapa ranting yang rutin melakukan kegiatan? Bagaimana kondisi asetnya Bagaimana administrasinya?

Bagaimana perkembangan lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun sosial yang berada di bawah jaringan NU?

Data seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui siapa mendukung siapa ketika konferensi atau muktamar.

Jangan sampai pusat mengenal cabang dengan sangat baik ketika membutuhkan suara, tetapi kurang memahami persoalan cabang setelah proses pemilihan selesai.

Cabang Jangan Hidup dari Proposal

Persoalan lain yang perlu dibicarakan secara serius adalah kemandirian organisasi.

NU mempunyai jamaah yang sangat besar. Tetapi kebesaran jamaah tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan kelembagaan.

Masih terdapat organisasi yang aktivitasnya sangat tergantung pada bantuan pemerintah, hibah, proposal atau sumbangan insidental.

Dalam jangka panjang keadaan seperti ini tentu kurang sehat.

NU membutuhkan model ekonomi organisasi yang lebih mandiri.

PCNU dapat mengembangkan koperasi, usaha produktif, pengelolaan wakaf, klinik, lembaga pendidikan, pusat pelatihan, pengelolaan aset maupun berbagai kegiatan ekonomi yang sesuai dengan potensi daerah.

Tujuannya bukan menjadikan NU organisasi bisnis. Tujuannya adalah agar organisasi mempunyai kemampuan membiayai kegiatan dasarnya sendiri.

NU boleh besar karena jamaahnya, tetapi organisasinya harus kuat karena kemandiriannya.

Tata Kelola Juga Harus Diperbaiki

Sebagai organisasi besar, NU juga membutuhkan tata kelola yang semakin modern.

Administrasi harus tertib. Aset harus tercatat. Keuangan harus transparan. Program kerja harus mempunyai target. Kegiatan harus dievaluasi. Arsip organisasi harus tersimpan dengan baik. Teknologi informasi harus dimanfaatkan.

Tradisi pesantren dan kultur keulamaan tentu harus tetap menjadi ruh NU. Tetapi tradisi tidak bertentangan dengan tata kelola organisasi yang profesional.

Justru organisasi sebesar NU memerlukan sistem yang semakin kuat agar tidak terlalu bergantung kepada figur tertentu.

Jangan Jawa Sentris

NU lahir di Jawa dan basis terbesarnya memang berada di Jawa. Tetapi hari ini NU telah berkembang menjadi organisasi nasional.

Karena itu, kebijakan organisasi juga harus semakin sensitif terhadap kondisi daerah. Problem NU di Sulawesi belum tentu sama dengan Jawa Timur. Problem NU di Papua berbeda dengan Kalimantan. Problem NU di wilayah kepulauan juga berbeda dengan wilayah perkotaan.

Karena itu, pendekatan PBNU kepada daerah tidak dapat sepenuhnya menggunakan satu pola. PBNU perlu lebih banyak mendengar. Bukan hanya datang ketika pelantikan, konferensi atau kegiatan seremonial. Tetapi hadir untuk memahami persoalan organisasi yang sebenarnya.

Ukur Pengurus dari Hasil Kerja

Kita juga perlu mulai membangun budaya organisasi yang mengukur kepengurusan berdasarkan hasil.

Setiap periode seharusnya bisa dievaluasi secara sederhana. Apakah jumlah ranting aktif bertambah? Apakah kaderisasi berjalan? Apakah aset organisasi meningkat? Apakah kondisi keuangan semakin mandiri? Apakah lembaga pendidikan dan sosial berkembang? Apakah pelayanan kepada jamaah semakin baik?

Kalau ukuran-ukuran seperti ini dibuat, perdebatan organisasi akan menjadi lebih sehat.

Kita tidak lagi hanya berbicara tentang siapa ketua, siapa sekretaris atau siapa yang masuk struktur. Kita berbicara mengenai apa yang mereka kerjakan.

Dari Politik Jabatan Menuju Politik Pengabdian

NU terlalu besar apabila energinya hanya dihabiskan untuk membicarakan jabatan.

Pengurus datang dan pergi. Ketua berganti. Struktur berubah. Tetapi jamaah tetap membutuhkan pelayanan. Karena itu, diskursus perbaikan NU perlu bergeser. Dari politik jabatan menuju politik pengabdian. Dari perebutan posisi menuju perlombaan program. Dari perdebatan figur menuju perdebatan gagasan. Dari kritik berdasarkan persepsi menuju kritik berdasarkan data.

Dan dari organisasi yang terlalu bergantung kepada pusat menuju organisasi yang kuat sampai di tingkat cabang, MWCNU dan ranting.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah siapa yang memimpin NU, tetapi apa yang berubah setelah mereka memimpin.

Apakah PCNU semakin kuat? Apakah MWCNU semakin hidup? Apakah ranting semakin aktif? Apakah jamaah semakin merasakan manfaat keberadaan organisasi?

Karena wajah NU yang sebenarnya tidak hanya terlihat di kantor PBNU. Wajah NU yang sesungguhnya ada di pesantren, masjid, kampung, desa, kecamatan dan cabang tempat jutaan Nahdliyin menjalani kehidupan sehari-hari.

Maka kalau kita benar-benar ingin memperbaiki NU, jangan hanya sibuk melihat ke atas. Sekali-kali lihatlah ke bawah. Sebab di sanalah kekuatan NU yang sebenarnya berada.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry