COBA ALAT : Tim dari Belanda dan FK Unair mencoba alat untuk mendeteksi tekanan pada telapak kaki. DUTA/endang

Satu-satunya Alat yang Kini Dimiliki FK Unair/RSU dr Soetomo Surabaya

SURABAYA l duta.co – Penderita diabetes selalu mengalami masalah dengan kaki. Terutama karena tingginya tekanan pada kaki ketika berjalan.

Tingginya tekanan itu akibat berkurangnya kualitas saraf di kaki (neuropati). Sehingga kecenderungan penderita diabetes mengalami luka pada kaki akibat hal itu.

Data yang diungkap Prof Klaas Postema dari University of Medical Centre  Groningen, Belanda menyebutkan setiap tahun di berbagai negara rata-rata ada 2 persen pasien dengan diabetes timbul luka (ulkus) atau  7.420.000 ulkus setiap tahun.

Dari angka itu, tingkat kekambuhannya antara  30 persen hingga 40 persen pada tahun pertama dan 70 persen dalam lima tahun.

Dari jumlah ulkus itu, 15 persen akan menjadi osteomyelitis (infeksi dari luar tubuh). Dan 15 persennya berakhir dengan amputasi atau 166.95. Dan ironisnya, angka harapan hidup pasca amputasi antara satu hingga lima tahun. Sayangnya sampai kini angka di Indonesia diketahui secara pasti begitupun di Jawa Timur.

Namun kini, untuk meminimalisir kejadian ulkus pada penderita diabetes itu, sudah ada alat canggih bernama Padar. Alat ini bisa  mengukur tekanan kaki bagi pasien-pasien yang mengalami masalah dengan kaki termasuk pasien diabetes.

Alat itu disumbang Rotary Club Surabaya Selatan dan Rotary Club West Groningen Belanda. Alat itu kini berada di Departemen/SMF laboratorium Anallsis Gait dan Gerakan Departemen Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Rumah Sakit Umum Dr Soetomo/Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Dan alat seharga USD 24 ribu itu baru satu-satunya ada di Indonesia.

Kepala Departemen Rehabilitasi Medik FK Unair, Dr dr Sri Mardjiati  Mei Wulan  mengaku senangendapatkan alat ini. “Pasti sangat bermanfaat buat pasien,” ujarnya.

Alat ini nantinya akan mengukur tekanan kaki seseorang dengan memasukkan alat khusus ke dalam sepatu tepatnya di telapak kaki. Nantinya pasien akan disuruh berjalan hingga didapat data di komputer tekanan mana yang paling tinggi dari telapak kaki pasien. Indikatornya akan muncul  warna-warna tertentu misalnya bagian telapak kaki berwarna merah artinya tekanannya tinggi, sementara yang lain bisa berwarna putih, hitam, hijau, oranye dan biru.

“Biasanya tekanan yang paling tinggi itu rentan terjadi luka. Sehingga perlu untuk mengurangi tekanannya agar semua telapak kaki tekanannya sama dan seimbang. Tujuannya agar pasien bisa menghindari luka saat berjalan,” jelas dr Mei Wulan.

Dari hasil tes Padar itu, nantinya pasien bisa mendesain insole sepatu yang sesuai. Di bagian telapak yang tekanannya tinggi,  desain insolenya tekanan dikurangi begitupun sebaliknya.

“Sehingga tekanan kaki akan berimbang dan pasien bisa berjalan normal tanpa khawatir terluka. Dan insole ini bisa dipakai menggunakan sepatu jenis apapun asalkan insole diukur sesuai ukuran sepatu,” jelas dr Mei.

Alat ini ke depan akan  sangat membantu pasien. Karena selama ini dokter hanya menyarankan pasien untuk mengecek kondisi telapak kaki di sore hari usai seharian beraktivitas. Ketika ada bagian telapak kaki yang memerah maka pasien akan disarankan untuk mengurangi aktivitas.

“Dengan alat Padar ini pasien bisa beraktivitas seperti biasa menggunakan sepatu dengan insole khusus dan harus mengecek ulang kondisinya setiap dua minggu,” jelasnya.

Perwakilan dari Rotary Club Surabaya Selatan, dr Lina Pranowo mengatakan bantuan alat itu diberikan karena adanya permintaan dari pihak RSU dr Soetomo dan FK Unair. “Dan kami mencoba berikan dengan bantuan dari Rotary Club West Groningen Belanda,” ungkapnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry