Sejumlah peserta terlibat adu argumen saat pembahasan Tata Tertib Muktamar NU ke 33 di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Minggu (2/8) malam. Pembahasan Tatib tersebut diskors hingga Senin (3/8), karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pembahasan ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras/15

“Isinya Kiai Hasyim dan Kiai Salahuddin serta dzurriyah pendiri NU, tidak boleh diam dan harus terus bergerak untuk menyelamatkan NU. Tulisan itu kami berikan pada Kiai Hasyim dan tidak kami simpan.”

Oleh: HM Misbahus Salam*

PASCA Muktamar NU ke-33 di Jombang, para Kiai NU merasa resah dengan kondisi Muktamar yang gaduh, bahkan sampai isu politik uang pun mengemuka.

Banyak Pengurus PWNU dan PCNU yang meminta kepada Almaghfurlah KH. Hasyim Muzadi dan Almaghfurlah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) agar membentuk PBNU sendiri.

Tapi kedua beliau dengan arif menolak keinginan mayoritas PWNU dan PCNU tersebut. Akan tetapi, kedua beliau tidak akan tinggal diam dan berjanji terus berjuang untuk memperbaiki NU yang sudah dipandang melenceng dari garis Khittah 1926.

Perlu dipahami bersama, bahwa, makna kembali ke khittah janganlah dipahami anti PKB, atau tidak suka pada partai yang didirikan oleh tokoh tokoh NU. Itu salah. Khittah NU yang dimaksud adalah mengembalikan NU pada garis garis besar perjuangan NU, sekaligus memperkuat pedoman amaliah kaum nahdliyyin sebagai penerapan ajaran ahlussunnah wal jama’ah.

Di dalam khittah nahdliyyah mengandung unsure-unsur pokok, antara lain; Sifat Diniyah keagamaan, Sifat Ijtima’iyyah kemasyarakatan, Sistem bermadzhab, Kedudukan dominan bagi ulama, Pemilihan bidang kegiatan, Sistem pembinaan ummat, dan karakter tawassuth.

Karena kami dalam posisi khaddam Kiai, maka, banyak tahu kenapa Almaghfurlah KH Hasyim Muzadi, KH Shalahuddin Wahid, KHR  Ahmad Azaim Ibrahimy dan banyak Kiai Kiai lainnya berinisiatif untuk mengadakan silaturrahim, napak tilas kepada Pondok Pesantren Kiai yang mendirikan NU, yaitu Pondok Pesantren Tebuireng (KH Hasyim Asy’ari), PP Syaikhona Kholil Bangkalan (KH Kholil Bangkalan) dan PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (KHR As’ad Syamsul Arifin) yang dikenal sebagai segitiga emas.

Namun sebelumnya,  para kiai melakukan istkharah, demi NU. Karena fakta Muktamar Jombang  dan laporan beberapa  Konferensi NU terjadi musykilat yang bila dibiarkan merusak Marwah NU.

Kami sebagai santri atau khaddam disuruh Kiai Hasyim Muzadi untuk meminta bantuan salah satu Kiai di Medan, beliau adalah santri Sayyid Muhammad Bin Alwi Al Maliki. Bantuan itu, agar berkenan melakukan istkharah tentang kondisi NU. Kami diminta jangan pulang sebelum memperoleh hasil istikharahnya.

Kemudian setelah selesai istikharah Kiai tersebut menulis dan tulisan itu agar dibacakan di hadapan para Kiai. Kami masih ingat, tulisan itu tidak kami buka sebelum bertemu dengan Kiai Hasyim.

Begitu bertemu, kami diminta membacakan hasil istikharah itu. Tepatnya  saat pertemuan di Surabaya yang dihadiri oleh Kiai Hasyim, Kiai Salahudin Wahid, Prof DR KH Rochmat Wahab dan beberapa Kiai. Isinya Kiai Hasyim dan Kiai Salahuddin serta dzurriyah pendiri NU, tidak boleh diam dan harus terus bergerak untuk menyelamatkan NU. Tulisan itu kami berikan pada Kiai Hasyim dan tidak kami simpan.

Dari dasar istikharah itu para Kiai atas saran Ba’dhus Shalihin, terus mengadakan pertemuan. Di PP Tebuireng Jombang, PP Syaikhona Kholil, PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, PP Cipasung,  PP Sidogiri, PP Astra Jember,  PP Assunniyah Kencong, dan itu terus berkembang sampai lahirlah Komite Khittah NU (KKNU 1926).

Jadi, pertemuan para kiai itu bukan untuk membuat NU tandingan, apalagi ada istilah khawarij NU. Sangat kelewatan. Beliau beliau itu dengan tulus ingin mengembalikan NU pada garis Khittah 1926, sehingga  tidak ada lagi Muktamar dan Konferensi NU yang penuh money politik. Itu semua kami pandang karena kecintaannya pada NU dan amanah dari para sesepuh beliau yang telah mendirikan dan memperjuangkan NU.

Kami sendiri selalu  memegang teguh dawuh guru kami KHR  As’ad Syamsul Arifin agar jangan keluar dari NU dan harus berjuang di NU. Kami juga selalu ingat dawuh KH Khatib Umar: Kamu jadi pengurus NU harus pegang kalimat ini ‘Sirrul wali bil wali, Sirrul Ulama bil Ulama’.

Artinya bila ada perbedaan di tubuh ulama, kami tidak terlalu ikut masuk, apalagi berburuk sangka,  su’udhan. Mungkin dengan perbedaan itu, ada rahasia kebaikan yang kami tidak mampu menembusnya. Kami pun  berbdoa semoga NU ke depan semakin baik dan para ulamanya  bersatu walaupun tidak lepas dari perbedaan pandangan. Karena ikhtilaful ulama rahmatun. (*)

Jember, 29 Nopember 2020.

Misbahus Salam, Pengasuh Yatasan Raudlah Darus Salam.Sukorejo Bangsalsari Jember .

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry