Oleh: Abd. Aziz*

SALAH satu ungkapan yang relevan dalam menggambarkan betapa pentingnya seorang sahabat, datang dari Albert Schweitzer, tokoh kemanusiaan dan filsuf asal Alsace: “Dalam kehidupan, kebahagiaan terbesar bukan hanya pada apa yang kita capai, tetapi pada orang-orang yang tetap kita sisihkan waktu untuk menemuinya.”

Persahabatan, dengan demikian, bukan sekadar tentang seberapa sering kita berkomunikasi, melainkan tentang kesediaan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan, duduk bersama, berbagi cerita dan gagasan, karena waktu yang diluangkan untuk seorang sahabat adalah cara paling sederhana untuk mengatakan: “Di tengah padatnya hidup, anda tetap penting.”

Ada pesan singkat masuk ke ponsel saat menyusun pembelaan terhadap principal. “Saya sedang di Malang. Bolehlah nanti malam bersua. Ngopi dan diskusi kebangsaan.” Pesan itu datang dari sahabat lama, Nasrul Johan, yang kini mengabdikan diri sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Sabtu (19/9) malam.

Malang ternyata masih memiliki daya panggil yang kuat. Bukan hanya karena udaranya, kenangan kampusnya, atau sudut-sudut kota yang pernah menjadi saksi perjalanan kami. Tetapi karena di kota inilah persahabatan, pendidikan, pesantren, dan kegelisahan tentang masa depan bangsa pernah tumbuh bersama.

Saya lalu mengabari seorang sahabat lainnya, Mas Memet tapi absen. Setelah itu menyapa Mas Rohidin, alumni Fakultas Ekonomi UIN Malang yang kini tekun berwirausaha dan berkhidmat di Pondok Pesantren Ar-Rahmah Malang. “Monggo bergabung bila longgar,” kata saya. “Siap. Pasca ngantar keluarga, saya merapat ke kawasan Veteran Malang,” jawabnya singkat.

Malam itu, tiga sahabat lama akhirnya dipertemukan kembali. Saya bergegas menuju sebuah hotel yang kami sepakati sebagai tempat bertemu. Tempat itu cukup ramai. Namun, seperti banyak ruang publik hari ini, keramaian belum tentu melahirkan perbincangan yang serius. Kebanyakan orang sibuk dengan urusan bisnis, pekerjaan, transaksi, dan segala tetek bengek kehidupan ekonomi.

Kami memilih sudut luar lobby. Asap Jamu Bakar—Tani Madjoe dengan dua belas unsur rempah—membutuhkan ruang yang cukup lapang untuk menemukan ventilasinya. Tetapi justru dari tempat sederhana itu, pikiran kami seperti menemukan ruang yang lebih luas.

Malam itu bukan sekadar ngopi. Kami membincang negara. Kami membincang pendidikan. Kami membincang pesantren. Kami membincang hukum.
Dan, lebih jauh, kami membincang keadaban.

Tiga Alumni, Satu Ruang Kenangan

Kami bertiga adalah sahabat seangkatan ketika sama-sama berjibaku menempuh studi di kampus yang beralamat di Jalan Gajayana 50 Malang. Ada satu irisan pengalaman yang membuat hubungan kami terasa lebih dekat. Kami pernah sama-sama menjadi bagian dari perjuangan memajukan Ma’had Sunan Ampel Al-Aly, pesantren mahasiswa UIN Malang.

Dulu, ketika menjadi Musyrif—pendamping mahasantri—hari-hari kami diisi dengan tugas yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya penuh tanggung jawab. Mendampingi mahasiswa semester awal. Membimbing mereka beradaptasi dengan kehidupan kampus dan pesantren. Menggelar kegiatan. Menyusun laporan. Berkeliling ke berbagai tempat.

Bahkan, ketika salah seorang Musyrif atau Musyrifah dan Murabbi atau Murabbiah melangsungkan akad nikah, kami berusaha hadir. Ada tradisi sederhana yang sampai hari ini sulit dilupakan: setelah akad, kami mampir dari satu rumah pengurus ke rumah lainnya yang searah dan sedaerah.

Bakda Maghrib, makan bersama menjadi pemandangan yang biasa. Sederhana. Hangat. Tanpa protokoler. Tetapi justru di sanalah persaudaraan tumbuh.

Dari Ma’had ke Negara

Waktu berjalan. Kami meninggalkan Ma’had. Menempuh jalan masing-masing. Ada yang menjadi dosen. Ada yang menekuni dunia usaha dan pesantren. Saya sendiri bergelut dengan advokasi hukum. Tetapi ternyata jarak profesi tidak selalu menciptakan jarak persahabatan. Pertemuan malam itu menjadi bukti.

Kami kembali duduk dalam satu lingkaran, bukan sebagai tiga orang dengan profesi yang berbeda, tetapi sebagai tiga sahabat lama yang membawa kegelisahan yang kurang lebih sama. Bagaimana bangsa ini dapat terus bertumbuh tanpa kehilangan keadabannya.

Percakapan sesekali berlangsung tajam. Argumen berhadapan dengan argumen. Pengalaman bertemu pengalaman. Tetapi tidak ada kebutuhan untuk saling memenangkan perdebatan. Sebab tujuan diskusi bukan mencari siapa yang paling benar, melainkan menemukan cara melihat persoalan secara lebih jernih.

Kami membicarakan dinamika pesantren dan tantangan pendidikan. Tentang bagaimana institusi pendidikan tidak boleh sekadar menghasilkan orang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki tanggung jawab sosial.

Kami membicarakan problem kenegaraan dari berbagai sudut pandang. Dan ketika pembicaraan memasuki wilayah hukum, tentu saya tidak bisa menghindar dari dunia yang selama ini saya tekuni.

Saya teringat pada satu hal yang terus saya yakini: hukum tidak boleh hanya hadir bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi untuk membayarnya. Akses terhadap keadilan semestinya menjadi hak semua warga.

Karena itu, ikhtiar menyediakan pendampingan hukum bagi masyarakat yang tidak beruntung secara ekonomi menjadi bagian dari jalan pengabdian yang ingin terus saya rawat.

“Jika tidak kita, siapa yang akan hadir membersamai mereka?” Pertanyaan itu sesungguhnya sederhana. Tetapi bagi saya, ia adalah pertanyaan moral. Saya mungkin bukan siapa-siapa. Namun, ketidakberuntungan seseorang tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk absen.

Mereka yang benar-benar terkualifikasi sebagai dhuafa adalah sahabat kita. Mereka adalah bagian dari wajah bangsa yang tidak boleh kehilangan akses terhadap keadilan.

Pendidikan yang Melahirkan Keadaban

Dari perbincangan malam itu, saya kembali sampai pada satu kesimpulan sederhana: bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga keadaban. Pendidikan memiliki posisi penting di dalamnya. Pesantren juga memiliki peran besar.

Kampus tidak cukup hanya melahirkan sarjana. Pesantren tidak cukup hanya melahirkan orang yang memahami teks keagamaan. Keduanya harus ikut membentuk manusia yang mampu hidup bersama, menghargai perbedaan, menghormati hukum, dan memiliki keberanian untuk membela mereka yang lemah.

Sebab kecerdasan tanpa keadaban dapat menjadi kekuatan yang kehilangan arah. Dan kekuasaan tanpa keadaban dapat berubah menjadi jarak antara negara dan rakyatnya. Mungkin karena itulah perbincangan tiga alumni UIN Malang malam itu terasa lebih panjang daripada sekadar secangkir kopi.

Kami sedang mengingat masa lalu. Tetapi sesungguhnya kami sedang membicarakan masa depan.

Persahabatan yang Tidak Selesai

Alhamdulillah, meski sudah sekian purnama tidak lagi berada di Ma’had UIN Malang, komunikasi di antara kami tetap terjalin. Pertemuan semacam ini mungkin tidak selalu mudah dilakukan di tengah hiruk-pikuk tugas dan kewajiban masing-masing.

Namun ketika kesempatan itu datang, ternyata persahabatan lama masih menemukan tempatnya. Tidak perlu acara besar. Tidak perlu panggung. Tidak perlu moderator. Cukup tiga sahabat, kopi, ronde hangat, sedikit asap, dan percakapan yang jujur tentang negeri.

Terima kasih, Mas Nasrul, telah mengajak bertemu. Terima kasih telah menyiapkan makan malam, menghidangkan kopi dan ronde yang membuat tenggorokan terasa lebih longgar dengan khas jahenya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlimpah, luas, dan penuh keberkahan.

Dan kepada Rohidin, terima kasih telah menyempatkan diri datang di tengah kesibukan keluarga. Malam itu mengingatkan saya bahwa ada persahabatan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berhenti sejenak karena kesibukan.bKemudian, ketika dipertemukan kembali, ia melanjutkan percakapan seolah-olah tidak pernah terputus.

Semoga kelak kita kembali duduk dalam lingkaran yang sama—dengan kopi yang lebih hangat, pikiran yang lebih matang, dan perbincangan yang semakin mencerahkan.

Sebab pada akhirnya, membincang negara bukan hanya soal membicarakan kekuasaan. Membincang negara adalah membicarakan manusia, hukum, pendidikan, persaudaraan, dan keadaban.

Dan mungkin, dari percakapan kecil di sebuah sudut hotel di Malang, selalu ada gagasan besar yang bisa lahir untuk Indonesia. Insyaallah, setelah ini, perjalanan akademik saya juga akan berlanjut.

Pasca lulus program sarjana pendidikan Islam dan magister pendidikan di UIN Malang, lalu mengambil program sarjana hukum di Universitas Merdeka Malang, kemudian program magister hukum di Universitas Widya Gama Malang, kini bersiap menempuh program doktor Hukum di Universitas Brawijaya, Malang.

Mohon doa dari para sahabat. Semoga ikhtiar kecil ini dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar, mengabdi, dan menghadirkan keadilan bagi sesama. Terus membumikan hukum progresif (yang) bernyawa karenanya berbicara, dan hidup karenanya menghidupkan.

*Abd. Aziz adalah Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta, Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), dan Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU).

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry