
Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Ulfiyah, atau yang lebih dikenal dengan Rio-Ulfi, sejak 20 Februari 2025 dikukuhkan sebagai Bupati Situbondo oleh Presiden Prabowo Subianto.
Baru beberapa bulan Rio Ulfi memerintah di Kabupaten Situbondo, sudah ada pihak-pihak yang menyoal alur politik pemerintahannya. Ada yang menyoal terkait penetapan 45 jabatan sratategis dengan PLT, ada yang menyoal terkait pengadaan mobil dinas Forkopimda berupa mobil Toyota Fortuner, ada yang menyoal verifikasi ulang terhadap keberadaan para guru ngaji, ada yang menyoal penamaan Gelora Situbondo, ada juga yang menyoal mobil siaga desa yang kini ada kombinasi warna oranye.
Sikap kritis berbagai pihak yang menyoal kebijakan politik pemerintahan Rio Ulfi sah-sah saja. Akan tetapi, alur politik pemerintahan Rio Ulfi baru berjalan beberapa bulan, baru melangkah dan baru menapak pintu masuk pemerintah Kabupaten Situbondo.
Rio-Ulfi adalah adak muda. Anak yang sejak muda ditempa dengan gemar dan giat berorganisasi yang sarat tantangan dan menemukan pengalaman sebagai sikap idealis bagi anak muda dalam menatap masa depan.
Idealisme pemerintahan Rio-Ulfi yang dibangun tidak lepas dengan sikap cita dasar ketika kampanye dan ketika membuat program strategis untuk membangun Situbondo naik kelas. Coba kita runut ke belakang, ketika kampanye Rio-Ulfi membuat komitmen politik pemerintah Situbondo untuk dibawa naik kelas dan terbang tinggi menuju tata kelola pemerintahan yang baik.
Ada 11 janji politik yang terikrar saat kampanye untuk mengelola tata kelola pemerintahan Situbondo; Berantas yang merupakan berobat tanpa batas; Pakenyang yang merupakan pangan murah dan tersedia melalui subsidi stok pangan; Situbondo Melenting Situbondo melepas ketertinggalan; Vorsa UMKM yakni Vocher Usaha dan Pelatihan Kerja, serta Pinjaman Modal Bunga 0% untuk UMKM.
Ada pula Petani Tentram yang merupakan Tatanan Negara Indonesia Hidup tenang, Terbantu dan Mandiri; Bantu Desa yang merupakan bantuan Intensif Fiskal Desa Rp150 juta; Naik Honda, yakni menaikkan status tenaga honorer daerah melalui kebijakan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK; Sesaka yang merupakan Sentra Ekonomi, Wisata dan Kebudayaan; Mantap yakni Guru keagamaan mampu dan berperstasi; Bakti Bantuan Aktivasi dan Operasional Kegiatan Tempat Ibadah, serta Ricall yang tidak lain Aplikasi Pelayanan Publik & Pengaduan yang langsung diawasi Bupati dan Wakil Bupati.
Seharusnya, masyarakat Situbondo memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada Rio-Ulfi dalam memerintah kabupaten Situbondo. Ingat! Baru sekitar tiga bulanan memerintah Kabupaten Situbondo, tentunya Rio-Ulfi baru menatap, baru memandang, baru mengukur, baru menelaah, dan baru menganalisis mau dibawa kemana Situbondo ini.
Analisa politik pemerintahan yang baru ditata oleh Rio-Ulfi perlu memasukkan kajian dan uji publik, sejauh mana kebijakan politik pemerintahan nantinya bisa tepat dan bisa terukur sesuai dengan ukuran pemerintahan Situbondo, tidak bisa mengukur situbondo dengan hanya memejamkan mata lalu melihat dan melaksanakan.
Melihat sikap politik pemerintahan selama kurang lebih tiga bulan ini, kebijakan politik pemerintahan Rio-Ulfi sangat idealis dan penuh idealisme untuk melaksanakan. Tidak mau diintervensi dan tidak mau ditarik-tarik oleh para pihak untuk menggiring Rio-Ulfi kepada pola pemerintahan sebelumnya.
Sikap demikian menunjukkan Rio-Ulfi sangat idealis dalam membangun pemerintahan kabupaten Situbondo. Idealisme ini terus diuji dan terus dibenturkan dengan realitas kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat. Idealisme politik pemerintahan Rio-Ulfi dibenturkan dengan fakta nyata yang akan dilihat di tengah masyarakat. Apakah idelisme itu akan berbanding lurus dengan realitas yang seharusnya ketika Rio-Ulfi membuat kebijakan politik pemerintahan kabupaten Situbondo ke depannya.
Sikap kritis terhadap kebijakan politik pemerintahan Rio-Ulfi selama ini dilakukan oleh para pihak yang selama pencalonan tidak sejalan dengan arah pilihan politiknya. Para pihak terus mencari dan terus mengkritisi kebijakan politik pemerintahan Rio-Ulfi. Bangunan politik yang dibangun selama ini oleh Rio-Ulfi masih sangat stabil dan sangat baik. Tidak ada teriakan politik dari partai pengusung yang merasa kecewa dengan pola kebijakan politik Rio Ulfi. Partai pendukung masih solid mendukung pola politik pemerintahan Rio Ulfi. Suara kritis selama ini yang dilakukan di luar partai politik hanya menggiring opini publik dan mengajak publik untuk tidak sejalan dengan pola pemerintahan Rio-Ulfi.
Ini biasa dan ini juga tantangan bagi Rio-Ulfi untuk tetap konsiten dengan idealisme politik pemerintahan yang sedang dibangun dan dijalankan. Hiruk pikuk bagi mereka yang tidak puas dengan pola kebijakan pemerintahan Rio-Ulfi itu hal biasa dan harus dijadikan cambuk untuk tetap idealis dalam menatap arah membangun Situbondo naik kelas. Banyak harapan yang didamba masyarakat Situbondo untuk pasangan Rio-Ulfi.
Rio-Ulfi tidak boleh ada sikap egoistis dalam membangun Situbondo. Dua Pondok Pesantren besar yang ada di Situbondo, yakni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo dan Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo, dan beberapa Pondok Pesantren lainnya, harus diajak berunding dan diminta masukan dalam mem-branding Situbondo untuk naik kelas. Situbondo naik kelas bukan semata-mata infrstruktur yang dibangun, tapi bagunanan kehidupan sosial kemasyarakatan juga harus dibangun dengan baik.
Kata kuncinya, Rio-Ulfi saat membangun idealisme politik pemerintahan di Situbondo, yakni jangan ada sikap culas korupsi dalam perilaku pemerintahannya. Bersihkan Situbondo dari prilaku-prilaku kotor yang mengarah kepada korupsi. Hindari nepotisme kekuasaan yang hanya mementingkan orang-orang dekatnya. Profesioanlisme pemerintahan harus terukur dengan alur tata kelola pemerintahan jujur dan amanah. Bangunlah Situbondo dengan bangunan emas yang adil dan selalu mementingkan kepentingan masyarakat. Bangunlah Situbondo dengan kekuatan kultur yang harmoni yang selalu mengedepankan nilai-nilai kejujuran, sehingga nantinya kota santri Situbondo benar-benar naik kelas. Idealisme politik pemerintahan yang menjadi cita idealnya dalam membangun Situbondo benar-benar terlaksana dengan baik dengan sikap cerdas dan tidak ada egoisme pemerintahan yang berlebihan. Semoga!
Oleh: Abd. Rahman Saleh Dosen, Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo




































