JOMBANG | duta.co – Jombang, bukan saja dikenal secara nasional. Daerah ini sering menjadi jujukan tokoh-tokoh internasional. Maklum, sejumlah tokoh penting, lahir di Jombang. Apalagi kalau bicara soal pesantren, Jombang basisnya. Nahdlatul Ulama (NU), Ormas Islam terbesar di dunia, juga besutan Kiai Jombang.

Hari ini, Rabu (17/3/21), bersamaan dengan pelantikan Pengurus PWI Jombang (2021-2024), digelar sarasehan membedah ‘Jejak Jurnalistik Mbah Wahab’.

“Bicara soal NU, selain almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari, kita tidak bisa melupakan peran penting almaghfurlah Mbah Wahab (KH Wahab Chasbullah red.). Nah, saat pelantikan Pengurus PWI, kita pakai untuk membedah ‘jejak jurnalistik’ Mbah Wahab,” demikian disampaikan Ketua Panitia Pelantikan Pengurus PWI Jombang, Moh Syafi’i kepada duta.co, Selasa (16/3/21).

Menurut Syafi’i, sarasehan ini diharapkan bisa membangkitkan spirit kewartawanan, sekaligus meneladani Mbah Wahab, bahwa, karya jurnalistik itu, bisa diisi dengan dakwah. “Mbah Wahab itu bukan sekedar tokoh nasional, tetapi tokoh dunia. Beliau juga yang pernah ditugaskan para kiai berangkat ke Makkah, menyelamatkan situs-situs Islam di sana. Ini luar biasa,” jelasnya.

Disematkannya gelar Pahlawan Nasional bagi Mbah Wahab, itu membuktikan peran besarnya dalam perjuangan bangsa dan negara. “Bagi pewarta Jombang dan warga Jombang, gelar Pahlawan Nasional Mbah Wahab ini merupakan bukti penghargaan atas jasa beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau juga dikenal sebagai inisiator berdirinya NU. Dan, lagi, yang paling kita kenang, beliau itu selain penulis juga turtulis (dalam buku). Ini hebatnya,” terang Syafi’i.

Sebagaimana banyak literasi, Mbah Wahab adalah penggerak, inisiator, pemikir serta pejuang yang selalu menginspirasi warga masyarakat. “Nah, dalam dunia pers, pandangan wartawan, Mbah Wahab ini mempunyai kepedulian tinggi, bahkan menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan pers di Indonesia. Konon Mbah Wahab juga mendirikan sebuah lembaga pers untuk dijadikan sebagai alat dakwah,” tegasnya.

Apalagi, lanjutnya, pers juga mempunyai kewajiban untuk memberi informasi yang akurat dan berimbang, memiliki tanggungjawab menyebarkan berbagai informasi untuk mendukung kemajuan masyarakat. “Di sisi lain pers juga berperan penting dalam membantu proses pembangunan yang tengah dilakukan pemerintah dan warga Negara, ini demi kesejahteraan bersama,” urainya.

Sekali lagi, tambahnya, pada era sekarang ini sangat penting meneladani sosok kiai, terlebih Mbah Wahab. “Beliau adalah kiai kharismatik yang banyak jasanya, terutama ketika mendirikan Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan. Maka, tidak berlebihan jika kita harus meneladani beliau, bahkan masyarakat Indonesia harus meneladaninya, karena jasa-jasanya yang tak terhitung untuk generasi penerus,” tambahnya.

Karena itu dia berharap, hasil diskusi nanti ada kelanjutannya, misalnya, dibentuk tim khusus dari kalangan jurnalis guna mendalami beberapa buku yang telah diterbitkan oleh pemateri,

“Contoh buku Cak Anam (Drs Choirul Anam)  tentang KH. Abdul Wahab Chasbullah Hidup dan Perjuangannya, serta buku KH Abdul Mun’im DZ ini bisa dimanfaatkan untuk bacaan umum, terutama para pelajar. Inilah salah satu tujuan kenapa kita mengambil tema meneladani Mbah Wahab, membangkitkan spirit perjuangan lewat tulisan,” pungkas Syafi’i yang juga wartawan kompas.com. (muh)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry