Catatan Pinggir

Dr ROMADLON SUKARDI, MM.*

PERADABAN dunia sedang bergerak memasuki babak baru. Jika abad ke-20 ditandai oleh revolusi industri, maka abad ke-21 ditentukan oleh siapa yang menguasai data, teknologi digital, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan tata kelola hukum digital.

Bangsa-bangsa besar tidak lagi hanya berlomba membangun jalan tol, pelabuhan, atau kawasan industri. Mereka berlomba membangun manusia unggul yang mampu menjadi aktor utama dalam transformasi digital global.

Dalam konteks inilah, langkah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memperkuat kerja sama dengan King’s College London melalui pengembangan program Digital Law dan Advanced Cyber Security di KCL Singhasari menjadi sebuah keputusan yang memiliki dimensi strategis jauh melampaui kepentingan hari ini.

Ini bukan sekadar membuka program studi baru. Ini adalah investasi peradaban.

King’s College London merupakan salah satu universitas riset terkemuka dunia yang telah menghadirkan program magister Digital Economies dan Digital Futures di KEK Singhasari, sebagai bagian dari pengembangan talenta digital global di Indonesia.

Seorang pemimpin transformatif selalu memiliki kemampuan membaca masa depan sebelum orang lain menyadarinya. Ketika sebagian daerah masih berfokus pada kebutuhan jangka pendek, Jawa Timur justru sedang menyiapkan generasi yang akan menjadi pemimpin di era digital, pengawal keamanan siber nasional, serta perancang sistem hukum digital yang mampu menjawab kompleksitas zaman. Di sinilah letak keunggulan kepemimpinan transformatif.

Pemimpin transformatif tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun human capital yang akan menentukan arah sejarah bangsa.

Program Digital Law dan Advanced Cyber Security sesungguhnya menjawab tantangan paling krusial abad ini. Di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber, kebocoran data, penyalahgunaan kecerdasan buatan, hingga kompleksitas regulasi digital global, Indonesia membutuhkan SDM kelas dunia yang mampu menjadi penjaga kedaulatan digital bangsa.

Apa yang dilakukan Jawa Timur hari ini menunjukkan karakter kepemimpinan progresif. Berani keluar dari zona nyaman.

Berani menyiapkan kompetensi yang bahkan belum sepenuhnya dibutuhkan hari ini, tetapi akan menjadi kebutuhan mutlak pada masa depan.

Dalam perspektif pembangunan modern, langkah ini juga mencerminkan kepemimpinan inovatif dan kreatif. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan akademik semata, melainkan sebagai instrumen strategis untuk mempercepat daya saing daerah dan bangsa.

Tidak banyak daerah yang mampu menghadirkan kampus kelas dunia ke wilayahnya. Tidak banyak daerah yang mampu menghubungkan kebutuhan industri masa depan dengan sistem pendidikan global.
Dan tidak banyak daerah yang mampu menjadikan pendidikan sebagai episentrum transformasi ekonomi berbasis pengetahuan.
Jawa Timur sedang melakukannya.
Lebih menarik lagi, Gubernur Khofifah tidak hanya menekankan penguasaan teknologi, tetapi juga meminta agar setiap program mengedepankan leadership.

Di sinilah terlihat kecerdasan paradigma pembangunan yang utuh. Karena teknologi tanpa kepemimpinan hanya akan menghasilkan operator.

Sebaliknya, teknologi yang dipadukan dengan kepemimpinan akan melahirkan inovator, pengambil keputusan, dan pemimpin masa depan.

Dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar.
Dunia justru kekurangan pemimpin yang memiliki integritas, visi, kemampuan adaptasi, dan keberanian mengambil keputusan di tengah perubahan yang sangat cepat.

Oleh karena itu, ketika pendidikan digital dipadukan dengan penguatan karakter kepemimpinan, sesungguhnya yang sedang dibangun adalah fondasi lahirnya generasi emas Indonesia.

Lebih jauh lagi, kerja sama strategis antara Jawa Timur dan King’s College London menunjukkan bagaimana pembangunan daerah telah bergerak menuju skala global. Bukan lagi berpikir lokal, tetapi bertindak dalam ekosistem internasional. Kerja sama ini bahkan diposisikan sebagai bagian dari penguatan kapasitas digital dan kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Inggris.

Inilah bentuk nyata kepemimpinan berkelanjutan. Karena pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya meninggalkan gedung, jalan, atau monumen. Pembangunan yang paling bernilai adalah meninggalkan generasi yang lebih unggul daripada generasi sebelumnya.

Sejarah akan mencatat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak lahir dari kelimpahan sumber daya alam semata. Kemajuan lahir dari keberanian membangun sumber daya manusia.

Dan hari ini, dari Singhasari, Jawa Timur sedang mengirim pesan kuat kepada dunia:
Bahwa masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dari tambang, pabrik, dan infrastruktur.

Tetapi juga dibangun dari ruang-ruang kelas global yang melahirkan pemimpin digital, ahli keamanan siber, pakar hukum digital, serta generasi unggul yang siap membawa Indonesia menjadi pemain utama dalam peradaban dunia.

Karena pemimpin besar tidak hanya mempersiapkan program untuk masa jabatannya. Pemimpin besar mempersiapkan generasi untuk masa depan bangsanya. Dan itulah esensi kepemimpinan transformatif, progresif, inovatif, kreatif, dan berkelanjutan yang sedang ditunjukkan Jawa Timur hari ini.
Wallahu A’lamu Bisshawab.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry