“Dengan memegang credo  tidak ada satria (manusia) sempurna maka pemilih harus cerdas menentukan pilihannya. Tanpa akal cerdas akan mudah fatal, tergelincir kepalsuan karena saat ini terlalu banyak topeng branding dan framing yang dipakai.”

Oleh Anwar Hudijono*

DEBAT kedua calon presiden (capres) sudah selesai. Tetapi pertarungan di media digital antar para baladupak (pengikut) kedua capres terus berlangsung. Tujuannya  semata-mata untuk menjatuhkan lawan, dan menaikkan pamor jagonya.

Dalam melancarkan perang, ada yang menggunakan argumentasi yang rasional. Didukung data. Tetapi ada juga yang asal bicara. Yang penting melawan ibarat orang kalap. Berprinsip kencana wingka, wingka kencana.  Artinya, calon yang didukung adalah ibarat emas meskipun bisa  jadi cuma pecahan genting. Sebaliknya calon lawan itu ibarat pecahan genting meski bisa jadi sebenarnya emas.

Baladupak itu kalau di dunia pewayangan ya seperti Buto Terong, Cakil, prajurit berbaju lorek, kalau di lakon Ramayana itu seperti kera Cacinganil. Mereka memang tidak menentukan alur lakon. Tidak menjadi pemeran utama cerita. Tetapi tanpa mereka, pewayangan akan kurang heboh.

Untuk itulah,  sering kali membaca postingan baladupak jadi ingin ketawa karena tidak mutu. Tetapi hal itu tidak masalah karena menjadi pemain baladupak itu memang tidak selalu harus bermodal akal cerdas. Dungu-dungu sitik bolehlah.

Karena baladupak itu tamsil di pewayangan, maka debat capres juga bisa diibaratkan tampilnya dua tokoh wayang. Anggap saja sama-sama satria. Keduanya boleh dibilang masuk kategori satria pinilih (terpilih). Satria hebat dengan ketermasing-masingannya. Misalnya dalam hal keberanian. Karena satria itu harus berani.

Jokowi menunjukkan dirinya sebagai pemberani.  Keberanian itu dia tunjukkan secara verbal bahwa dia tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Hal itu seolah menjawab tudingan publik bahwa dia tidak takut kepada Megawati. Takut kepada pimpinan parpol.

Ungkapan verbal yang disampaikan secara lantang untuk menujukkan ekspresi bahwa dia yang selama ini klemak-klemek, kalem tetapi juga bisa berkisap tegas layaknya cemeti yang menjulur lunglai tapi suatu saat bisa lurus tegak dengan ledakan keras, bahkan bisa mengoyak kulit.

Di dalam pewayangan, para satria memang menunjukkan keberanian dengan verbal. Misalnya, terhadap musuh akan bilang:  tetekero koyo manuk branjangan kopat kapito koyo buntute ulo tapak angin ora bakal aku wedi karo kowe. Mateko kabeh kasektenmu, ora bakal aku tinggal gelanggang colong playu.

Artinya meskipun musuh sesumbar, banyak jurus tetapi tidak akan membuatnya takut. Menyuruh musuh menerapkan semua kesaktiannya, dia tidak akan melarikan diri.

Jangan Ngglundung Semprong

Prabowo juga mengekspresikan keberanian dirinya sebagai satria secara nonverbal. Ia ekspresikan dengan cara mengakui keberhasilan sebagian kinerja Jokowi sebagai presiden sekalipun juga melakukan kritik kekurangannya seperti masalah infrastruktur.

Gaya Prabowo ini mungkin mau menepis tudingan publik bahwa dia temperamental, emosional, tumpes kelor (hancurkan musuh secara total).

Hal demikian bisa dirunut dari perjalanan hidupnya di TNI. Keberanian seorang tentara, tidak ditunjukkan secara verbal tetapi melalui perilaku. Moto sebagai prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di mana Prabowo pernah menjadi Komandan Jenderal di kesatuan itu: Lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas, sudah luruh dalam jiwanya.

Banyak pendukung Prabowo yang sebenarnya tidak suka cara Prabowo melakukan pujian demikian. Karena hal itu menguntungkan lawan. Kalau ada kelebihan, tidak usah disampaikan. Tapi kekurangan lawan harus dijadikan senjata pamungkas menghabisi lawan.

Pengakuan atas kelebihan lawan juga pernah disampaikan Nabi Muhammad, manusia paripurna yang luhur budinya. Setelah pasukan Islam kalah di Perang Uhud oleh pasukan kafir Mekah, Nabi mengakui kehebatan Khalid bin Walid, Panglima Kafir Mekah.

Khalid diakui cerdas dalam mengatur  strategi perang . Seraya Nabi berdoa agar Khalid masuk Islam dan bisa menjadi benteng Islam. Ternyata doa Nabi dikabulkan Allah. Khalid adalah panglima Islam hebat yang oleh Nabi diberi gelar Syaifullah (Pedang Allah).

Demikian pula di Mahabarata, Krisna mengakui  kelebihan Sengkuni sebagai  manusia yang sangat cerdas. Bahkan di atas bumi tidak ada yang memiliki kecerdasan melebihi dirinya. Sebenarnya Krisna adalah yang bisa mengalahkan Sengkuni. Artinya Krisna lebih cerdas. Tetapi sebagai manusia berbudi luhur Krisna tidak mau mengatakan Sengkuni dungu.

Beruntunglah Indonesia memiliki capres yang sama-sama satria. Soal ada menyebut data secara salah sehingga dikesankan menyebar hoax, kurang menguasai masalah, semua itu masih dalam koridor bahwa tidak ada satria yang sempurna.

Dengan memegang credo  tidak ada satria (manusia) sempurna maka pemilih harus cerdas menentukan pilihannya. Tanpa akal cerdas akan mudah fatal tergelincir pada kepalsuan karena saat ini terlalu banyak topeng branding dan framing yang dipakai. Jangan menganut blind loyality (loyalitas buta). Jangan berprinsip kencana wingka, wingka kencana. Jangan bersikap ngglundung semprong (ikut-ikutan).

Untuk itu, mestinya pilpres 2019 ini menjadi momentum untuk membangun pemilih berbudaya akal sehat yang cerdas. Itulah ulul albab. Hanya manusia berakal demikian  yang bisa memenuhi tantangan Allah: afala ta’qilun, afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berakal, apakah kamu tidak berpikir?).
Gusti Allah nyuwun ngapura.

*Anwar Hudijono adalah wartawan senior tinggal di Sidoarjo

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.