CERDAS: R Susilo Indrianto, Ketua Paguyupan Prima Utama UMKM Jati Bojonegoro saat menjelaskan cara cerdas menghitung HPP. Duta.Co/Rum

BOJONEGORO | duta.co – Pemasaran dan promosi brand atau merek masih menjadi kendala terbesar  bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM) dalam meningkatkan omzet dari penjualan produk yang dihasilkan. Promosi konvensional dari mulut ke mulut atau sekedar memajang produk di gerai masih menjadi prioritas meski ada banyak sarana promosi gratis yang bias dimanfaatkan seperti melaui media social (medsos).

Berawal dari keresahan inilah, Paguyupan Prima Utama UMKM Jati Bojonegoro terus bergerak bersama mendorong para anggotanya membangun brand. Salah satunya dengan menggugah pemikiran konvensinal para anggotanya lewat diskusi-diskusi. Seperti diskusi “Membangun Barnd dengan kata-Kata & Cara Menghitung HPP” yang digerar di Warkop W.Oi Basra Bojonegoro, Sabtu (12/9/2020).

“Ingat ketika bicara rahasia bisnis, bukan hanya terletak pada kualitas produk dan harga yang miring saja tapi justru pada bagaimana membangun brand,” tegas Tri Suryaningrum dari Harian Duta Masyarakat.

Caranya? Bisa dengan membuat kesan yang unik. Hal ini bisa dilihat dari logo iconic, slogan atau kata-kata yang mudah diingat. Selain itu, Ini yang juga penting, konsistensi alias jangan berubah-ubah. Hal ini untuk memudahkan konsumen mengingat produk yang kita hasilkan. Dengan hal-hal di atas bisa memunculkan konsumen yang loyal.

“Memiliki daya tarik karena dianggap beda oleh konsumen adalah hal terpenting dalam meningkatkan brand. Karena dari daya tarik akan memunculkan loyalitas bagi konsumen. Setelah mendapatkan konsumen loyal maka bisa menetapkan harga jual yang tinggi,” jelas Rum, sapaan akrab Tri Suryaningrum.

Nah, ungkap Rum, untuk membidik konsumen yang loyal ini hal paling mudah bagi perusahaan besar, tapi bagaimana dengan UMKM? UMKM tetap bisa melakukan promosi gratis untuk membidik konsumen loyal. Caranya? Gencar promo di medsos, baik itu lewat WhatsApp (WA), Facebook (FB), maupun lewat Instagram (IG).

Dan untuk melakukan promosi di medsos harus dibuat semenarik mungkin, seunik mungkin, yang dimulai dari menciptakan nama brand. Baru kemudian lanjut menulis semua keunggulan dari brand yang kita miliki dengan kata-kata yang mampu mengugah calon konsumen untuk membaca.

“Jadi jangan asal posting foto-foto produk terus dikasih caption nama-nama produk plus memajang WA. Itu kurang menarik. Bayangkan jika foto produk kita dikasih caption yang menggugah untuk terus dan terus membaca hingga akhirnya tertarik untuk membeli. Ini yang harus dimulai sedari sekarang,”  tegas Rum memotivasi.

Selain kata-kata unik, agar brand semakin naik kelas lanjut R Susilo Indrianto, Ketua Paguyupan Prima Utama UMKM Jati Bojonegoro adalah dengan cerdas menghitung Harga Pokok Produksi (HPP). “Selama ini pelaku usaha baik yang memproduksi makanan, minuman, kerajinan atau lainnya terkadang heran, tingkat produksi sudah hampir 90 persen ludes terjual tapi keuntungan yang diraih rendah? Nah ini penyebabnya ketidaktepatan dalam menghitung HPP,” tegas Cak In panggilan akrabnya.

Cak In lantas menjelaskan HPP adalah barang-barang yang telah terjual atau biaya-biaya  yang berhubungan dengan barang-barang yang telah terjual. Dan cara menghitungannya, menurutnya ada enam langkah. Di antaranya, dengan memcatat harga bahan-bahan produksi. Dengan mencatat harga  bahan akan dapat melihat apakah harga bahan yang dibeli sesuai di atas harga pasar atau pada harga normal.

“Kemudian jumlah total pembelian bahan untuk mendapatkan  total harga produksi dari pembelian bahan. Total jumlah bahan produksi dibagi jumlah produksi untuk mendaptkan harga bahan produksi per satuan pcs produk,” urainya.

Lalu, ungkap Cak In, dengan mencatat biaya tranpostasi untuk belanja membeli kebutuhan bahan produksi. Selanjutnya menentukan biaya pemakaian listrik, disusul biaya pemaikan gas, kemudian biaya label dan kemasan. Serta terakhir menentukan upah atau komisi produksi.

“Setelah semua dihitung, langkah terakhir adalah menentukan berapa margin keuntungan yang ingin didapat. Misal 20 persen, 25 persen atau 30 persen. Tentunya untuk menentukan ini kita harus melihat  apakah harga jual produk kita masih bisa bersaing di pasaran atau justru lebih tyinggi dari harga pasar,” tandasnya.

Jika semua langkah telah dilakukan, maka kekhawatiran kita tidak mendapatkan keuntungan akan sirna, karena dengan HPP akan mampu memngetahui laba yang diinginkan dalam usaha. “Pertanyaannya kini, apakah harga jual yang kita terapkan selama ini sudah tepat. Jika harga jual ternyata masih di bawah HPP maka harus mempertimbangkan untuk merevisi harga,” tandasnya mengakhiri diskusi. rum  

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry