Oleh: Husain Latuconsina*

DOSEN dan ilmuwan lainnya di tanah air pada era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini sudah sangat mudah terlacak kinerja akademiknya melalui Science and Technology Index (SINTA). SINTA merupakan portal yang berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang di antaranya meliputi: kinerja penelitian, publikasi ilmiah, author, kinerja jurnal dan kinerja institusi IPTEK.

Dengan adanya SINTA yang dikelola oleh Kementerian Ristekdikti maka kita dapat mengetahui kinerja para ilmuwan tanah air yang dapat berupa publikasi dalam bentuk buku (buku ajar, monograf maupun buku referensi), Intelektual Properti Right (IPR) (paten maupun hak cipta), Networking (kerja sama riset antar peneliti dan antar institusi), GS Document (Publikasi yang terindeks Google Scholar), WoS Dokumen (Publikasi pada Prosiding Seminar Internasional yang terindeks pengindeks internasional), Research (Pengalaman penelitian yang dibiayai sponsor), Scopus Document (Artikel publikasi jurnal internasional yang terindeks scopus).

Portal SINTA juga memiliki Scoring untuk menentukan seorang ilmuwan/dosen tanah air berdasarkan kinerja tridharma yang lebih difokuskan pada kinerja riset dengan outputnya berupa jumlah publikasi dan outcomenya dalam bentuk jumlah sitasi yang sebelumnya telah terdokumentasikan pada google scholar dan scopus, sebagai sumber informasi bagi portal SINTA, sehingga akan ada pemeringkatan seorang ilmuwan baik pada level unit kerja, level institusi maupun secara nasional.

Dengan demikian Portal SINTA menjadi penting untuk dimiliki oleh setiap ilmuwan dan terlebih kepada setiap dosen yang telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), bahkan bagi para dosen yang ingin mengajukan proposal riset yang akan dibiayai oleh Kemenristek, maka wajib memiliki Identitas Sinta (SINTA ID). Sehingga SINTA ini dapat dijadikan barometer kinerja seorang dosen di tanah air sekaligus menjadi media “Branding Academic” yang strategis.

Meskipun SINTA telah disosialisasikan pada berbagai perguruan tinggi, namun ternyata masih banyak dosen yang belum memiliki SINTA ID, bahkan masih banyak perguruan tinggi yang belum terkonfirmasi di portal SINTA. Misalkan dari jumlah perguruan tinggi yang tercatat di LLDKTI VII Wilayah Jawa Timur sebanyak 313, ternyata sebanyak 45 (13,38%) perguruan tinggi di antaranya belum tercatat dalam portal SINTA. Sedangkan untuk jumlah dosen di Wilayah LLDIKTI VII sebanyak 21.074 orang, namun baru sejumlah 13.983 dosen (66,35%) yang baru terdaftar di portal SINTA.

Fenomena ini menunjukkan dua hal, yaitu: 1) ada kecenderungan perguruan tinggi dan dosen kurang peduli karena belum merasa penting dengan keberadan SINTA sebagai portal pengindeks kinerja dosen dan institusi pendidikan tinggi, dan 2) minimnya atau bahkan belum ada publikasi dari seorang dosen yang terindeks oleh Google Scholar dan atau Scopus sehingga tidak terindeks pada portal SINTA.

Hindari Mafia Publikasi dan Kartel Sitasi

Ada hal yang menarik saat kegiatan bertajuk “Academic Branding” yang dilaksanakan oleh LLDIKTI VII jawa Timur pada 9 September 2020, yaitu mengemukanya istilah “Mafia Publikasi” dan “Kartel Sitasi”. Terkait Mafia Publikasi, sering terjadi dosen di Indonesia sering dikirimi website dari pengelola jurnal berlabel internasional dengan iming-iming proses publikasi artikel yang cepat namun harus membayar biaya yang relatif mahal. Indonesia merupakan Negara yang menjadi pasar potensial bagi pengelola jurnal berlabel internasional yang banyak teridentifikasi sebagai jurnal predator.

Ada juga istilah “Kartel Sitasi” yang merujuk kepada banyaknya sitasi seorang dosen/ilmuwan pada artikel-artikel hasil publikasi yang tidak terkait langsung dengan hasil risetnya, atau bahkan tidak terkait langsung dengan kepakarannya. Munculnya fenomena titip menitip nama pada publikasi teman sejawat di dunia perguruan tinggi sudah menjadi rahasia umum demi meningkatkan jumlah publikasi dan sitasi pasca munculnya portal SINTA yang diinisiasi oleh Kemenristekdikti.

Selain itu dikenal juga istilah “Mafia Akademik”, hal ini terkait dengan kecenderungan seorang dosen memasukan namanya pada publikasi hasil riset mahasiswa tanpa keterlibatan dosen secara langsung dalam proses riset maupun pembuatan artikel untuk publikasi, bahkan ada yang tanpa sepengatahuan mahasiswa dan tidak ada nama mahasiswanya sebagai author dalam artikel yang dipublikasikan dosen dari hasil riset mahasiswa bimbingannya.

Pentingnya “Academik Branding Dosen” dan Tantangannnya

Sebagai dosen tentunya kita membutuhkan “academic branding” untuk memperkokoh identitas kita sebagai ilmuwan yang mumpuni dalam melaksanakan tugas tri dharma perguruan tinggi di era revolusi industri 4.0 yang harus mampu berkompetisi secara nasional, regional maupun secara global untuk mengokohkan personal branding setiap dosen agar hasil-hasil karya dosen dapat dimanfaatkan oleh ilmuwan lainnya, sehingga akan ikut mengangkat nama baik dosen beserta institusi tempatnya megabdi.

Meskipun demikian dalam portal SINTA yang dikembangkan oleh Kemenristek ini masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki, di antaranya adalah variabel scoring masih belum mengikutsertakan buku dan IPR, padahal buku dan IPR ini sudah punya fitur tersendiri dalam portal SINTA dan tentunya sudah relatif banyak dosen-dosen di tanah air yang telah memiliki buku (buku ajar, monograf, dan buku referensi). Scoring SINTA hanya mengakui buku yang terindeks Scopus sebagai salah satu variabelnya. Tentunya ini sesuatu yang berlebihan dan sulit diraih oleh semua dosen, padahal buku sudah sangat banyak dihasilkan oleh dosen di tanah air yang telah temanfaatkan oleh khalayak.

Belum semua dosen di tanah air yang menganggap pentingnya SINTA sebagai wadah untuk membangun “academik branding” menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan portal SINTA. Hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh berbagai persoalan klasik, seperti; lingkungan dan tradisi akademik yang tidak sama antar insitusi pendidikan tinggi di tanah air, karena dipengaruhi disparitas yang lebar antar PTN dan PTS maupun antar wilayah. Disparitas ini selanjutnya berdampak lanjutan pada lingkungan dan tradisi akademik yang kurang mendukung seorang dosen dalam membangun “academic branding” melalui kinerja riset dan publikasi sesuai kompetensinya.

Lingkungan akademik yang kurang kondusif  bagi seorang dosen untuk meningkatkan produktivitas riset, akan berdampak lanjutan pada rendahnya publikasi yang akan dihasilkan. Tidak banyak perguruan tinggi yang mampu memberikan penghargaan berupa insentif kepada setiap dosen atas kinerja publikasinya pada jurnal-jurnal bereputasi baik nasional maupun internasional. Kondisi ini tentunya tidak mendukung kinerja riset dan publikasi bagi dosen di lingkungan perguruan tinggi, sehingga akan berdampak kepada pembelajaran maupun pengabdian kepada masyarakat yang kurang bermutu, karena tidak didukung oleh kegiatan riset sebagai pilar utama dalam pengembangan tradisi akademik yang baik pada lingkungan perguruan tinggi.

*Penulis adalah Dosen Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Malang.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry