Oleh Ahmad Fahrur Rozi*

HARI ini, Ahad 20 September 2026, saya bersama Kiai Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI, mendapat undangan dari sahabat baik saya Kiai Imam Jazuli—Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon sekaligus pendiri Imam Jazuli Foundation—untuk menghadiri Workshop Pesantren Rintisan se-Jawa Tengah dan DIY di Hotel Aston Cirebon.

Kegiatan ini merupakan seri kelima dari rangkaian program pemberdayaan pesantren rintisan yang digagas dan dibiayai sepenuhnya oleh Kiai Imam Jazuli.

Saya mengenal beliau sejak sama-sama aktif sebagai pengurus RMI PBNU pada tahun 2010–2015. Sejak dahulu, beliau memang dikenal sebagai kiai muda yang kreatif, energik, dan memiliki gagasan besar. Pesantren Bina Insan Mulia yang beliau rintis dari nol sekitar sepuluh tahun lalu, kini telah berkembang sangat pesat: memiliki sekitar 5.000 santri dengan kawasan pendidikan seluas kurang lebih 90 hektare.

Saya sungguh salut dan angkat topi atas kepedulian beliau. Tidak semua orang yang telah berhasil mau berbagi jalan, pengalaman, dan strategi kepada mereka yang masih merintis. Materi workshop ini benar-benar “daging semua”: aplikatif, membumi, dan sesuai kebutuhan pesantren hari ini.

Workshop pesantren rintisan ini sebetulnya lanjutan dari workshop pesantren transformatif yang baru saja selesai. Selama tiga bulan, sejak Juni hingga Agustus, Imam Jazuli Foundation menyelenggarakan workshop untuk sebanyak 5.000 pengasuh pesantren di Indonesia, meliputi Jawa dan luar Jawa.

Tujuan utama workshop adalah mengajak dan membekali pesantren yang sudah berjalan agar dapat merespons perubahan dengan cepat dan tepat secara transformatif. Hasil akhir yang diharapkan dari workshop ini adalah peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan pesantren, agar tumbuh bersama menjadikan pesantren sebagai pusat peradaban keilmuan di dunia.

Program ini telah melibatkan ribuan kiai pengasuh pesantren rintisan dari berbagai daerah di Indonesia. Semua peserta difasilitasi dengan sangat baik—mulai hotel, konsumsi, akomodasi, uang saku, hingga transportasi—sepenuhnya ditanggung oleh Kiai Imam Jazuli.

Yang lebih menarik, peserta diseleksi secara serius. Mereka harus benar-benar pengasuh pesantren atau calon perintis pesantren yang mempunyai tekad membangun dari nol. Bukan sekadar ustadz pengajar, bukan pula mereka yang hanya melanjutkan pesantren besar warisan keluarga. Program ini memang ditujukan bagi para perintis yang membutuhkan bekal, arah, dan keberanian untuk memulai.

Inilah bentuk kepedulian nyata kepada sesama kiai yang sedang berjuang membangun masa depan pendidikan pesantren Indonesia.

Semoga program yang mulia ini terus berlanjut, melahirkan banyak pesantren baru yang mandiri, maju, berkarakter, dan bermanfaat bagi umat serta bangsa.

Selamat, Kiai Imam Jazuli. Saya bangga dan sangat mengapresiasi ikhtiar panjenengan.

*KH Dr Ahmad Fahrur Rozi adalah Ketua PBNU, Ketua DPP MUI dan Pengasuh Pondok Pesantren ANNUR 1 Bululawang Malang.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry