
Guru Besar Departemen Teknik Elektro ITS
DI zaman yang serba cepat ini, kita sering kali menyaksikan sebuah pemandangan yang paradoks.
Di satu sisi, ruang digital kita banyak dipenuhi oleh perdebatan teologis yang sengit tentang kesholehan, teori-teori konseptual, hingga diskusi tanpa akhir mengenai teks-teks suci.
Namun di sisi lain, di luar jendela menara gading perdebatan itu, realitas sosial sering kali menyuguhkan pemandangan yang kontras: kemiskinan, kebodohan, kerusakan lingkungan, hingga krisis kemanusiaan yang membutuhkan solusi segera.
Kondisi ini memicu munculnya sebuah pertanyaan mendasar: Di manakah letak nilai sejati dari sebuah keyakinan atau keimanan jika ia tidak mampu memberi dampak jejak perubahan pada realitas di sekitarnya ?.
Untuk menjawabnya, ada baiknya kita melakukan sebuah ijtihad pemikiran yang menarik: menjembatani nilai spiritual (baca: Islam) dengan salah satu pilar filsafat Barat modern, yaitu Pragmatic Maxim (Maksim Pragmatis) nya Peirce.
Memahami “Maksim Pragmatis”: Menjernihkan Isi Kepala
Charles Sanders Peirce, seorang ahli logika dan ilmuwan asal Amerika Serikat (seorang yang juga merumuskan dengan brilian konsep Abduksi), dalam artikel klasiknya yang terkenal, How to Make Our Ideas Clear (1878), menawarkan sebuah alat uji yang sangat radikal untuk menilai sebuah gagasan.
Peirce merumuskan apa yang disebut sebagai Pragmatic Maxim.
Secara sederhana, maksim ini menyatakan bahwa untuk memahami makna sejati dari suatu konsep atau keyakinan, kita harus melihat efek-efek praktis apa yang dihasilkan oleh konsep tersebut di dunia nyata.
Bagi Peirce, sebuah ide atau keyakinan (belief) bukanlah sekadar hiasan abstrak di dalam kepala, bukan pula komoditas untuk diperdebatkan di ruang hampa.
Kejelasan dan nilai dari sebuah ide sepenuhnya diukur dari bagaimana ide tersebut mengubah cara kita bertindak (conduct) dan apa dampak konkret yang ditimbulkannya bagi lingkungan sekitar.
Jika sebuah teori yang terdengar sangat agung, tapi ternyata memiliki efek praktis yang bernilai nol bagi kehidupan nyata, maka bagi seorang pragmatisis, teori tersebut kehilangan makna sejatinya.
Jembatan Menuju “Khoirunnaas” dan Amal Sholeh: Titik temu yang luar biasa indah
Jika kita membawa logika ketat sains milik Peirce ini ke ranah teologi spiritual, kita akan menemukan frekuensi makna yang sepenuhnya paralel dengan prinsip universal Islam, yaitu sebuah hadits yang sangat terkenal:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya” (Khoirunnaas anfa’uhum linnaas).
Dalam struktur spiritual yang mapan, keselamatan manusia dijamin oleh dua pilar utama yang tak terpisahkan:
Tauhid (komitmen vertikal untuk tidak menyekutukan Tuhan) dan Amal Sholeh (aksi horizontal di muka bumi).
Menggunakan kacamata Pragmatic Maxim, kita bisa melihat bahwa Tauhid adalah “Keyakinan” yang berada di hulu, sedangkan Amal Sholeh adalah “Efek Praktis” yang berada di hilir.
Secara etimologi, kata shalaha (akar kata dari sholeh) berarti cocok, pantas, konstruktif, atau berguna.
Sebuah amal tidak bisa disebut “sholeh” jika ia mekanistik dan tidak berdampak.
Mengikuti logika Peirce, klaim ketauhidan dan keimanan seseorang, secara pragmatis belum teruji maknanya sebelum ia mewujud menjadi amal sholeh yang solutif.
Seseorang tidak bisa mengklaim menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, jika kehadiran dirinya di bumi justru menciptakan kerusakan atau ketidakpedulian terhadap sesama.
Nilai manusia, secara spiritual maupun pragmatis, diukur dari buah tindakan nyata yang meringankan beban kemanusiaan.
Kritik Terhadap Spiritualitas Menara Gading
Simbiosis antara pemikiran Peirce dan konsep universal Khoirunnaas ini sekaligus menjadi kritik keras terhadap fenomena “spiritualitas menara gading” di zaman modern.
Di tengah kepungan algoritma kecerdasan buatan (AI) dan individualisme kapitalistik, manusia sering kali melarikan diri ke dalam kesholehan ritual yang egois, seraya melupakan tugasnya sebagai pengelola dinamika bumi (khalifatulloh fil ardl).
Spiritualitas sejati bukanlah tentang bagaimana kita mengisolasi diri dari masalah dunia, melainkan bagaimana kita membumikan nilai-nilai spiritualitas menjadi, misalnya: sistem keadilan, inovasi teknologi yang membantu sesama, dan pelestarian alam.
Tuhan membekali manusia dengan insting, rasionalitas, dan kemampuan berpikir logis yang luar biasa bukan untuk berdiam diri, melainkan untuk melahirkan lompatan-lompatan hipotesis yang solutif (Abduksi) bagi krisis di bumi.
Iman yang Membumi
Pada akhirnya, membaca ulang konsep Khoirunnaas melalui kacamata Maksim Pragmatis nya Peirce, memberikan kita sebuah rumusan hidup yang jernih dan benderang.
Manusia adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan, dan pembuktian atas predikat terbaik itu tidak dinilai dari seberapa tinggi menara teori yang kita bangun, melainkan seberapa luas manfaat praktis yang kita sebar.
Ketika teologi bertemu dengan logika pragmatisme, iman tidak lagi menjadi dogmatisme yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi energi penggerak yang dinamis.
Saya meyakini sepenuhnya, kita semua tentu ingin menjadi manusia yang bermanfaat, karena di dalam setiap dampak positif yang kita berikan bagi sesama, di situlah makna sejati dari keimanan dan kemanusiaan kita berlabuh dengan sempurna. *




































