SURABAYA | duta.co – Pelan tapi pasti. Usai menggelar Muktamar ke-35 di PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) — periode 2026-2031 — mulai berjalan memasuki abad kedua. “Saya optimis, dibawa Ketua Umum PBNU, Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar, jamiyah ini lebih tertata, lebih bermanfaat bagi umat,” tegas Drs H Abd Kholiq, mantan pengurus LDNU PWNU Jatim kepada duta.co, Minggu (13/09/26).

Menurut Cak Kholiq, panggilan akrabnya, naiknya Gus Kikin adalah sebuah keniscayaan. Ia telah menemukan ‘penyakit akut’ NU. Dari spektrum qonun asasi minimal, NU harus khitthah nahdliyah. Bagaimana NU mengurus umat.  “Maka, Gus Kikin menjadi representasi dan keinginan jamaah yang ghirroh dan himmah-nya: NU wajib kembali ke khitthah 1926. Di samping itu, sosok Gus Kikin yang sejuk, tidak mau menonjolkan diri, sangat pas untuk PBNU abad kedua,” tegasnya.

Kekhawatiran warganet: Apakah Gus Kikin akan menjadi orangnya Presiden Prabowo? Bagi Cak Kholiq, itu (pertanyaan) sudah tidak relevan. “Gus Kikin itu pengusaha, pasti dekat dengan semua pihak. Misal, kedekatan Gus Kikin dengan dengan adik Presiden Prabowo (Hashim Djojohadikusumo red). Bisa jadi. Karena, keduanya puluhan tahun bergelut di medan bisnis, dalam dan luar negeri. Tetapi, soal NU, yakin, independensi jamiyah yang di kedepankan. Itulah Gus Kikin,” urainya.

Masih kata Cak Kholiq, sekarang ini orang sibuk membaca ‘tangan kanan’ Gus Kikin. Siapa yang dipercaya menjadi Sekjen (Sejertaris Jenderal) PBNU nanti. “Memasuki abad kedua, NU harus benar-benar Indonesia sentris. Bukan Jawa sentris. Warga NU di luar Jawa juga sangat banyak. Saya yakin Gus Kikin akan mempertimbangkan kader NU dari luar Jawa,” pungkasnya.

LE dan 5 Kriterianya

Soal Sekjen PBNU masa khidmat 2026–2031 memang belum diisi secara definitif karena Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyatakan masih menunggu hasil istikharah dan pertimbangan mendalam untuk menyusun kepengurusan baru.

Munculnya nama Lukman Edy (LE), disambut positif banyak pihak. Baik kiai kultural NU maupun kiai struktural NU. Bahkan juga aktivis serta pengurus NU di Jawa maupun luar Jawa. Paling tidak, menurut mereka, duet Gus Kikin-Lukman Edy bakal memunculkan trust atau kepercayaan publik ketimbang wajah lama.

“Beliau S-1 Teknik Sipil UB Malang. S-2 Administrasi Pembangunan, Universitas Padjajaran, S-3 Sosiologi dan Antropologi, Universitas Malaya, Malaysia,” tegas sumber duta.co di PBNU Jakarta, Minggu (13/9/26).

Menurutnya, banyak faktor mengapa (LE) cocok jadi Sekjen PBNU? Pertama, kader NU yang berproses dari bawah bahkan ketika mahasiswa istiqomah di PMII. Ini menunjukkan militansinya yang tinggi sebagai kader NU sejati. “Banyak kader rea-reo, tetapi tidak untuk LE. Militansi ke-NU-annya sangat tinggi,” tegasnya.

Kedua, lanjutnya, sosok LE mewakili keterwakilan luar Jawa, sehingga wajah PBNU tidak Jawa sentris dan ini memudahkan PBNU untuk konsolidasi struktur wilayah secara merata. Selanjutnya akan dapat lebih mudah menghidupkan NU di luar jawa. Ketiga, pengalamannya sebagai menteri dan entrepreneur sangat diperlukan jabatan Sekjen ke depan sehingga tatakelola organisasi akan dapat berjalan baik.

Keempat, ia tumbuh besar dari keluarga tokoh agama Riau yang kental dengan adab dan budaya melayu  membuat sosok LE dapat beradaptasi dengan kiai kiai. Kelima, pengalaman sebagai Sekjen PKB membuatnya memiliki jaringan luas baik internal NU, kalangan birokrat, pengusaha dan petinggi negara. “Dan terpenting dia (LE) bisa menjadi tangan kanan yang baik untuk Ketum,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry