Muhammad .Syaikhon, SHI., MHI –  Dosen FKIP

ALLAH SWT telah menciptakan alam semesta beserta isinya sebagai tanda-tanda kekuasaanNya. Manusia sebagai khalifah diperintahkan untuk memperhatikan dan mempelajari segala tanda-tanda kekuasaanNya tersebut.

Untuk dapat mewujudkannya, Allah swt telah memerintahkan manusia untuk dapat membaca karena Allah swt menurunkan al-Quran sebagai petunjuk yang dapat dibaca oleh hamba-hambaNya.

Allah swt berfirman: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang telah mengajarkan manusia dengan perantaraan membaca dan manulis (Q.S. al-‘Alaq: 1-5).

Ayat di atas menunjukkan bagaimana Allah swt telah mengutamakan kewajiban membaca bagi hamba-hambaNya. Karena dengan membaca setiap manusia dapat memahami dan mempelajari sesuatu yang tidak diketahuinya. Dengan membaca seseorang dapat memperoleh informasi dari orang lain.

Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada personal Nabi Muhammad SAW semata, melainkan juga untuk seluruh umat manusia. Karena realisasi perintah ini merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Dalam kaidah bahasa, kata iqra’ apabila tidak disebutkan objeknya maka objek yang dimaksud bersifat umum, bisa membaca teks tertulis bisa pula tidak, bisa yang berhuruf bisa pula yang tidak berhuruf, dan lain-lain.

Iqra’ adalah kalimat perintah dari kata qara’a-yaqra’u yang berarti membaca, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui dan lain-lain. Dalam Alquran, kata yang berakar dari qara’a telah disebut beberapa kali.

Menurut para ahli tafsir, iqra’ memiliki arti membaca dalam arti yang luas dan mendalam, seperti: menelaah, menganalisis, mengkaji dan meneliti. Jadi, makna Iqra bukan sekadar bacalah, tetapi : budayakanlah menelaah, menganalisis, mengkaji, dan meneliti. Itu semua akan diperoleh dengan baik manakala pelakunya rajin membaca.

Kata iqra’ yang kedua dapat dikatakan motivasi untuk meningkatkan minat baca. Hal ini dipahami dari kata iqra’ yang dirangkaikan dengan kata rabbuka al-akram yang mengandung arti bahwa Allah akan memberikan ilmu kepada siapa saja yang rajin membaca.

Dalam Alquran terdapat tiga kata yang memiliki arti ‘membaca’, yakni qara’a, tilawah dan tartil. Adapun kata qara’a dan derivasinya terulang sebanyak 87 kali dan tersebar ke dalam 41 surah Alquran, sedangkan kata tilawah terulang sebanyak 64 kali, sementara kata tartil hanya diulang dua kali dalam Alquran.

Hal ini menunjukan betapa pentingnya arti membaca bagi manusia sebagai kunci dari segala ilmu dan dasar amal. Bahkan Allah menurunkan surat al-‘Alaq sebelum surat-surat lain, yang memerintahkan hamba-hambaNya untuk membaca sebelum memerintahkan yang lain.

Tingkat ketajaman daya pikir seseorang akan sangat tergantung pada sebanyak dan sejauh mana dia membaca. Demikian halnya, kepedulian sebuah lembaga pendidikan, masyarakat atau komunitas tertentu, terhadap ilmu pengetahuan dapat dilihat dari seberapa besar dan lengkap perpustakaan (media baca) yang disediakan.

Dalam catatan sejarah era keemasan Islam terutama pada Dinasti Abbasiyah menunjukkan, munculnya cendekiawan-cendekiawan Muslim terkemuka yang membuka pemikiran Eropa dan Barat, antara lain dilahirkan dari pengajian-pengajian dan perpustakaan di sekitar Masjid.

Dalam Q.S Al Mujaadilah ayat 11, Allah telah menjanjikan bahwa orang-orang yang berilmu dan beriman akan ditinggikan beberapa derajat. Dan Allah benar-benar telah meninggikan derajat hamba-hambaNya yang melaksanakan perintah membaca, sehingga dengan membaca itu mereka memiliki ilmu dan pengetahuan yang lebih.

Kita dapat melihat bagaimana sejarah Islam terdahulu. Begitu banyaknya ilmuwan Islam dalam berbagai bidang pengetahuan, baik itu ilmu kedokteran, ilmu matematika dan sebagainya. Sebagai contoh, Al Khawarizmy melalui karyanya yang monumental, “Aljabar”. Dan pelajar-pelajar di Cordova, mempelajarinya dan mengenal Al Khawawrizmy dengan sebutan Algoritma.

Kegemilangan Islam di masa dahulu diperoleh dengan adanya kegemaran membaca dan mempelajari ilmu dan pengetahuan yang ada di alam semesta sebagai ciptaan Allah swt. Namun kegemaran membaca pada saat sekarang ini malah dimiliki oleh orang-orang non muslim seperti bangsa Jepang.

Hingga tidak heran jika Allah swt telah meninggikan beberapa derajat bangsa Jepang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki. Demikian semoga bermanfaat. *