Oleh Bey Arifin*

MEMBACA sosok KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin tidak cukup hanya dengan melihat jabatan yang kini melekat di pundaknya. Untuk memahami gaya kepemimpinannya, kita perlu menengok lebih jauh ke belakang: dari mana basis keilmuannya terbentuk, bagaimana perjalanan pendidikannya, pengalaman profesionalnya, hingga bagaimana ia akhirnya kembali ke dunia pesantren dan masuk ke dalam struktur Nahdlatul Ulama.

Di sinilah perjalanan Gus Kikin menjadi menarik. Ia bukan tipikal kader NU yang tumbuh melalui jalur klasik IPNU–PMII–Ansor, kemudian meniti tangga organisasi hingga menjadi pimpinan NU. Genealogi Gus Kikin justru memiliki jalur yang berbeda: pesantren, pendidikan profesional, dunia usaha, kemudian kembali ke pesantren dan memasuki kepemimpinan NU.

Sanad Keilmuan dari Rumah Pesantren

Basis pertama Gus Kikin adalah pesantren. Ada dua lingkungan pesantren yang menjadi bagian penting dari pembentukan keilmuan dan tradisi keagamaannya: Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang, yang didirikan ayahnya, KH Mahfudz Anwar, dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang, yang didirikan oleh kakeknya.

Namun yang paling menentukan bukan semata-mata tempatnya, melainkan siapa yang mentransmisikan ilmunya.

Pendidikan agama Gus Kikin banyak diperoleh secara langsung dari ayahnya, KH Mahfudz Anwar. Dengan demikian, proses belajarnya tidak berhenti pada pendidikan agama yang bersifat formal, tetapi berlangsung dalam tradisi keluarga ulama: anak belajar langsung kepada orang tua, sekaligus hidup dalam atmosfer pesantren.

Termasuk di dalamnya, Gus Kikin pernah mengaji kitab hadis Shahih Muslim kepada ayahnya.

Ini bukan detail kecil. Dalam tradisi pesantren, mengaji kitab kepada seorang guru bukan hanya proses transfer pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan adab, sanad keilmuan, cara memahami teks, dan cara menempatkan ilmu dalam kehidupan.

Karena itu, basis keilmuan Gus Kikin lebih tepat dibaca sebagai produk transmisi ilmu keluarga pesantren, bukan sekadar hasil pendidikan agama formal.

Dari Pesantren Menyeberang ke Dunia Pelayaran

Yang membuat perjalanan Gus Kikin berbeda adalah pilihan pendidikannya setelah lingkungan pesantren.

Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta sekitar 1975–1979. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia memasuki dunia profesional dan bekerja di PT Djakarta Lloyd. Ia bahkan pernah dipercaya menjadi Kepala Cabang Wilayah Cilegon.

Di titik ini terlihat bahwa perjalanan Gus Kikin tidak linear. Ia tidak tumbuh hanya dalam ruang pesantren. Ia pernah berada dalam dunia pendidikan profesional, birokrasi perusahaan, dan lingkungan bisnis. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan dunia yang berbeda dari kultur pesantren: dunia yang menuntut disiplin, manajemen, kepemimpinan, profesionalisme, pengambilan keputusan, dan kemampuan membaca risiko. Setelah itu, ia memasuki dunia usaha dan mengelola sejumlah perusahaan.

Dengan demikian, terdapat pengalaman yang jarang dimiliki secara bersamaan oleh seorang tokoh pesantren: sanad keilmuan pesantren bertemu pengalaman profesional dan dunia usaha.

Kembali ke Pesantren, Bukan Sekadar Pulang Kampung

Namun perjalanan Gus Kikin akhirnya kembali ke pesantren. Setelah melalui fase panjang dalam dunia profesional dan usaha, ia semakin intens berada dalam lingkungan Pesantren Tebuireng. Setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah pada 2020, Gus Kikin dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Pengasuh Tebuireng ke-8. Di sinilah pengalaman hidupnya menemukan titik temu.

Pesantren memberikan akar. Dunia profesional memberikan pengalaman. Dunia usaha memberikan perspektif manajerial. Sedangkan kepemimpinan pesantren mengembalikannya pada tanggung jawab keumatan.

Tidak mengherankan jika kemudian gaya kepemimpinan Gus Kikin tidak sepenuhnya identik dengan model kepemimpinan kiai yang sejak awal hingga akhir hidupnya berada dalam orbit pesantren dan organisasi NU. Ia membawa pengalaman dari dunia yang lebih luas ke dalam pesantren.

Komunikasi dan Kemampuan Membaca Zaman

Perjalanan pendidikannya juga tidak berhenti di STIP. Pada 2013, Gus Kikin melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka, mengambil bidang Ilmu Komunikasi. Jika seluruh perjalanan tersebut dirangkai, terbentuk sebuah kombinasi yang cukup unik:
pesantren + pelayaran + dunia usaha + komunikasi + kepemimpinan pesantren + organisasi NU.

Kombinasi ini penting ketika NU menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat.
NU hari ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan fikih, pesantren, dan tradisi keagamaan. NU juga berhadapan dengan digitalisasi, perubahan generasi, ekonomi, geopolitik, komunikasi publik, perubahan tata dunia, dan perebutan otoritas pengetahuan di ruang digital.

Karena itu, seorang pemimpin NU membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara di forum keagamaan. Ia membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, membaca perubahan, membangun komunikasi, mengambil keputusan, dan menerjemahkan nilai-nilai pesantren ke dalam dunia yang terus berubah.

Bukan Produk Jalur Kaderisasi Konvensional

Di sinilah posisi Gus Kikin menjadi menarik untuk dianalisis. Ia bukan figur yang dikenal tumbuh melalui jalur IPNU–PMII–Ansor. Modal utamanya bukan semata-mata pengalaman organisasi kepemudaan.

Modalnya justru bertumpu pada genealogi ulama, tradisi pesantren, pengalaman profesional, dunia usaha, dan kepemimpinan kelembagaan.

Karena itu, jangan memaksakan Gus Kikin untuk dibaca dengan cetakan kader NU yang konvensional. Ada pemimpin yang lahir dari organisasi. Ada pemimpin yang lahir dari birokrasi. Ada pemimpin yang lahir dari gerakan sosial. Dan ada pula pemimpin yang lahir dari pesantren, keluar menghadapi dunia, lalu kembali membawa pengalaman dunia tersebut ke dalam pesantren.

Gus Kikin lebih dekat pada kategori terakhir.

Dari Sanad ke Manajemen, dari Pesantren ke Organisasi Jika diringkas, perjalanan Gus Kikin sesungguhnya adalah perjalanan dari sanad menuju manajemen. Ia memperoleh akar keilmuan dari ayahnya, hidup dalam tradisi pesantren, kemudian memasuki pendidikan profesional, bekerja di dunia pelayaran, mengenal dunia usaha, mendalami komunikasi, kembali menjadi bagian penting dari kepemimpinan Tebuireng, dan akhirnya memasuki arena kepemimpinan NU.

Maka, kekuatan Gus Kikin tidak semestinya hanya diukur dari berapa lama ia berada dalam struktur organisasi NU.

Lebih penting adalah apa yang dibawanya ketika memasuki struktur tersebut.
Sebab NU membutuhkan pemimpin yang bukan hanya memahami masa lalu, tetapi juga mampu membaca masa depan.

Sanad menjaga akar. Pengalaman memperluas pandangan. Manajemen membuat organisasi bergerak. Dan pesantren memastikan seluruh gerak itu tidak kehilangan arah.

Di titik inilah Gus Kikin layak dibaca: bukan sekadar sebagai seorang keturunan ulama, bukan pula hanya sebagai pengusaha yang kemudian menjadi kiai, tetapi sebagai figur yang mengalami perjalanan lintas dunia dari pesantren ke pelayaran, dari profesionalisme ke dunia usaha, dari dunia usaha kembali ke pesantren, dan dari pesantren menuju kepemimpinan NU.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi sekadar “Gus Kikin kader siapa?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Tradisi keilmuan apa yang ia bawa, pengalaman apa yang ia miliki, dan NU seperti apa yang hendak ia bangun dengan seluruh bekal tersebut? Di situlah kualitas kepemimpinan Gus Kikin sesungguhnya akan diuji.

*BEY ARIFIN adalah gusPemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry