JATUH BANGUN : Suasana lomba bakiak yang digelar di SDN Klampis Ngasem Surabaya, Selasa.(10/10). DUTA/endang

SURABAYA|duta.co – Mainan tradisional sudah hampir punah tergerus oleh permainan modern. Buktinya anak-anak sudah tidak lagi memgenal dakon, enggrang, bakiak dan sejenisnya. Mereka lebih mengenal permainan di game online karena sudah dipengaruhi gadget-gadget canggih.

Ini sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan. Karenanya banyak pihak yang merasa peduli dan terpanggil untuk melestarikan itu. Salah satunya Jane Permana. Pemilik Impact Plus ini menggandeng 30 sekolah dasar di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik untuk ambil bagian dalam acara bertajuk Anak Indonesia Cinta Mainan Indonesia ini.

Salah satu sekolah yang didatangi adalah SDN Klampis Ngasem Surabaya. Sekolah ini sangat antusias menyambut ajang ini bahkan siswa-siswinya sengaja diliburkan tidak ada pelajaran. Para guru dan siswa semuanya sengaja memakai baju tradisional. Banyak permainan digelar bahkan dilombakan. Seperti ular tangga, dakon, kelereng, bakiak. Dan ada satu permainan lagi yakni enggrang.

Seluruh siswa tampak antusias mengikuti semua lomba. Tiga siswa kelas 4B Karma, Atika dan Khoiriya rela walau harus jatuh bangun mencapai finish saat lomba bakiak. Dengan ngos-ngosan ketiganya tampil maksimal walau harus kalah dengan tim lainnya. “Tidak apa-apa kalah yang penting sudah berusaha,” kata Karma selaku ketua tim yang berada di paling depan lomba itu.

Wakil kepala sekolah bidang peningkatan mutu Aan Faizatur Rahmah mengaku senang semua muridnya antusias terlibat dalam acara itu. “Permainan-permainan seperti itu sudah mereka kenal sebelumnya. Jadi mereka antusias,” ungkapnya.

Sekolah tersebut memang dikenal sebagai sekolah berbudaya mutu. Bahkan mendapat penghargaan dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Melestarikan budaya ini memang menjadi program sekolah di kawasan Surabaya Timur ini. Bahkam setiap Rabu guru dan siswa mengenakan busana Cak dan Ning Suroboyo. Tidak hanya itu mereka juga diwajibkan berbicara dalam Bahasa Jawa dan menulis aksara Jawa. “Ada ekstra karawitan sama membatik juga,” ungkap Aan.

 

Melestarikan budaya terutama permainan tradisional ini memang salah satu cara untuk mengurangi penggunaan gadget bagi anak. Karena gadget sudah  merebut hak anak untuk bermain dan bersosialidasi dengan sesamanya. Jane Permana mengaku sengaja menggelar even seperti ini karena permainan anak mulai punah dan digantikan permainan yang modern dalam gadget. “anak-anak sangat betah main gadget hingga limaa jam. Saya ingin menunjukkan pada anak bahwa permainan tradisional itu jauh lebih menyenangkan karenanya saya buat permainan ini berkelompok agar mereka juga peduli bahwa bekerjasama dengan orang lain itu sangat penting,” jelasnya.

Tidak mengherankan program yang digagas Jane Permana ini mendapat dukungan banyak pihak. Salah satunya adalah dari pihak swasta yakni PT Kino Indonesia Tbk. Senior Public Relations Kini indonesia Tbk, Yuna Kristina mengaku senang bisa mendukung program ramah anak seperti ini. “Kita memiliki visi yang sama yakni melestarikan budaya lokal untuk menuju globalisasi,” tandas Yuna. end

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan