(Refleksi Hari Pertama Suluk Ramadhan 1447 H; Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Asuhan Sang Mursyid, Syeikh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

HARI-hari ketika ruh mulai bergerak perlahan meninggalkan kabut dunia telah kembali. Suluk Ramadhan 1447 Hijriah hadir bukan sekadar sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai panggilan langit yang turun bersama cahaya bulan suci. Di bulan di mana setiap napas bernilai ibadah, setiap lapar menjadi pengingat, dan setiap air mata menjadi doa, suluk menjelma tangga rahasia menuju kedalaman makna.

Ramadhan adalah madrasah. Dan suluk adalah ruang khalwat di dalam madrasah itu. Di sinilah waktu tak lagi sekadar berdetak, melainkan berdzikir. Siang dipenuhi sabar dalam puasa, malam diterangi qiyamul lail, dan hati perlahan dituntun untuk mengenali kembali arah pulangnya.

Kamis sore, 26 Februari 2026 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 H menjelang malam pertama, halaman padepokan dipenuhi langkah-langkah tenang para ikhwan. Dimulai dengan shalat ashar berjemaah bersama Sang Mursyid, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, suasana terasa teduh meski mentari Ramadhan masih menyisakan hangatnya. Para ikhwan lama duduk melingkar, melanjutkan wirid, tawajjuh dan Ngaji Qalbu yang telah menjadi denyut nadi perjalanan mereka.

Lingkar dalam adalah berisi para murid yang telah dibai’at, sementara para calon murid yang pada periode Suluk Ramadhan kali ini sangat banyak berada di lingkar luar, duduk dalam diam yang sarat harap. Mereka datang dengan jiwa terbuka, membawa beban, doa, dan kerinduan yang mungkin tak pernah terucap. Mereka belum tersambung secara ruhani, tetapi langkah mereka telah digerakkan oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keinginan.

Tausiyah Hikmah menjadi pintu awal. Bukan sekadar penyampaian ilmu, melainkan pembasuhan batin. Kata-kata Sang Guru mengalir seperti air yang menyejukkan dahaga panjang. Para calon tidak hanya diajak memahami, tetapi diajak merasakan. Disiapkan bukan hanya jasadnya, tetapi jiwanya.

Menjelang maghrib, suasana berubah menjadi haru yang hangat. Adzan berkumandang, dan seluruh ikhwan berbuka puasa bersama dalam kebersahajaan. Kurma dan air putih terasa begitu manis, bukan karena rasanya semata, tetapi karena kebersamaan yang diliputi syukur. Di antara suapan sederhana itu, ada tawa kecil, ada doa lirih, ada rasa persaudaraan yang tumbuh tanpa dibuat-buat.

Setelah shalat maghrib berjemaah dan dzikir yang mengalun lembut, malam beranjak menuju isya’. Shalat isya’ dilanjutkan dengan tarawih yang khusyuk. Dalam saf-saf yang rapi, bacaan Al-Qur’an menggema, seolah ayat-ayat itu turun kembali menyentuh hati yang haus cahaya. Tarawih di tengah suluk bukan sekadar rutinitas Ramadhan; ia adalah pertemuan intim antara hamba dan Rabb-nya, dalam irama rukuk dan sujud yang panjang.

Usai tarawih, para ikhwan lama kembali tenggelam dalam tawajjuh. Sementara para calon memasuki fase mandi tobat, sebuah simbol pembersihan lahir dan batin di bulan yang memang diturunkan sebagai bulan pengampunan. Air yang mengalir bukan hanya membasuh tubuh, tetapi menjadi perlambang gugurnya dosa dan masa lalu yang ingin ditinggalkan.

Malam semakin larut, namun ruh justru semakin terjaga. Beberapa dituntun melaksanakan shalat sunnah khusus, lalu beristirahat dalam suasana hening yang sarat makna. Namun istirahat itu bukan sekadar memejamkan mata. Ia memiliki nama, memiliki kaifiyah, memiliki rahasia yang diwariskan para salik terdahulu. Ia disebut Tidur Fana.

Sebuah cara merebahkan diri yang bukan hanya gerakan jasad, tetapi latihan batin. Kepala diletakkan di arah utara, wajah menghadap kiblat, pipi kanan menyentuh alas dengan penuh kesadaran, tubuh berselimutkan kain sederhana, seolah kafan yang lembut mengingatkan hakikat akhir perjalanan manusia. Sunyi. Hening. Tanpa percakapan. Tanpa gelak tawa. Hanya napas yang perlahan menjadi dzikir.

Tidur fana bukan tidur biasa. Ia adalah simbol memfanakan diri sebelum perjalanan panjang (thariqah) menuju Allah dimulai. Sebuah pengakuan diam bahwa ego harus lebih dulu direbahkan sebelum jiwa diizinkan berdiri di hadapan Cahaya. Dalam posisi itu, seorang calon salik seakan berkata tanpa suara: “Ya Allah, sebelum Engkau bangkitkan aku dalam jalan-Mu, matikanlah terlebih dahulu kesombongan dan keakuanku.”

Adzan dan iqamah yang mengiringi kaifiyah ini bukan sekadar seremoni. Ia seperti panggilan bagi ruh untuk bersiap menanggalkan dunia. Seolah-olah kematian kecil dilatih dalam kesadaran, agar ketika bangkit nanti, yang berdiri bukan lagi diri lama, melainkan diri yang telah disentuh taubat.

Dalam tidur fana, dunia terasa jauh. Jabatan, nama, dan cerita masa lalu perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah seorang hamba, terbaring dalam kerendahan, menunggu fajar sebagai tanda kebangkitan batin.

Dan ketika dini hari membangunkan mereka, itu bukan sekadar bangun dari tidur. Itu adalah bangun dari kelalaian. Bangkit dari kefanaan diri menuju perjalanan mengenal Yang Maha Kekal.

Begitulah, sebelum melangkah jauh dalam suluk, para pencari diajak lebih dulu merasakan “mati” dalam kesadaran. Agar ketika mereka hidup kembali, yang hidup adalah qalbu, yang siap menapaki jalan menuju Allah dengan lebih ringan, lebih tunduk, dan lebih jernih.

Pukul 03.00 dini hari, Shalat Tahajjud, Shalat Taubat An-Nashuha, Li Ridhaaillah, Li Syukrillah dan Li Fadhlillah ditegakkan dengan berjemaah dipimpin langsung oleh Sang Mursyid, dan tawajjuh kembali dilaksanakan. Tangis terdengar di sudut-sudut ruang, namun bukan tangis kesedihan, melainkan tangis pengakuan dan kerinduan. Subuh berjemaah menjadi penutup malam yang agung, disusul dzikir pagi yang mengalir lembut seperti embun Ramadhan.

Berhubung Subuh pada Ramadhan kali ini jatuh pada pkl. 04.33, maka pada pukul 04.00 dini hari, suasana kembali hidup. Sahur bersama menjadi momen yang menggetarkan dengan cara yang berbeda. Tidak riuh, tidak berlebihan, tetapi penuh adab dan kesadaran. Setiap suapan diniatkan sebagai bekal ibadah. Setiap teguk air menjadi penguat langkah menuju ridha-Nya. Dalam cahaya lampu yang temaram, wajah-wajah itu tampak damai, seolah telah menemukan tempat pulang.

Dan tibalah saat yang paling sakral. Di pagi yang bening itu, tepat pukul 06.47 WIB, para calon ikhwan baru dibai’at. Sebuah sumpah batin di bulan suci. Ikrar untuk menempuh jalan dzikir, istiqamah, dan taubat tanpa henti. Bai’at bukan sekadar ritual; ia adalah penyambungan ruhani kepada mata rantai para masyayikh, para guru dan para mursyid yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Ramadhan menjadikan bai’at itu terasa berlipat maknanya. Di bulan di mana pintu langit dibuka, janji itu diucapkan. Di bulan di mana setan dibelenggu, ego justru diuji untuk ditundukkan. Di bulan di mana rahmat dilimpahkan, para salik memohon agar ditetapkan dalam jalan cahaya.

Suluk Ramadhan bukan pelarian dari dunia. Ia adalah latihan untuk kembali ke dunia dengan hati yang lebih bersih. Ia adalah proses menata batin agar aktivitas duniawi tidak lagi mengeraskan jiwa. Ia adalah cara untuk belajar lapar, agar tahu arti cukup; belajar diam, agar tahu arti kata; belajar tunduk, agar tahu arti kemuliaan.

Hari pertama Suluk Ramadhan 1447 H menjadi semacam kelahiran kembali. Bagi yang merasakannya, ia sulit dilukiskan. Ada kebahagiaan yang sunyi, ada haru yang tak ingin diumbar. Dan bagi yang belum pernah, semoga tulisan ini menjadi doa yang berjalan pelan menuju hatimu.

Ini bukan ajakan yang lantang. Bukan seruan yang menghakimi. Hanya bisikan lembut di bulan suci. Bahwa di tengah kesibukan, ada ruang hening yang menunggu untuk dimasuki. Di tengah lapar dan dahaga dunia, ada dahaga ruh yang lebih dalam untuk dipenuhi.

Suluk bukan tentang merasa suci. Ia tentang keberanian mengakui kelemahan. Tentang duduk diam di hadapan Allah dengan hati terbuka, tanpa topeng, tanpa gelar, tanpa kedudukan.

Jika engkau merasa letih, jika hatimu terasa sempit, jika dunia terasa begitu berat, mungkin Ramadhan ini adalah waktunya untuk menepi sejenak.

Mari bergabung bersama kami, bukan karena kami lebih baik, tetapi karena kita sama-sama ingin pulang. Pulang kepada-Nya dengan langkah kecil yang ditemani dzikir, puasa, tarawih, sahur, dan tangis yang jujur.

Suluk adalah perjalanan. Dan setiap perjalanan yang ikhlas, selalu dijanjikan cahaya di ujungnya.

Ketika engkau siap, jalan ini terbuka.
Dan kami menunggumu dalam diam, dalam doa, di sini: Pondok Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah Jl. Perumahan Batu Alam Permai Blok I No. 10 Batu Ampar, Condet Raya, Jakarta Timur.

Ramadhan 1447 H
Dalam Cahaya dan Doa.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry