Anwar Holil – Dosen PGSD

Laporan Bank Dunia yang dipublikasikan dalam buku World Development Report (2017) menemukan bahwa tanpa pembelajaran maka pendidikan akan gagal memenuhi janjinya untuk menghapus kemiskinan, menciptakan kesempatan, dan kesejahteraan bersama bagi semua.

Bank Dunia juga menyebut sekitar 55 persen anak usia 15 tahun di Indonesia secara fungsional tidak dapat membaca atau tidak dapat memahami apa yang mereka baca. Laporan ini menunjukkan bahwa banyak siswa Indonesia yang bersekolah tetapi mereka tidak belajar. Sekolah tanpa belajar hanya enjadi kegiatan yang sia-sia.

Berkaca dari laporan tersebut, maka penting bagi guru untuk memfasilitasi siswa untuk belajar lebih aktif dalam pembelajaran. Bila guru masih mendominasi pembelajaran dengan ceramah, papan tulis menjadi satu-satunya alat mengajar, dan sumber belajar terbatas pada buku paket, maka laporan Bank Dunia tersebut akan menjadi masalah yang terus banyak terjadi di sekolah.

Untuk itu guru harus memastikan siswa belajar optimal di kelas. Yang salah satu caranya dengan menerapkan unsur pembelajaran aktif: mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi atau disingkat MIKiR. Tanoto Foundation melalui Program PINTAR mengembangkan MIKiR untuk memastikan para guru mengajar dengan pendekatan pembelajaran aktif. Lalu bagaimana penerapannya dalam pembelajaran?

Pada kegiatan mengalami (M), siswa difasilitasi untuk melakukan kegiatan (doing) seperti percobaan, berwawancara dan atau mengamati (observing). Dalam merancang kegiatan ini, guru perlu menyiapkan penugasan atau pertanyaan yang mendorong siswa melakukan kegiatan atau pengamatan untuk menjawabnya.

Untuk memungkinkan hal ini, guru diperkenalkan pula pada pertanyaan Produktif, Imajinatif, dan Terbuka. Ketiga jenis pertanyaan tersebut dapat memantik siswa untuk selain ‘doing’ dan ‘observing’, juga  berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan HOTS (higher order thinking skill).

Tugas yang diberikan untuk siswa misalnya, bagaimanakah bentuk bayangan pohon pada pagi, siang, dan sore hari? Atau temukan perbedaan metamorfosis kupu-kupu dari 3 jenis ulat yang berbeda.

Untuk mendapat jawabannya, siswa harus melakukan pengamatan bayangan pohon yang terjadi pada tiga perbedaan waktu. Siswa juga harus melakukan percobaan dengan mengambil tiga jenis ulat yang berbeda untuk diamati proses metamorfosis yang terjadi dengan ulat tersebut. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa dapat belajar dengan berpraktik.

Kemudian untuk kegiatan Interaksi (I), siswa difasilitasi melakukan proses pertukaran gagasan antar dua orang atau lebih. Kegiatannya, setelah siswa melakukan pengamatan bayangan pohon di siang hari, guru memandu siswa untuk mendiskusikan hasil pengamatannya tentang bayangan yang terjadi pada pohon tersebut.

Siswa akan lebih percaya diri saat berinteraksi atau berdiskusi dengan teman-temannya karena sudah mengalami sendiri proses belajar tersebut. Seringkali siswa pasif dalam berdiskusi karena tidak memiliki bekal yang cukup untuk menyampaikan pengalaman belajarnya.

Berikutnya adalah Komunikasi (Ki). Pada kegiatan ini siswa menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaannya kepada orang lain. Komunikasi yang dilakukan bisa dalam bentuk lisan maupun tulisan. Misalnya siswa menyampaikan laporan hasil diskusi dengan kelompoknya tentang perubahan bayangan pohon yang mereka amati.

Pada kegiatan komunikasi, guru memiliki peran penting dalam memfasilitasi diskusi kelas sehingga siswa terlibat aktif menanggapi presentasi temannya. Guru juga bisa memberikan penguatan atau koreksi terhadap presentasi siswa.

Kegiatan terakhir adalah Refleksi (R). Siswa difasilitasi melihat kembali pengalaman belajar dan mengambil pelajaran (lesson learned) agar bisa belajar lebih baik pada pembelajaran berikutnya. Misalnya, siswa bisa dipandu menuliskan apa yang sudah saya pelajari hari ini? Apa manfaat dari pelajaran hari ini? Bagaimana proses belajar saya tadi? Apa yang masih membingungkan? Atau Apa lagi yang ingin saya pelajari?

Panduan pertanyaan tersebut untuk memudahkan siswa menunjukkan pengalaman belajar yang diperolehnya. Siswa juga bisa membuat rencana tindaklanjutnya untuk mendalami materi pembelajaran tersebut.

Yang juga perlu diperhatikan, unsur pembelajaran aktif MIKiR ini bukan sebuah urutan atau sekuensial pembelajaran. Kegiatan dari setiap unsur juga dapat terjadi beberapa kali dalam satu proses pembelajaran.

Ada kalanya beberapa unsur tersebut muncul bersamaan. Misalnya, dalam melakukan percobaan secara berkelompok, siswa melakukan percobaan untuk mendapatkan data (mengalami). Namun, di saat melakukan percobaan ada pertukaran ide (interaksi), menemukan gagasan baru (refleksi) dan menyampaikan pendapat (komunikasi).

Yang juga menjadi ciri dari penerapan MIKiR adalah guru perlu mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Tujuannya untuk mendorong siswa belajar secara kooperatif dengan teman sekelompoknya. Tempat duduk ditata yang memudahkan mobilitas siswa untuk berinteraksi dan bekerja sama. Hasil karya siswa juga dipajang di kelas untuk menjadi sumber belajar dalam pembelajaran.

Unsur pembelajaran aktif MIKiR ini dapat diintegrasikan dengan beragam model, metode, atau pendekatan pembelajaran. Penerapan MIKiR ini menjadi indikator bahwa siswa telah benar-benar belajar langsung dari pengalaman berpraktik dalam pembelajaran. Pada saat yang sama, siswa juga dipersiapkan memiliki keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, memecahkan masalah secara kreatif, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik melalui penerapan MIKiR tersebut.  *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.