Reizano Amri Rasyid, ST., MMT. – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

DUNIA saat ini sangat susah sekali diprediksi dan menyuguhkan ketidakpastian yang tinggi. Bagaimana tidak? perubahan iklim yang ekstrem sampai dengan kekhawatiran akan meletusnya perang dunia ke tiga, ditambah ancaman menakutkan dari virus covid – 19 (corona) ini seakan menambah sulitnya situasi untuk dapat melihat potensi dan celah usaha.

Ditambah semakin banyaknya berita – berita hoax yang membuat para pelaku usaha pun semakin dibuat pusing dalam mengambil sebuah keputusan penting di sebuah organisasi atau perusahaan. Fenomena yang saat ini terjadi dikenal dengan istilah VUCA, dimana Istilah ini pertama kali digunakan di kalangan militer Amerika Serikat pada tahun 1990an untuk menggambarkan kondisi yang rapuh, tidak pasti, kompleks, serta ambigu.

 VUCA sendiri merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity dan sekarang menjadi istilah umum yang digunakan untuk mempresentasikan kondisi sekarang, khususnya pada kondisi bisnis.

Hal apa yang harus dilakukan dalam menghadapi hal diatas? Pakar pemasaran Indonesia, Hermawan Kartajaya dalam salah satu bukunya menyebutkan bahwa strategi marketing saja tidaklah cukup di dalam menghadapi ketidakpastian bisnis seperti saat ini, dibutuhkan juga sebuah “Momentum” yang tepat.

Lalu bagaimana cara menemukan momentum? Tidak hanya dengan bekerja keras, akan tetapi juga harus dilakukan sesuai situasi, waktu, dan tempat yang pas. Arti kata momentum sendiri di bidang Fisika adalah besaran yang berkaitan dengan benda yang besarnya sama dengan hasil kali massa benda yang bergerak itu dan kecepatan geraknya.

Momentum juga berarti kuantitas gerak. Rumus momentum adalah P=MV, dimana P melambangkan momentum yang merupakan hasil perkalian antara M (massa) dan V (velocity/kecepatan). Semakin besar momentumnya, semakin besar pula dampak yang dihasilkan.

Lanjut menurut Hermawan, di marketing, massa dianalogikan dengan Omni Brand. Ini mengacu pada semua service yang dilakukan oleh pengelola merek. Dari upaya membangun positioning, differensiasi, brand, hingga segmentasi, targeting, marketing mix, selling, service, hingga proses.

Sementara, omni mengacu pada integrasi antara hal-hal yang kontradiktif, seperti online-offline, kuantitas-kualitas, content-context, dan sebagainya. Velocity mengacu pada kecepatan. Terutama kecepatan memanfaatkan momentum. Kunci keberhasilannya bukan pada kecepatan itu sendiri, tetapi pada ketepatan, entah waktu, kondisi, maupun tempat.

Bagaimana cara memanfaatkan momentum? Momen akan selalu berbeda di setiap saat, dan premis dari kebutuhan masyarakat selalu berubah ubah dari waktu ke waktu karena banyak sekali yang perlu dipertimbangkan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Pebisnis yang cermat akan memanfaatkan momen yang ada untuk dijadikan peluang bisnis yang menguntungkan dimana setiap produk yang akan dijual disesuaikan terlebih dahulu dengan keadaan pasar atau segmentasi pasar yang ada.

Memanfaatkan momentum bisa melalui dua pendekatan. Pertama, riding the momentum. Misalnya, mempromosikan dan menjual produk melalui platform sosial media yang sedang lagi trend seperti instagram dan TikTok, sebab kedua platform sosial media ini sedang digandrungi oleh para gen Z dan generasi millennial saat ini, atau mungkin yang paling umum adalah menjual takjil dan baju muslim pada saat bulan puasa. Kedua, creating the momentum.

Di sini, orang tidak sekadar menunggu momentum, tetapi justru menciptakan momentum itu sendiri. Contohnya, dalam mempromosikan diri sebagai kampus yang supporting terhadap entrepreneurship, Unusa mengadakan even tahunan yang diberi nama EnPlus (Entreprenuer Plus). Kegiatan ini menghadirkan booth produk inovasi mahasiswa yang kreatif dalam rangka mendorong para mahasiswa agar memiliki jiwa entrepreneur dan juga menghadirkan para influencer, creative content, untuk bisa berbagi pengalaman sampai dengan memberikan wawasan terkait ide bisnis yang inovatif.

Hal ini dimaksudkan agar EnPlus ke depan dapat menjadi sebuah even yang memiliki suatu engagement dengan segment market nya, sehingga dapat menciptakan sebuah Wow Effect terhadap brand awareness Unusa sebagai kampus entrepreneur yang Rahmatan Lil Alamin. So, dapat dikatakan bahwa momentum is all about creativity!, dimana kreativitas suatu pengelola merek di challange untuk bisa memanfaatkan situasi.

 Tidak harus menciptakan momentum skala besar, momentum skala kecil atau bahkan mikro pun bila dikelola dengan baik akan bisa memberikan dampak dan hasil yang optimal bagi perusahaan. Pada akhirnya, dalam situasi apa pun, pebisnis dirasa wajib untuk bisa jeli dalam melihat suatu peluang. Peluang ada dalam setiap momentum dan bisa diciptakan. Termasuk dalam situasi krisis yang seolah-olah tanpa harapan, momentum akan selalu ada dan tidak perlu ditunggu. “Setiap peluang tidak datang begitu saja, karena andalah yang menciptakannya.” *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry