CATATAN PINGGIR
DR. ROMADLON SUKARDI, MM*

PENGHARGAAN sesungguhnya bukanlah tujuan akhir dari sebuah kepemimpinan. Ia hanyalah penanda bahwa sebuah proses sedang berjalan pada rel yang benar. Karena itu, ketika Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menerima dua penghargaan sekaligus dalam ajang *Disway Top Regional Leader Awards 2026* sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan Penguat Ketahanan Pangan Nasional, yang sesungguhnya mendapat pengakuan bukan sekadar sosok pemimpinnya, melainkan model kepemimpinan yang berhasil menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Dalam perspektif pembangunan modern, keberhasilan suatu daerah tidak lagi diukur hanya dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu mampu menciptakan kesejahteraan, menjaga stabilitas sosial, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menghadirkan harapan bagi masa depan. Di sinilah Jawa Timur menunjukkan sebuah model pembangunan yang relatif lengkap dan berkelanjutan.

Kepemimpinan transformatif selalu ditandai oleh kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang. Ketika banyak daerah menghadapi tekanan akibat berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD), Pemerintah Provinsi Jawa Timur justru menjadikan situasi tersebut sebagai momentum untuk melahirkan berbagai inovasi pembiayaan pembangunan melalui pendekatan *creative financing.* Cara berpikir seperti ini menunjukkan karakter seorang pemimpin yang tidak terjebak pada keterbatasan, tetapi mampu menemukan jalan keluar melalui kreativitas, kolaborasi, dan optimisme.

Dalam dunia kepemimpinan, ini disebut sebagai growth mindset leadership—kepemimpinan yang melihat setiap persoalan sebagai ruang inovasi. Bukan mengeluh karena sumber daya berkurang, tetapi mencari cara agar produktivitas tetap bertambah. Bukan menyerah pada keadaan, tetapi menciptakan solusi yang melampaui keadaan.

Lebih dari itu, keberhasilan Jawa Timur mempertahankan posisinya sebagai motor ekonomi nasional tidak lahir secara kebetulan. Berbagai program strategis seperti misi dagang antarprovinsi maupun internasional, penguatan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, pemberdayaan koperasi, hingga perluasan akses pasar bagi pelaku usaha merupakan bagian dari ekosistem pembangunan yang dirancang secara terintegrasi. Hasilnya terlihat nyata melalui tingginya nilai transaksi misi dagang yang terus menembus angka triliunan rupiah dan menggerakkan ekonomi rakyat hingga ke tingkat bawah.

Namun yang lebih menarik adalah keberhasilan tersebut tidak dibangun di atas fondasi ekonomi semata. Ia berdiri di atas tiga pilar besar yang saling menguatkan, yakni pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Ketika ekonomi tumbuh, masyarakat memperoleh kesempatan usaha.
Ketika pangan terjaga, masyarakat memperoleh kepastian hidup.
Ketika pendidikan diperkuat, masyarakat memperoleh masa depan.

Inilah esensi pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya. Tidak mengherankan apabila Jawa Timur hari ini mampu mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan nasional. Data menunjukkan bahwa potensi produksi padi Jawa Timur periode Januari–Juli 2026 mencapai 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), tertinggi di Indonesia. Capaian ini bukan hanya angka statistik, melainkan bukti nyata bahwa ekosistem pertanian Jawa Timur mampu bertahan dan berkembang di tengah ancaman perubahan iklim global.

Di balik keberhasilan tersebut terdapat wajah kepemimpinan yang empatik. Kepemimpinan yang memahami bahwa petani bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama yang harus diperkuat kapasitasnya. Karena itu kebijakan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga menyentuh aspek benih unggul, irigasi, alat mesin pertanian, teknologi budidaya, hingga perlindungan terhadap risiko gagal panen.

Inilah bentuk nyata dari filosofi pembangunan yang berorientasi pada manusia (humancentered development).

Kepemimpinan yang tidak hanya menghitung tonase hasil panen, tetapi juga memikirkan kesejahteraan petaninya.

Tidak hanya menghitung angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memikirkan kualitas hidup masyarakatnya. Tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun infrastruktur sosial dan intelektual.

Dalam konteks inilah Program Unggulan Nawa Bhakti Satya menemukan relevansinya. Pilar Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Cerdas, Jatim Akses, Jatim Agro, hingga Jatim Berkah sesungguhnya tidak berdiri sendiri-sendiri. Seluruhnya dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem pembangunan yang saling terhubung.

Keberhasilan sektor pertanian memperkuat Jatim Agro. Pun pertumbuhan ekonomi memperkuat Jatim Kerja dan Jatim Sejahtera.
Peningkatan kualitas pendidikan memperkuat Jatim Cerdas. Reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan memperkuat Jatim Akses dan Jatim Amanah.

Sementara nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan menjadi ruh dari Jatim Berkah.
Bahkan keberhasilan mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama sebelas tahun berturut-turut menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan memiliki fondasi tata kelola yang kuat, transparan, dan akuntabel. Kepercayaan publik dan kepercayaan investor tidak lahir dari slogan, tetapi dari konsistensi dalam membangun kredibilitas pemerintahan. Kredibilitas itulah yang pada akhirnya menjadi modal sosial terbesar bagi pembangunan daerah.

Pada akhirnya, penghargaan yang diterima Gubernur Khofifah bukanlah sekadar piala yang dipajang di etalase prestasi. Ia adalah simbol dari sebuah proses panjang membangun Jawa Timur dengan pendekatan yang transformatif, inovatif, kreatif, empatik, kolaboratif, progresif, dan berkelanjutan.
Karena sesungguhnya pemimpin besar tidak hanya meninggalkan proyek pembangunan.
Pemimpin besar meninggalkan sistem yang terus bekerja. Pemimpin besar tidak hanya menghasilkan pertumbuhan. Tetapi juga melahirkan harapan. Tidak hanya membangun ekonomi. Tetapi juga membangun peradaban.

Dan ketika ekonomi bertumbuh, pangan terjaga, pendidikan meningkat, tata kelola menguat, serta masyarakat merasakan manfaatnya secara nyata, maka penghargaan terbaik sesungguhnya bukanlah yang diberikan oleh lembaga mana pun. Melainkan kepercayaan rakyat yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.

Itulah modal utama menuju Jawa Timur yang semakin maju, berdaya saing global, dan menjadi lokomotif Indonesia Emas 2045.

*Dr. ROMADLON SUKARDI, MM adalah Pemerhati Kebijakan Publik, Pendidikan, dan Pembangunan Peradaban.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry