Oleh: Ustadz Ahmad Rifai, S.Pd, M.Pd, Gr*

SEBAGAI seorang santri yang selama ini bertugas di kesunyian ndalem, merawat barang-barang antik milik Ayahanda KH. Imam Jazuli bukan sekadar perkara membersihkan debu fisik. Namun bagi saya, ini adalah laku merawat sejarah, menjaga wasilah, dan membaca lirik-lirik spiritual yang tersimpan dalam benda-benda sunyi dan mistis tersebut.

Ahad malam 28 Juni 2026, menjadi sebuah momentum yang menggetarkan hati saya. Ayahanda Kiai Imam Jazuli memutuskan untuk melepas lagi dua pusaka terbaiknya kepada Gus Muhaimin, sebuah Keris Jangkung Pacar era Mataram tahun 1611 dan selembar Kiswah Ka’bah tahun 1995.

Melihat kedua benda mulia itu berpindah tangan dari ruang wingit ndalem pusaka Bina Insan Mulia Cirebon, mungkin ada sebuah pesan tersirat khusus dari Ayahanda kepada Gus Muhaimin, ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa tentang makna kepemimpinan, kekuasaan, dan jalan spiritual.

Keris Jangkung dengan luk tiga (3) secara metalurgi dan esoteris selalu memuat doa tentang keluhuran budi, perlindungan, dan pencapaian hajat. Ditempa pada tahun 1611 di era kejayaan Kerajaan Mataram, dengan wirangka batu giok bergambar tokoh pewayangan Bima Werkudara, keris ini bukan sekadar senjata, melainkan legitimasi kepemimpinan yang bersumber dari rakyat dan direstui langit.

Angka tiga melambangkan tiga fase kehidupan manusia, atau dalam tradisi santri menyerupai trilogi hubungan: Islam, Iman, dan Ihsan. Sementara kata “Jangkung” berarti mengayomi atau melindungi. Kiai Imam Jazuli seolah sedang menitipkan pesan sunyi kepada Gus Muhaimin bahwa kekuasaan sejati bukanlah alat untuk menundukkan, melainkan payung yang melindungi mereka yang lemah.

Sifat tangguh dari besi Mataram berpadu dengan kelembutan doa sang empu. Ini adalah simbol bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketegasan dalam prinsip (bagaikan besi), namun tetap luwes dan jeli melihat realitas (bagaikan lekukan luk).

Jika Keris Jangkung Pacar berbicara tentang bagaimana manusia bersikap di bumi (hablum minannas), maka selembar Kiswah Ka’bah peninggalan tahun 1995 ini adalah pengingat mutlak kembalinya kita ke langit (hablum minallah).

Kiswah adalah pakaian dari Rumah Tuhan. Kain hitam berhias kaligrafi emas ini menyimpan memori jutaan doa, tangisan, dan kepasrahan manusia sedunia. Menghadiahkan Kiswah bersamaan dengan keris adalah simbol keseimbangan sempurna. Sebesar apa pun kekuasaan duniawi yang disimbolkan oleh keris Mataram, ia harus tunduk dan berselimut di bawah keagungan takdir ilahi yang dilingkupi oleh Kiswah.

Potongan kiswah yang dibuat tahun 1995 menandai sebuah garis waktu penting, di mana nilai-nilai kebaikan yang dianyam di masa lalu kini diestafetkan untuk menjadi kompas moral di masa depan.

Sebagai santri yang sehari-hari akrab dengan aura kedua benda ini, saya melihat pemberian ini bukan sekadar hadiah seremonial. Ini adalah peristiwa ijazah maknawi. Ayahanda Kiai Imam Jazuli sedang berharap serta merajut dua dimensi penting dalam diri seorang pemimpin nasional, dan itu adalah Gus Muhaimin.

Pemimpin yang ideal harus memegang teguh kedaulatan, martabat, dan sejarah bangsanya (Keris), sekaligus meletakkan seluruh jiwanya di bawah naungan ketauhidan yang murni (Kiswah). Keris diletakkan di pinggang sebagai lambang kesiapan berjuang, namun hati harus tetap menatap Ka’bah (Kiswah) agar kekuasaan tidak berbuah kesombongan.

Sebagaimana yang disampaikan Ayahanda di atas panggung, bahwa keris pusaka itu adalah warisan raja mataram, tatkala ia beralih genggaman ke tangan Gus Muhaimin, semoga menjadi sebuah isyarat kuat yang mengantar langkah beliau kelak menjadi pemimpin besar, sang raja Jawa yang membawa kemakmuran dan kejayaan bagi seluruh Nusantara. Amin.

Malam itu, kamar penyimpanan barang antik di ndalem terasa lebih lengang, namun dada saya dipenuhi rasa takzim yang luar biasa. Kedua pusaka itu kini telah menemukan pengelana baru. Doa kami para santri, semoga pancaran filosofi luhur dari Keris Jangkung Pacar dan berkah suci Kiswah Ka’bah senantiasa mengiringi setiap langkah perjuangan Gus Muhaimin untuk bangsa ini.(*)

*Mahasiswa program doktoral, fakultas hukum, Universitas Swadaya Gunung Djati Cirebon.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry