Siswi double track di SMAN 1 Kendal Ngawi sedang membuat kerajinan keset dari kain perca di sekolah mereka, saat visitasi Tim Double Track ITS, Sabtu (23.11) lalu. DUTA/endang

Tahun kedua berjalan, program double track (DT) SMA/MA di Jawa Timur nampaknya sudah mulai memasyarakat. Program ini bahkan sudah mulai menjadi  unggulan sekolah. Siswa pun bertambah. Dan masalah juga bertambah karena program ini terbatas pelaksanaannya. Seperti apa?

Sukses di tahun pertama 2018, program ini pun dijadikan bahan promosi SMA/MA yang terpilih di tahun berikutnya.  Di brosur sekolah, DT terpampang jelas dengan beberapa kompetensinya. Bahkan sekolah rela membuat seragam khusus yang bertuliskan sekolah DT.

Dampaknya, masyarakat pun mulai tertarik. Sekolah yang semula tidak dilirik, mulai didatangi. Siswa pun bertambah.

Sekolah yang semula hanya mendapatkan 60 siswa per angkatan per tahun yang terbagi dalam tiga rombel,  kini mulai bertambah hingga empat rombel dengan jumlah siswa yang lebih banyak setiap rombelnya.

Salah satunya dialami SMA Negeri 1 Kendal Ngawi. Sekolah ini berada di perbatasan Magetan – Ngawi. Letaknya sangat terpencil bahkan kanan kirinya hutan jati dan mahoni serta ladang-ladang warga.

Kepala SMAN 1 Kendal, Agus Supriyono mengatakan saat ini jumlah siswa terus bertambah karena program DT. “Total hampir mencapai 170 siswa. Ada 11 rombel seluruhnya. Sayangnya tidak semua bisa ikut program double track ini,” tuturnya.

Karena DT ini hanya berlaku bagi siswa -siswi yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka jelas tidak semua siswa bisa mengikutinya. Pihak sekolah menyadari itu.

“Ya demi mendapatkan siswa  yang lebih banyak,  kami jadikan DT sebagai program unggulan,” tukas Agus.

Karena itu, pihak siswa dan orang tua seakan tidak peduli. Mereka menyekolahkan anak-anaknya di SMAN 1 Kendal dengan harapan bisa mengikuti program DT. Sehingga mereka menginginkan bisa mengikuti program DT ini atau minimal sama dengan DT.

“Dan yang terpenting mereka mendapatkan sertifikat sama persis dengan  yang didapat siswa double track. Sertifikat yang dikeluarkan ITS dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,” ujar Agus di hadapan tim Double Track dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS).

“Saya bingung. Semua protes ingin ikut program ini. Sudah saya jelaskan kalau program ini terbatas tapi mereka tidak mau tahu,” tandas Agus.

Karena terus menerus diprotes, Agus berencana menggelar pelatihan seperti program DT ini secara mandiri.

Sebenarnya diakui Agus, sejak lama sekolah itu sudah melakukan pelatihan wirausaha secara mandiri terutama dalam bidang pertanian karena potensi pertanian di sekitar sekolah sangat besar.

Kewirausahaan sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk anak-anak muda agar bisa berkarir ke depannya.

“Hingga saya bisa menjadi kepala sekolah terbaik tingkat provinsi pada 2018 lalu karena program kewirausahaan itu. Dan terbaik kedua tingkat nasional. Sudah lama kami terapkan. Dengan adanya double track, kami memang tidak lagi mengeluarkan dana pribadi sekolah,” ungkapnya.

Untuk program mandiri itu, Agus pun meminta pihak Double Track ITS mempertimbangkan usulannya. Ini dilakukan agar tidak ada rasa saling iri antar siswa.

“Kami rela bayar sendiri. Kami alokasi dana dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Yang terpenting itu adalah sertifikatnya harus sama persis seperti double track,” tandasnya.

Ketua Tim Double Track ITS, Asrori keinginan kepala SMAN1 Kendal  untuk membuat DT mandiri bisa dipertimbangkan.

Terutama untuk mendapatkan sertifikat yang sama dengan program DT. Karena sejatinya, dana pemerintah memang tidak mencukupi untuk bisa menjangkau semua siswa.

Karena itu usul dari sang kepala sekolah bisa diterima dan akan dikonsultasikan lebih lanjut dengan pihak Dinas Pendidika Provinsi Jawa Timur.

“Kemungkinan besar bisa diupayakan. Tapi untuk sementara ini kami fokus ke program double track,” tukasnya.

SMAN 1 Kendal ini mendapatkan empat kompetensi atau keahlian yakni tat arias, tata boga, busana dan teknik kendaraan ringan (TKR).

Koordinator Pengolah Data Double Track Fajar Baskoro mengatakan program DT ini memiliki tiga fungsi utama. Yakni sekolah sebagai pusat pelatihan, pengembangan pemilahan komersil dan pusat transaksi komunitas.

Juga ada tiga platform aplikasi di program ini yakni portal ruang training yang berisi tentang bernagai video tutorial selain offline juga online. Di aplikasi ini siswa bisa mengikuti kurus selamanya.

Selain itu, ada ruang karier di mana siswa yang sudah lulus tidak perlu melamar pekerjaan, karena sudah ada biodata yang terdata dengan rapi tentang lulusan yang bersangkutan.

“Juga ada e-mart yakni sebuah aplikasi yang memuat semua produk yang dihasilkan siswa double track. Semua produk didata beserta harganya. Kalau yang berminat bisa melakukan transaksi,” tukas Fajar. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry