
Oleh Suparto Wijoyo*
KEGEMPARAN itu menyeruak di Ramadhan 1447 H di Teheran. Serbuan Israel atas restu Amerika Serikat yang dipresideni Donald John Trump mengagetkan dunia internasional. Negara-negara Timur Tengah terperangah atau tersedak atas tabiat yang sedemikian brutal. Trump seperti membuka kedok paling rahasia perilaku USA selama ini. Jangan-jangan laku Trump ini adalah manifestasi wajah asli agresor Columbus yang mengaku-ngaku menemukan Benua Amerika dengan mengolonisasi Suku Indian. Kisahnya dapat dibaca dari berbagai buku sejarah yang jarang diungkapkan. Tindakan ”mencuri” tanah orang adalah lumrah dalam historiografi Amerika, apalagi juga Israel. Dalam konteks ini kian melebar bahwa menyerbu Iran adalah jendela untuk mempelajari jiwa terdalam bangsa kolonialis sejati yang menghadirkan pemimpin seperti Trum.
Tapi kisah itu ke depan menjadi catatan historis yang pasti kronikal. Sementara melihat rupa di sebagian nusantara juga diwarnai peristiwa ekologis yang menggemparkan. Satu saja bisa menjadi pembelajaran lama, yaitu banjir di Bengawan Jero Lamongan, yang nyaris sudah lebih tiga bulan. Peristiwanya diliputi iringan jerit tangis dan lelehan air mata yang tumpah menyerta. Banjir yang “menyapa” desa-desa di Lamongan memasuki areal sawah, tambak dan ladang, apalagi kawasan tinggal atau pemakaman.
Kota-kota diterjang gelombang angin yang mencari jalan hidupnya. Pun Jakarta dan beberapa titik di Jawa Timur. Semuanya menyisakan derita yang bergelayut di badan. Meski tidak sanak saudara tetapi kalau meninggal pun melu kelangan. Demikianlah diajarkan oleh pitutur luhur. Apalagi korban adalah saudara sebangsa. Sungguh ribuan orang cemas penuh waspada seolah menjalin solidaritas atas banjir yang sedang “bercengkerama” di Garoga, Sumatera Utara juga seru banget.
Bencana kembali menghias dikala musim penghujan. Namun yakinlah sebagian organ negara akan mengucap “inilah kesempatannya” untuk menunjukkan kinerja, apalagi anggaran akan terserap penuh “hikmah”. Para penguasa pandai mengambil kesempatan “memotret diri” mengirim warta tentang kepeduliannya pada derita sesama. Media mengunggah “dialah pemimpin” yang manunggal dengan warganya. Banjir itupun dicengkeramakan sebagai akibat dari tingginya curah hujan, meski sejatinya karena alih fungsi lahan yang tidak terkontrol. Mereka sibuk membangun dengan mengatasnamakan lingkungan. Padahal sedang membuat petaka dengan menerabas batas tolerenasi kawasan lindung yang dijadikan kawasan perumahan, apalagi industri. Demikianlah lakon banjir yang tergelorakan di Bekasi.
Ada lagi. Dalam putaran roda besar kehidupan, dipastikan ada sosok yang selalu cerdik berpose dengan senyum atau wajah yang lagi geram, yang terus mengembang yang bersinggungan dengan masalah korupsi. Tampilan mereka yang hendak berangkat diperiksa KPK ataupun kejaksaan melengkapi “senyum yang terumbar” dari wajah-wajah “yang tidak terima dijadikan tersangka”. Termasuk di Pekalongan. Tokoh politik dan para pebisnis “tersandung krikil-krikil birokrasi” yang acapkali lihai, karena sudah “tuwuk asam garam” penataan anggaran. Krikil dapat saja dilempar dengan “jejaring serakah” para pemain yang cenderung “gerilya”.
Simaklah apa yang tengah dibeber di panggung nasional. Mata publik menatap sempurna ke arah kepala daerah dan mengunggah hasilnya ke pelataran medsos dengan ejekan. Hari-hari ini sejatinya perjalanan negara sedang ditoreh kekelaman yang tidak pernah terimajinasi sebelumnya: saya khawatir “tahtah energi” ini roboh. Pemanggul mahkota dibidik berlaku kriminal korupsi kasus minyak oplosan seperti kasus yang menyeret Pertamina. Khalayak menelisik ingatannya dengan sorot nanar yang gelisah tentang “muhibah” BBM produk Pertamina. Pengurus korporasi selaku pemegang mandat kedaulatan energi untuk membangun ornamen konstitusional tengah diruntuhkan sendiri oleh penghuninya. Peristiwa yang melabirinkan institusi korporasi negara ke titik paling nadir dengan inti cerita menyangkut tahta dan harta.
Kembali ke soal peperangan yang main kroyokan di Timur Tengah. Kisah yang terekam adalah petinggi negara juga harus terseret ulah negara yang berbilang super power. Masuk BOP yang justru menggelorakan peperangan, jauh dari ide dasar perdamaian. Ini menjadi perenungan warga negara: mengapa Indonesia tidak segera hengkang dari BOP, karena hal ini semakin menguras energi rakyat dengan sangat telenovelis. Ragam kasusnya maupun lompatan-lompatan aksinya terpotret atraktif dan dramatik. Rakyat Indonesia siap menunggu cerita apa yang hendak dipentaskan setelah ada dalam jalur perdamian yang dibuka dengan peperangan. Amrerika merasa diancam Iran, apalagi ”anak nakal” Israel selalu merengek minta perlindungan tunannya (USA). Perang menjadi pilihan yang sangat culas di tengah perundingan yang dihelat.
Dunia yang memunculkan sosok mengerikan Trump dan penguasa Israel sangat dipenuhi dengan main tipu muslihat. Mereka menjalankan adu siasat yang menggambarkan muatan pustaka talbis. Mengikuti bahasa Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Muntaqa’ An-Nafis min Talbis Iblis (1429 H), kehidupan umat digiring melalui lika-liku talbis: “tipu muslihat, perangkap yang menjerumuskan dengan rayuan kejahatan yang ilutif”. Peringatan atas skenario talbis iblis yang paling membekas dalam iman teologis ada dalam QS Thaha ayat 120: kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya dengan berkata: Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa? Narasinya berkembang menjadi bisik-bisik talbis yang siapapun kalau tidak fokus pada “tupoksi penciptaan” akan terjerumus. Ini menjadi pelajaran besar bagi setiap insan.
Pelaku kejahatan terhadap kekayaan publik atau negara lain selama ini mampu menghindari hukum internasional. Agenda ini berbarengan dengan “tarian rancak” diantara aktor bisnis negeri yang menjadi Presiden USA. Namun dengan Ramadhan ini deretan perkara yang melibatkan multipersona sangat membutuhkan “tarik nafas yang panjang” agar hati rakyat tetap memiliki optimisme pada “dewa kehidupan”. Tampilan mereka amatlah simbolik. Semua itu mengingatkan saya pada The Dead Souls, novel apik Nikolai Vasilievich Gogol (1809-1852) yang merekam akal licik pegawai ambisius dengan manipulasi dan korupsi. Gogol mampu menyayat nafsu manusia serakah dengan penyampaian sindiran yang menghadirkan senyum. Viral soal bencana alam, korupsi, juga peperangan, kini amat menghibur dan membungkus kasus ini agar diterima dengan humor di tengah ragam problema bangsa.
Ramadhan menghadirkan ruang bermuhasabah. Eling lan waspodo serta tidak salah bertindak seperti peribahasa Madura “mella’e pettengnga bingong e’leggana”: menatap di kegelapan, bingung di keluasan. Ungkapan yang menggambarkan hilangnya pertimbangan nalar menghadapi bentang cakrawala “bongkahan talbis” di banyak wilayah. Bukankah semua ada waktunya seperti ejaan fabel bagus Mitch Albom, The Time Keeper, Sang Penjaga Waktu. Akhirnya renungkanlah Hukum ke-47 dari buku The 48 Laws of Power karya Robert Greene: jangan melebihi sasaran yang telah Anda tentukan, dalam hal kemenangan, belajarlah untuk tahu kapan harus berhenti. Ramadan adalah saat kita semuanya untuk tahu diri. Barokallah.




































