Oleh Achmad Murtafi Haris*

IRAN kini menghadapi blokade Amerika di pintu masuk selat Hormuz. Dengan blokade ini, kapal minyak Iran yang setiap hari membawa 1,5 juta barrel per hari tidak bisa keluar.

Sementara kapal yang berada di dalam teluk Persia yang terkatung-katung berjumlah antara ratusan hingga 1900 kapal. Terdapat kapal tangker minyak, di antaranya 25 milik China dan 2 milik Pertamina, dan banyak kapal dagang. Jika mereka ingin keluar, mereka harus membayar ke otoritas Iran bilangan yang besar. Oleh Amerika, langkah Iran ini dibalas dengan blokade yang menghadang kapal minyak Iran keluar. Sehingga ada dua portal untuk keluar-masuk teluk Persia: selat Hormuz dan blokade kapal perang Amerika. Portal pertama dikuasai garda revolusi Iran yang menscreening semua kapal yang lewat terutama yang pro Amerika. Portal kedua dikendalikan Amerika yang menghadang kapal Iran dan sekutu. Iran yang mengandalkan devisa dari ekspor minyak tentu terpukul berat dengan blokade ini. Kecuali jika Iran memiliki penghasilan lain non-ekspor. Warga Iran harus memenuhi sendiri kehidupan warga tanpa ekspor-impor sebab jalur pengiriman laut yang menjadi tumpuan transportasi perdagangan internasional telah diblokade oleh Amerika. Iran bercocok tanam untuk dikonsumsi sendiri dan memproduksi untuk warga sendiri. Dalam situasi perang, hal semacam ini sering terjadi. Perang yang semula hanya menyasar kelompok militer, melebar mencekik warga sipil dengan tujuan musuh menyerah.

Bagi Iran yang sudah lama merasakan embargo Amerika tentu hal semacam ini tidak mengherankan. Cuma kali ini yang terjadi lebih berat. Sebelumnya Iran masih bisa mengekspor 90% minyaknya ke Cina. Dan itu dilakukan dengan mengelabui pengiriman lewat kapal dengan nama yang berbeda atau lewat tangan kedua dan ketiga dan yang pasti tidak menggunakan dollar AS. Terkadang Iran mengadakan barter untuk menghindari pembayaran transfer yang sudah diputus jaringannya oleh Amerika. Jaringan bisnis pengusaha Uni Emirat Arab sering berada di balik ekspor Iran ke luar negeri. Produk Iran dibeli oleh pengusaha Emirat kemudian dijual lagi ke negara lain. Dengan berbagai taktik Iran mampu bertahan menghadapi embargo Amerika. Beberapa negara menjadi tujuan bisnis di bawah tangan dan di balik meja itu. Selain Cina, tujuan lain ekspor Iran adalah Irak, Emirat, Turkiye, India, dan Pakistan. Negara rival Amerika seperti Rusia, Venezuela, Korea Utara, dan Kuba tentu menjadi mitra utama dalam transfer teknologi terutama militer.

Dalam kondisi perang saat ini, tentu jurus tangan seribu itu tidak bisa dilakukan. Blokade dengan kapal perang menutup pintu keluar selat Hormuz tidak hanya menghadang kapal Iran, kapal negara lain pun tidak bisa lewat. Screening ketat membuat semua negara dirugikan termasuk negara-negara Arab teluk sekutu Amerika. Seperti Qatar, Arab Saudi, Bahrain, Emirat tidak lagi dengan leluasa melakukan ekspor-impor sebab dihadang oleh garda revolusi Iran. Kemungkinan mereka akan menggunakan jalur darat terlebih dahulu ke arah barat untuk diangkut lewat pelabuhan di laut Merah. Ini tentu makan biaya di samping infrastruktur belum tentu tersedia. Selain itu tentara Hauthi Yaman yang merupakan sekutu Iran, besar kemungkinan akan menyerang mereka dan menutup selat Bab el-Mandeb seperti halnya Iran menutup selat Hormuz. Jika ini tidak mungkin, alternatifnya tinggal lewat Oman yang netral tapi condong ke Amerika. Masalahnya ia terlalu dekat posisinya dengan selat Hormuz yang rawan dijangkau rudal Iran. Jika negara-negara sekutu terus terhenti perdagangan internasionalnya oleh ancaman Iran, tidak mustahil mereka akhirnya ikut terjun menyerang Iran. Tapi hal ini nampak kecil terjadi sebab mereka tidak ingin perang melebar ke sesama muslim. Lagian masak Iran sendirian ditawur banyak negara. Biar Amerika dan Israel saja yang menghadapi. Dia yang memulai dia juga yang mengakhiri.

Kemampuan Iran dalam bertahan hidup dalam embargo selain faktor sumberdaya alam dan migas yang melimpah, juga soliditas warga Iran dalam menghadapi tekanan Barat. Ideologi Syi’ah yang lahir dan tumbuh dalam tragedi dan peristiwa kelam yang datang silih berganti membuat mereka sudah siap menderita semenjak lahir. Faham Syi’ah yang lahir pasca wafatnya imam Hussein di padang Karbala, menjadikan semangat perlawanan terhadap kezaliman sebagai bagian yang terpisahkan dalam perjalanan hidup. Tragisnya kisah wafat sayyidina Hussein dengan kepala terpisah dari tubuh membentuk jiwa yang kuat dan pemberani menantang maut. Empati yang sangat besar terhadap martirnya sang cucu nabi membuat mereka meniru pengorbanan tersebut hingga titik darah terakhir. Imam Ali Khamenei yang sudah berusia 80 tahun lebih ketika ditanya oleh anak kecil apa keinginannya ke depan? Beliau menjawab “mati syahid”. Dan cita-cita beliaupun terkabul setelah pada 28 Februari kemarin rudal Amerika meruntuhkan gedung tempat beliau berada bersama para petinggi negara dan sebagian anggota keluarga Imam.

Mengenang tragedi Karbala, warga Syi’ah berjalan berjalan kaki sepanjang puluhan bahkan ratusan kilo menuju Karbala dalam ritual Arba’in. Pada puncaknya 10 Asyura, puluhan juta warga tumpah di tanah suci Syi’ah itu untuk prosesi mengenang akhir pilu perjuangan sang imam. Penulis beruntung sempat ziarah ke makam sayyidina Hussein di Kairo tempat kepala sang imam dipusarakan. Di kalangan kaum Sunni keberadaan makan Ahlul Bait di Kairo banyak diyakini kebenarannya. Seperti halnya makan Sayyidah Zainab juga berada di Kairo. Pasca tragedi Karbala Kairo dianggap tempat mengungsi yang aman bagi Ahlul Bait dibandingkan tempat yang lain termasuk Madinah.

*Achmad Murtafi Haris adalah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry