JEMBER | dutaco – Masih banyak sisi perjuangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang belum terbaca nahdliyin. Majma Buhuts Al-Kutub Wal Fatwa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq  (UIN KHAS) Jember, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jember, dan Pesantren Darul Hikam, Kamis (21/4/22) menggelar diskusi bertema ‘Mengurai Makna Akidah Islam Ahlu Al-Sunnah wa Al-Jamaah an-Nahdliyah dalam kitab Al-Risalah al-Tauhidiyah karya Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.

“Sebagai warga nahdliyin, kita perlu membaca kisah (lengkap) perjuangan beliau. Ada tiga sanad yang diwariskan ulama kita, salah satunya Kiai Hasyim Asy’ari. Yakni sanad keilmuan, ideologis dan biologis,” demikian Prof Dr M Noor Harisudin, M Fil I, Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN se-Indonesia kepada duta.co, Selasa (26/4/22).

Menurut Prof Noor Harisudin, gerakan dakwah almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari ini, penuh dengan rintangan. Melawan arus kejahatan. Bukan saja berhadapan dengan ‘masyarakat hitam’ di Jombang, tetapi juga terkait gagasan pembaruan pemikiran dari tokoh-tokoh Islam, seperti Muhammad Abduh. “Tetapi, justru dari rintangan itu, menjadikan beliau semakin semangat,” tegasnya.

Bedah kitab ‘Al-Risalah al-Tauhidiyah’ dengan tajuk ‘Mengurai Makna Akidah Islam Ahlu Al-Sunnah wa Al-Jamaah an-Nahdliyah ini berlangsung di aula VIP (UIN KHAS-Jember) lantai dua dengan menghadirkan dua narasumber Prof Dr M Noor Harisudin, M Fil I dan KH Muhammad Sukri.

Allah Tidak Bersemayam di Arsy

KH Muhammad Sukri dalam kajiannya menjelaskan identitas seorang Muslim Aswaja  al-Nahdliyah. Menurutnya, bahwa setiap orang mukallaf wajib yakin bahwa Allah itu Maha Esa, tiada sekutu, tiada penolong, tidak butuh tempat dan bantuan makhluk.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa Allah bersemayam di Arsy, maka jelas tidak benar. Maksud dalam ayat tersebut adalah Allah selalu mengawasi semua makhluk tanpa batas tempat dan waktu,” ungkapnya.

Kiai Sukri menyebutkan ada tiga syarat seorang hamba agar bisa mengenali dan dekat kepada Allah dengan mengilustrasikan sebuah kaca. Pertama, kaca tidak boleh pecah dalam arti keyakinan kepada Allah harus sepenuh hati tanpa ragu.

Kedua, kaca harus bersih, artinya harus bersih dari segala kotoran hati yang mengakibatkan jauh dari Allah. Ketiga, tidak boleh ada penghalang apapun termasuk diri sendiri.

“Allah ada tanpa tempat, meski ahli surga akan dijamin dapat melihat dzat Allah, tapi sekali-kali akal tidak akan bisa menjangkaunya,” urai kiai yang juga aktif di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember tersebut.

Sementara itu, Prof Noor Harisudin, menjelaskan, bahwa, santri Mbah Hasyim  seperti KH Achmad Siddiq ini merupakan ulama besar yang berhasil memotret seluruh sanad beliau. “Apalagi, faktanya, hampir seluruh ulama Nusantara berguru pada pendiri Nahdlatul Ulama tersebut,” kata Prof Harisudin yang juga Pengasuh Pesantren Darul Hikam.

Prof Harisudin juga menyebut, Fakultas Syariah dan UIN KHAS adalah kampusnya para ulama. “Ini kampusnya para ulama. Dosennya banyak ulama yang aktif di organisasi keulamaan seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan sebagainya. Nama Kiai Achmad Siddiq juga ulama besar. Sudah sewajarnya, hari ini kita mengaji kitab karya Hadratus Syaikh yang juga ulamanya para ulama,” ujar Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur ini.

Tiga Sanad

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menjelaskan biografi Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim adalah tokoh ulama yang terkenal dengan kealimannya, sifat wara’ dan ketinggian akhlak.

“Lahir pada 14 Februari 1871 M di lingkungan pesantren membuat Mbah Hasyim tumbuh menjadi ulama yang intektual. Sebagai warga NU, ada tiga sanad dari ulama kita salah satunya Kiai Hasyim Asy’ari, yakni sanad keilmuan, ideologis dan biologis,” tuturnya.

Memulai jalan dakwah dengan mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, Mbah Hasyim berpegang teguh dengan terus menyebarkan Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah dan menepis paham yang sesat kala itu. Termasuk setuju pada gagasan pembaruan pemikiran Muhammad Abduh pada beberapa hal, namun tidak setuju yang menolak madzhab fiqih.

Dirinya menjelaskan posisi pembaharuan Hadratussyekh yang membuka sistem klasikal di Tebuireng. Dan merupakan pesantren pertama menerapkan sistem reformasi pendidikan dengan sistem klasikal pada saat itu.

“Dakwah Mbah Hasyim di pesantren banyak melewati jalan terjal, namun itu malah menambah semangatnya untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Jombang,” pungkas Guru Besar UIN KHAS Jember itu. (mky,www.timesindonesia.co.id)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry