JOMBANG | duta.co — Mekanisme pemilihan pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-35 hingga kini belum menemui titik final. Dua opsi yang berkembang masih menunggu keputusan forum Muktamar melalui pembahasan di Komisi Organisasi.

Ketua Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Prof Muhammad Nuh, menegaskan bahwa SC tidak bisa memutuskan sendiri mekanisme pemilihan tersebut. “Opsi 1 atau opsi 2, kapan dilaksanakannya, itu semuanya tergantung dari Muktamar,” ujar Prof Nuh saat ditemui awak media usai sesi rapat dikawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8).

Menurut Prof Nuh, agenda yang berlangsung hari ini baru sebatas sesi pemilihan. Pembahasan substansial mengenai mekanisme pemilihan akan dilakukan melalui sidang Komisi Organisasi yang dijadwalkan berlangsung malam ini dan berlanjut hingga besok. Hasil komisi inilah yang nantinya menjadi pijakan forum Muktamar untuk menentukan mekanisme pemilihan kepemimpinan NU lima tahun ke depan.

Kotak AHWA Tanpa Kunci, Diawasi CCTV

Selain soal mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU, perhatian juga tertuju pada proses pengusulan calon Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang memiliki posisi penting dalam proses pemilihan Rais Aam.

Prof Nuh menjelaskan, pengusulan calon AHWA sejatinya telah dilakukan sebelum peserta berangkat ke arena Muktamar. Musyawarah dilakukan di tingkat Pengurus Cabang (PC), Pengurus Wilayah (PW), hingga Pengurus Cabang Istimewa (PCI).“Rapat terus pas muktamar kan nggak mungkin. Oleh karena itu, bisa jadi satu minggu, dua minggu sebelum berangkat, beliau-beliau sudah musyawarah dulu untuk memilih calon-calon atau mengusulkan calon-calon AHWA,” jelasnya.

Usulan tersebut kemudian dimasukkan bersamaan dengan proses registrasi peserta. Namun, isi usulan belum boleh dibuka sebelum waktunya.Yang menarik, kotak penyimpanan usulan AHWA tersebut sengaja dibuat tanpa kunci. Kotak ditempatkan di ruang berdinding kaca di depan ruang Gus Rozak dan dilengkapi kamera CCTV. Dengan begitu, keberadaan kotak dapat diawasi secara terbuka.“Kalau kunci, nanti dipikir sampean pegang kunci, sampean pegang kunci, nanti kuncinya sampean buka. Enggak ada kuncinya. Sehingga nanti bukanya dirusak, dijebol,” kata Prof Nuh.

Menurut dia, sistem tersebut dibuat untuk menghindari munculnya kecurigaan dari pihak-pihak yang terlibat dalam Muktamar. Sebab, AHWA bukan perkara kecil. AHWA nantinya memilih Rais Aam, sedangkan Rais Aam memiliki peran penting dalam proses kepemimpinan NU berikutnya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry