“Hari ini, keluarga (almarhum Drs H Choriul Anam) tengah sibuk menggelar haul ke-3. Semangat perjuangan Cak Anam menarik disimak, Termasuk dalam menghidupkan media NU.”
Oleh Ahmad Hakim Jayli*

DALAM kesempatan Haul ke-44, KH Abdul Wahab Chasbullah di Tambakberas, 2015, Nama Choirul Anam atau Cak Anam menjadi satu dari tiga nama yang mendapatkan penghargaan KH Wahab Hasbullah Award. Selain Cak Anam, ada nama Dr KH As’ad Said Ali, mantan Wakil Ketua Umum PBNU dan Lukman Hakim Saifudin, Menteri Agama kala itu. Award yang diserahkan langsung oleh KH Hasib Wahab itu dimaksudkan memberikan penghargaan kepada tokoh NU yang dinilai berjasa meneruskan perjuangan KH Wahab Hasbullah baik melalui tulisan maupun dalam menggerakkan organisasi sebagaimana yang diteladankan Mbah Wahab sebagai perintis, pendiri dan penggerak NU.

“NU itu ya Mbah Wahab. Mbah Wahab itu ya NU!” Jargon ini beberapa saya dengar dari Cak Anam. Kalau mau memahami dan mengurus organjsasi NU secara utuh dan mendekati yang seharusnya, maka ‘bacalah’ Mbah Wahab. Dan kalau ingin mengetahui siapa sebenarnya Mbah Wahab, maka sesungguhnya di dalam darah, hati dan jiwa Mbah Wahab yang terpatri adalah (perjuangan) Nahdlatul Ulama.

Cak Anam merasa perlu menulis buku ‘hidup dan perjuangan’ Mbah Wahab, untuk menegaskan bahwa NU dan Mbah Wahab adalah dua sisi mata uang, duality, satu kesatuan utuh yang tak mungkin dipisahkan. Berbeda dengan ‘buku babon NU’ sebelumnya, Tulisan Cak Anam di bukunya yang ini, sangat terasa kalau ia melakukan personifikasi NU pada diri Mbah Wahab, sebagai cara mudah untuk bisa berkhidmah di NU dengan menggunakan model sosok yang sudah mutawatir kiprahnya.

Tulisan seseorang menjelang wafatnya, bisa jadi adalah gugusan mutiara yang ia rangkai menjadi tasbih suci yang akan menemaninya menghadap Sang Maha Rahman-Rahim. Tentu saja,  tulisan Cak Anam di buku Mbah Wahab adalah sebuah natijah, penyimpulan setelah puluhan tahun menjadi ‘khaddam NU’, bertemu dan melayani para Kiai sepuh dan pimpinan NU, mulai Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Ahmad Shiddiq, Kiai Muhith Muzadi, hingga Kiai Abdurrahman Wahid. Cak Anam berhasil membaca sejarah hidup Mbah Wahab tidak hanya dari apa yang dilakukan sang insiator, pendirinl dan penggerak NU ini, tetapi juga mencatat penafsiran, pelajaran dan kontekstualisasi yang dipahami para Kiai yang dikawalnya tentang ‘grand idea’ Mbah Wahab. Pemahaman secara kontekstual Cak Anam terhadap Mbah Wahab dan NU inilah yang mengarahkannya ke sebuah titik pertemuan, meeting point, dengan para pendekar perjuangan lainnya di NU, sebagaimana KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dari titik pertemuan hati dan visi inilah, lantas para shaleh ini bergerak dan berjuang.

Kesaksian saya, tentang Mbah Wahab, Cak Anam tak hanya menuliskan biografi tentang hidup dan perjuangan saja. Tetapi Cak Anam secara nyaris sempurna telah melaksanakan ‘Mbah Wahab teaching’ itu dalam menggerakkan NU pada domain yang dipilih dan dikuasainya. Dan Media, jurnalisme, menjadi salah satu pilihan Cak Anam untuk meniru dan melanjutkan perjuangan Mbah Wahab.

Sebagaimana Mbah Wahab, Cak Anam sadar betul, bahwa membuka cakrawala dan mindset orang-orang NU, adalah hal pertama harus dilakukan sebelum yang lain-lain. Sosok muslim santri, yang kuat tradisi dan prinsip keagamaannya, namun memiliki pandangan yang luas dan universal, adalah sebuah kondisi ideal yang harus dibereskan lebih dulu, sebelum politik dan ekonomi. Karena itu, mudah dipahami, kenapa lantas Taswirul Afkar dipilih Mbah Wahab menjadi satu pilar dari rangkaian perjalanan penting, sebelum NU didirikan. Tak hanya itu, Mbah Wahab sampai harus menukar aset rumah prinadinya di Surabaya saat itu, dengan seonggok mesin percetakan untuk kepentingan ‘jihad informasi’ di awal NU berdiri.

Sekali lagi, apa yang dilakukan Mbah Wahab, tak hanya diamati, dikumpulkan dan lantas dirangkai dalam tulisan buku. Cak Anam menarik sebuah kesimpulan dan teaching, bahwa kepoloporan Mbah Wahab, termasuk di bidang Media, tidak hanya bagaimana menulis dan menyusun (ta’lif), tetapi harus disertai kerelaan dan kemampuan mencari modal agar tulisan itu bisa di-nasyr, yakni dicetak, disiarkan disebarkan ke khalayak luas melalui aktivitas media massa. Maka keberadaan institusi media massa di lingkungan NU dengan segala karakteristik, problematika, kepemilikan, tantangan manajemen, bisnis, dan persaingannya menjadi konsentrasi baru, dan harus ada yang memikirkannya. Kalau institusi NU belum sempat memikirkannya, maka harus ada ‘orang NU’ yang serius mempandeganinya, atas nama perjuangan dan kepentingan NU. Dalam konteks ini, Cak Anam adalah MVP atau Most Valuable Player, sosok paling bernilai atas kepeloprannya, mendirikan, mengelola dan mengembangkan Media Massa di NU, melalui Koran Duta Masyarakat, Majalah Dumas, Tabloid WARTA, serta sejumlah buku yang diterbitkannya. Bersama sejumlah penggerak, Cak Anam juga menjadi sosok penting bagi terbitnya Majalah AULA yang eksis hingga saat ini.

Pada rentang waktu tahun 2011-2012, saya bersama Savic Ali (Pemred NU Online, salah satu Ketua PBNU periode kemarin) dan kawan-kawan media NU, berbincang khusus dengan Cak Anam tentang bagaimana seharusnya mengelola media-media NU dii era industri hari ini.

Bagaimanapun, media-media NU tak luput dari tantangan oligopoli industri media yang bertumpu pada kekuatan modal dan jaringan global. Kuantitas warga NU dan solidnya komunitas NU secara psikografis merupakan modal utama bagi media NU untuk bisa bertahan di tengah persaingan industri media. Kecenderungan industri media saat ini adalah pembentukan pasar berdasarkan kesamaan ciri komunitas (based on Community). Hal ini seiring dengan mulai banyak digunakannya pendekatan Public Reletion (PR-ing aproach) dari pada pendekatan periklanan (advertising) sebagai metode yang kini mulai ditinggalkan.

Di sisi lain, Negara melalui berbagai regulasi tentang media (diantaranya UU Penyiaran, 2002) telah mendorong media untuk semakin beragam baik secara pesan (Diversity of content) maupun secara kepemilikan (Diversity of ownership).

Waktu itu, di ruang kerjanya, Gedung Astranawa Surabaya, kami berbincang dengan Cak Anam tentang bagaimana NU menata (ulang) jaringan medianya.

Ada peluang bagi NU, untuk membentuk sebuah jaringan media dengan segmen konten dan audiens warga NU. Jaringan ini setidaknya ditujukan untuk mewadahi dan mengelola tiga karakteristik yang melekat pada media NU selama ini. yaitu: (1) Sarat Misi/Dakwah, (2) Lemah Financial dan Bussiness Plan (3) Lemah sindikasi dan interkoneksitas.

Beberapa kali, kami para pengelola media NU bertemu. Salah satu.yang paling serius, adalah workshop Media-Media NU dilakukan di Kantor PBNU, Kramat Raya Jakarta pada 20 November 2012, yang dihadiri juga KH As’ad Said Ali. Kami bersepakat pada Fokus dari Networking yang harus digagas, bertumpu pada tiga hal. Pertama, mengumpulkan kekuatan dan karakteristik media NU yang sudah ada sesuai sub-segmen yang ada di komunitas NU (dan/atau melengkapi dengan membuat media baru yang dibutuhkan). Kedua, menciptakan Jaringan ‘NU Content’ dengan memanfaatkan jaringan struktur maupun kultur NU di Indonesia bahkan dunia. Ketiga, (dan ini penting), Membuat Jaringan iklan ‘NU Media’ dengan model Advertising bundling: Buy one, get many. Sebuah trend penjualan iklan media yang kini dijalankan oleh semua Media Group yang ada.

Apakah jaringan ini hanya sekadar Networking Antar Media atau lebih serius lagi menjadi sebuah korporasi (holding company) dan media Group yang tentunya dikendalikan dengan manajemen investasi dan perencanaan bisnis yang matang? Semuanya serba terbuka dan memungkinkan.

Demikianlah, kian ke sini, kian saya sadari, ternyata memang tak mudah menjadi (seperti) Cak Anam yang telah menekuni, menjaga gawang kedaulatan informasi melalui media profesional di lingkungan NU dalam era kompetisi industri yang ketat dan mendebarkan. Hal yang tak banyak dilakukan orang lain. Dan kini Tantangan baru yang jauh lebih dhasyat, sudah menganga di depan mata: industri informasi digital!

Namun, sebagaimana Mbah Wahab telah berhasil menjadi ‘jihad booster’ bagi Cak Anam, maka kini saatnya kita menjadikan Cak Anam sebagai booster serupa dan generator spirit jihad untuk memperjuangkan NU dengan cara baru di era media baru.

Cak Anam wafat di usai hampir 69 tahun pada Senin, 09 Oktober 2023 pukul 05:49 WIB di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya. Dia wafat dengan tenang, meninggalkan jejak perjuangan, kerja keras, kepeloporan, warisan cara pandang pengorbanan dan keteladanan ‘Gila NU’ yang akan terkonversi menjadi amal jariyah dan kini terus mengalir dan setia menemani di alam sana. Semoga Allah menerimanya semua tanpa terkecuali, dan memberikan kekuatan kepada kita semua untuk merawat dan melanjutkan perjuangan orang-orang shaleh terdahulu. Amin. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry