duta.co | Hari  ini, Selasa (20/11) MBS Ki Bagus Hadikusumo kedatangan Grand Imam Masjid New York, USA, Syaikh Syamsi Ali. Kemarin, saat informasi kedatangan beliau dishare di group wali santri, saya melonjak girang. Sudah lebih dari lima tahun mengikuti kiprah dakwah Grand Imam di New York lewat media, saatnya bertemu langsung, syukur-syukur bisa dialog, apa lagi bisa wawancara. Tapi, untuk bisa wawancara, rasanya kecil kemungkinan karena bisa jadi karena agenda Grand Imam yang padat. Seperti saya duga, setelah sesi foto-foto, Imam Syamsi Ali langsung pamit. Beliau mengejar agenda berikutnya di BSD.

Santri MBS, full disuguhi ceramah inspiratif sepanjang lebih kurang satu jam lebih lima belas menit. Beruntung sekali para santri yang dititipkan orang tua mereka hari ini. Wawasan mereka benar-benar dibuka pada tiga hal penting sepanjang saya menangkap ceramah Imam Syamsi Ali.
Pertama, santri diperkenalkan Islamic World View atas identitas yang autentik.
Imam Syamsi Ali menegaskan, bahwa seorang muslim harus punya peran sebagai penentu di mana pun dia berada. Seorang muslim tidak boleh inferior yang pasrah ditentukan harus begini dan begitu. Jadilah penentu, meskipun berada di negeri orang.
Imam Syamsi Ali menyuguhkan contoh-contoh konkret sejak beliau di Pakistan, Jeddah, sampai New York dan Washington DC.
Dalam dunia akademis, penjelasan Imam Syamsi Ali ini sangat penting bila dikaitkan dengan fenomena pelajar muslim yang belajar di Barat atau Amerika yang kehilangan identitas. Tidak sedikit dari mereka yang pola pikirnya menjadi westernized, terbaratkan. Lebih tidak bisa dimengerti, setelah mereka kembali ke Indonesia, menyandang baju intelektual, aktif menyebarkan pemahaman Islam sebagaimana Islam yang dipahami Barat Kristen. Di sinilah kiprah sosok Imam Syamsi Ali hadir, bahwa seorang intelektual muslim boleh saja belajar, menetap, bergaul, bekerja, bahkan mencari penghidupan bersama orang di Barat atau Amerika. Tetapi karakter autentiknya sebagai muslim tidak berubah, paham Islamnya tidak berubah, bahkan bisa mengubah kekeliruan pola pikir hegemoni Barat Amerika tentang Islam seperti yang dilakukan Imam Syamsi Ali.
Kedua, open minded dan membuka diri untuk berdialog.
Imam Syamsi Ali tidak sedang menarasikan cerita fiksi layaknya novelis menyambung-nyambung plot tentang Islam yang terbuka, ramah, sekaligus jawaban problem modernitas pluralistik di negeri Paman Syam di hadapan santri MBS. Beliau sedang mengemas fakta-fakta ril sepanjang menjadi Imam Masjid New York dalam relasi antara Islam, Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, Agnostik, bahkan ateis Amerika seperti cerita dalam novel fiksi ilmiah sehingga sangat menarik, hidup, seakan santri sedang dibawanya mengalami langsung pergulatan itu di Amerika. Tak terhitung, dari pergulatan interfaith itu mengantarkan ada penganut Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, Agnostik, bahkan ateis memilih bersyahadat di hadapan Imam Syamsi Ali. Tak terhitung, orang Amerika pembenci Islam menjadi pembela Islam di tangan Imam Syamsi Ali setelah melalui proses dialog yang sangat terbuka.
Di sini, harus disyukuri, santri MBS mendapatkan model dari seorang Imam Syamsi Ali, bagaimana mereka kelak akan menjadi ulama dan dai dengan tantangan dua atau tiga kali lebih berat dari yang dihadapi para ustadz dan Kiai mereka di MBS, bahkan dari Imam Masjid New York itu sendiri jika takdir mereka harus berhadapan dengan komunitas seperti yang dihadapi Imam Syamsi Ali.
Dan ketiga, public speaking skill
Kemahiran berbahasa asing, bagi MBS Ki Bagus Hadikusumo, rasanya bukan lagi distingsi, atau keunggulan utama yang harus dibangun. Tadi, dalam sesi tanya jawab, empat dari lima santri bertanya dalam bahasa Inggris. Artinya, berbahasa asing, bagi santri MBS bukan lagi hal yang spesial walaupun harus terus diperkuat supaya kemampuan itu tersebar merata pada tiap lidah santri. Ceramah umum Imam Syamsi Ali hari ini, distingsi MBS Ki Bagus Hadikusumo mau tidak mau harus melampaui MBS atau pondok Muhammadiyah umumnya.
Hasil konsep learning to know, learning to do, learning to be,  dan learning to live together  ada pada kompetensi sosok Imam Syamsi Ali seperti yang saya saksikan hari ini. Mungkinkah itu diadopsi sebagai tawaran distingsi skill MBS? Kira-kira, begitulah kerangka profile lulusan MBS ke depan. Sebab saya yakin, Kiai DR. Endang, tidak asal ‘ujug-ujug’ menghadirkan beliau ke MBS. Ini mesti ada udang di balik tepung.
Kompetensi public speaking Imam Syamsi Ali, pada kasus yang beliau sampaikan, mampu ‘menyihir’ orang kafir menjadi muslim, pembenci Islam menjadi pembela Islam, bahkan seorang Rabi Yahudi Amerika saja tercengang dan mengubah pandangan negatifnya pada Islam setelah intens bertemu Imam Syamsi Ali.
Public speaking skill bisa jadi salah satu distingsi MBS. Bisa jadi sudah diasah di MBS Ki Bagus Hadikusumo dalam istilah khas pesantren yang dikenal dengan muhadharah. Hanya saja, konten atau muatannya harus terus diperbarui, disesuaikan dengan konteks di mana skil itu akan diterapkan lulusannya kelak. Saya membayangkan, pertemuan hari ini menjadi jalan MoU antara MBS Ki Bagus Hadikusumo dan Imam Syamsi Ali untuk menyusun kurikulum bersama pondok masa depan yang berkemajuan dengan public speaking skill sebagai salah satu distingsinya.
Anak Bandel
Imam Syamsi Ali mengaku sebagai anak bandel. Usia SD, sudah jadi ‘panglima perang’ para penggembala, menggenggam parang berkelahi dengan penggembala lain di kampungnya. Kebandelannya mengusik sang ayah, mau jadi apa Syamsi kecil nantinya.
Dititipkanlah Syamsi yang bandel itu di Pondok Darul Arqom Muhammadiyah Gombara, Sulawesi Selatan.
Waktu itu, pondok Imam Syamsi sangat sederhana, jauh sekali dengan kondisi MBS Ki Bagus Hadikusumo yang tiap bulan selalu bertambah kelihatan megah. Kesederhanaan itu beliau gambarkan dengan menu makan di pondok, di mana makan nasi dengan kecap dan garam sudah dirasa luar biasa.
Siapa nyana, seperti uraian Imam Syamsi Ali tadi pagi, bahwa manusia itu terombang-ambing dalam qudrah Allah. Manusia tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan kehendak taqdir-Nya. Kini, ‘santri menu kecap’ itu sudah berada pada taqdir berikutnya sebagai Imam Muslim paling berpengaruh di New York, bahkan di Amerika.
Menghadirkan Imam Syamsi Ali di MBS adalah strategi pembelajaran yang sangat bermakna. Bisa jadi, pandangan para santri hari ini, jauh bergeser dari hari sebelumnya tentang siapa mereka dan kelak ingin seperti apa.
Good luck MBS Ki Bagus Hadikusumo.|
Meruyung, 20 November 2018.
Abdul Mutaqin
(Wali Santri MBS KBH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.