
“JAWA TIMUR memang hebat! Gubernur Khofifah sukses Membangun Kepemimpinan yang Transformatif menuju Peradaban Buruh yang Berbasis Nawa Bhakti Satya (NBS) dan SDGs.”
CATATAN PINGGIR
Dr Romadlon Sukardi, MM*
DI tengah dunia yang bergerak menuju otomatisasi industri, disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, dan kompetisi ekonomi global yang semakin keras, nasib kaum buruh sering kali berada di persimpangan sejarah: antara menjadi subjek pembangunan atau sekadar angka statistik dalam mesin pertumbuhan ekonomi. Namun di Jawa Timur, peringatan May Day 2026 menghadirkan pesan yang berbeda.
Di bawah kepemimpinan transformatif Khofifah Indar Parawansa bersama Emil Elestianto Dardak, Hari Buruh Internasional tidak diperlakukan sekadar seremoni tahunan penuh slogan. Ia diubah menjadi ruang dialog sosial, panggung penghormatan terhadap martabat pekerja, sekaligus momentum menghadirkan kebijakan nyata yang menyentuh kehidupan rakyat kecil secara langsung.
Di halaman Kantor Gubernur Jawa Timur, ribuan buruh berkumpul bukan dalam suasana konfrontasi, melainkan dalam atmosfer kebersamaan yang menghadirkan harapan baru tentang hubungan negara dan pekerja yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkeadilan.
Di situlah tampak wajah kepemimpinan modern yang sesungguhnya.

Kepemimpinan yang tidak melihat buruh semata sebagai tenaga produksi, tetapi sebagai manusia yang memiliki keluarga, masa depan, mimpi, dan hak untuk hidup bermartabat.
Melalui paket kebijakan pro-buruh yang diumumkan pada momentum May Day tersebut, Khofifah sedang membangun model baru inclusive welfare governance—tata kelola kesejahteraan sosial yang tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi berupaya membangun ekosistem perlindungan sosial jangka panjang.
Insentif pajak kendaraan bagi kelompok buruh desil bawah, afirmasi pendidikan untuk anak buruh, pengembangan transportasi publik kawasan industri, percepatan regulasi jaminan pesangon, hingga gagasan penyediaan hunian layak bagi pekerja menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang dibangun tidak parsial, melainkan terintegrasi dan berorientasi masa depan.
Inilah wajah nyata implementasi program unggulan Nawa Bhakti Satya yang dipadukan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebab pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang bagaimana menghadirkan keadilan sosial, pendidikan berkualitas, transportasi inklusif, pekerjaan layak, pengurangan ketimpangan, dan kehidupan yang lebih manusiawi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dan itu terlihat nyata dalam arah kebijakan yang dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Yang paling menyentuh adalah ketika kebijakan afirmasi pendidikan bagi anak buruh kembali ditegaskan. Di balik kebijakan itu, sesungguhnya tersimpan pesan peradaban yang sangat dalam: bahwa anak seorang buruh harus memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar.
Bahwa kemiskinan tidak boleh diwariskan. Bahwa pendidikan harus menjadi jembatan mobilitas sosial bagi keluarga pekerja.
Dalam perspektif futuristik, langkah ini sangat strategis. Dunia masa depan akan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Dan Khofifah tampaknya memahami bahwa investasi terbesar bukan hanya pada infrastruktur fisik, tetapi pada masa depan generasi muda dari keluarga pekerja.
Begitu pula rencana pengembangan koridor baru Bus Trans Jatim untuk kawasan industri Pasuruan Raya. Ini bukan sekadar proyek transportasi. Ini adalah desain ekosistem mobilitas pekerja modern yang efisien, ramah lingkungan, dan mendukung produktivitas ekonomi kawasan industri berbasis keberlanjutan.
Sementara dorongan terhadap regulasi jaminan pesangon menunjukkan keberanian moral pemerintah daerah dalam memperkuat perlindungan tenaga kerja di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kepemimpinan seperti ini menjadi penting di era ketika banyak pekerja hidup dalam kecemasan akibat perubahan struktur industri dan ancaman kehilangan pekerjaan karena otomatisasi teknologi.
Namun yang membuat kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa terasa berbeda adalah sentuhan kemanusiaannya.
Penyerahan santunan kepada keluarga pekerja yang meninggal dunia bukan hanya seremoni administratif. Di sana ada empati negara. Ada pengakuan bahwa di balik setiap pekerja terdapat keluarga yang menggantungkan harapan hidupnya.
Dan ketika negara hadir dengan penghormatan serta perlindungan, maka buruh tidak merasa berjalan sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.
Mungkin karena itulah peringatan May Day di Jawa Timur terasa lebih teduh, lebih bermakna, dan lebih beradab.
Karena yang dibangun bukan sekadar hubungan industrial. Tetapi hubungan kemanusiaan.
Kelak, sejarah mungkin akan mencatat bahwa di bawah kepemimpinan transformatif Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur berhasil menghadirkan model pembangunan baru: sebuah peradaban kesejahteraan yang memadukan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, perlindungan pekerja, dan visi masa depan berkelanjutan dalam satu orkestrasi kebijakan yang modern, humanis, dan berkelas dunia.
Sebuah kepemimpinan yang tidak hanya membangun industri. Tetapi juga menjaga martabat manusia di dalamnya. (*)





































