Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Founder dan CEO PT Maxxi Tani Teknologi Nicholas Taniadi (kiri) didampingi Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono (kanan) saat melihat Maxxi Rice Transplanter dalam kegiatan Gerakan Percepatan Tanam Padi di Desa Dempel, Kabupaten Ngawi, Minggu (24/4/2022). DUTA/ist

NGAWI | duta.co – Jawa Timur menjadi daerah penghasil padi terbesar di Indonesia atau lumbung pangan nasional. Bahkan beras dari Jawa Timur memasok ke 16 provinsi di Indonesia Timur kecuali Sulawesi Selatan.

Tak mengherankan jika Pemprov Jatim terus menggenjot produktivitas pertanian khususnya padi. Program Pemprov Jatim salah satunya adalah program percepatan masa tanam sehingga nantinya bisa melakukan proses tanam empat kali dalam setahun atau IP400.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan di 2021 total penanaman padi mencapai 1,74 juta hektare ,dengan jumlah produksi sebesar 9,90 juta ton.

Salah satu daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur adalah Kabupaten Ngawi. Ngawi adalah sentra produksi padi di Jawa Timur dengan luas areal penanaman 146.816 hektare dengan hasil produksi 902.817 ton pada 2021 lalu.

“Lamongan jadi daerah paling besar produksi padinya tapi lahannya juga luas. Ngawi dengan lahan yang tidak seluas lamongan namun produktivitasnya tinggi,” kata Khofifah dalam kegiatan Gerakan Percepatan Tanam Padi di Desa Dempel, Kabupaten Ngawi, Minggu (24/4/2022).

Untuk mempercepat proses tanam dan pencapaian IP400, Pemprov Jatim melalui Dinas Pertanian melakukan berbagai terobosan. Salah satunya dengan menggandeng Maxxi Tani Teknologi.

Maxxi Tani adalah platform digital yang memberikan one stop solution bidang agrikultur. Maxxi Tani dalam hal ini sebagai penghubung antara petani dengan berbagai pihak agar bisa mencapai produktivitas padi secara maksimal.

Founder dan CEO PT Maxxi Tani Teknologi Nicholas Taniadi mengatakan Maxxi Tani yang baru berdiri pada 2021 lalu itu berkomitmen membantu petani untuk mencapai produktivitas maksimal.

Sudah ada 17 kabupaten kota di Jatim yang bekerjasama. “Ngawi ini baru memulai dan kami harap bisa maksimal,” ujarnya.

Sudah sekitar 3 ribu lahan yang melibatkan 9 ribu petani yang tergabung dalam platform Maxxi Tani ini yang ada 17 kabupaten kota di Jatim. Maxxi Tani dalam hal ini memberikan pendampingan dan juga memberikan solusi atas permasalahan yang dialami petani.

“Kita menyediakan apa yang dibutuhkan petani. Misalnya butuh alat untuk menanam, alat untuk mengatasi hama hingga alat untuk memanen. Namun kami tidak menyediakan sendiri tapi bekerjasama dengan mitra di daerah itu yang memiliki alat yang dibutuhkan petani. Kita memberdayakan masyarakat sekitar jug,” ujar Nicholas

Alat berteknologi itu antara lain traktor olah tanah, benih padi bersertifikat, penanaman dengan rice transplanter, pestisida serta penyemprotannya dengan drone, dan akhirnya panen dengan menggunakan combine harvester.

“Petani yang bekerjasama dengan kita harus sudah terdaftar di platform yang kita miliki. Dan biasanya mereka bekerjasamanya dalam satu paket mulai tanam hingga panen,” tambah Nicholas.

Dengan solusi dari Maxxi Tani ini, selama setahun dilakukan di beberapa daerah di Jatim, efisiensi terjadi. Biaya prduksi menurun sehingga hasil yang didapat petani bisa meningkat tajam.

“Penurunan biaya bisa sebesar Rp 1 juta per hektar dari Rp 15 juta total biaya tanam. Lebih spesifik lagi, untuk panen yang biasanya menggunakan tenaga manusia, dengan mesin panen yang kami sediakan maka loosing yang semula 12,9 persen menjadi hanya 2 persen. Selain itu hasil panen dengan mesin jauh lebih bersih dibandingkan pakai tenaga manusia sehingga harga jual juga semakin tinggi,” jelas Nicholas.

Tak mengherankan, jika mitra petani Maxxi Tani juga semakin berkembang. Hasil yang maksimal ini menular dari satu petani ke petani yang lain. Sehingga pada 2022 ini, Maxxi Tani menarget bisa menggandeng 100 ribu petani dengan luas lahan 30 hektar di Jawa Timur. ril/end

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry