Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo (dua dari kanan) bersama Kadivre Bulog Jatim Muhammad Hasyim (kiri) saat memperkenalkan beras aneka rasa, Minggu (7/4). DUTA/endang

SIDOARJO | duta.co – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) dituntut untuk terus kreatif dan inovatif.

Bulog bukan lagi dikenal sebagai gudang beras, tapi memiliki produk-produk baru non beras seperti minyak goreng, gula dan terigu.

Kalau pun memiliki produk beras, namun bukan hanya beras yang disalurkan ke masyarakat yang menerimanya.

Bulog juga terus memproduksi beras kelas premium sesuai dengan tuntutan masyarakat zaman sekarang.

Beras premium sudah mulai diproduksi. Yang terbaru, Bulog memperkenalkan beras aneka rasa.

Ada lima rasa diperkenalkan ke masyarakat dalam kemasan 300 gram. Yakni rasa nasi kebuli, biryani, mandi, kabsah dan bukhori.

Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo mengatakan terobosan Bulog ini adalah langkah kongkret untuk melakukan inovasi dan kreativitas.

“Minimal kita akan keluarkan lima produk beras dan dua produk non beras tahun ini,” ujar Imam di sela acara BUMN Festival di GOR Sidoarjo, Minggu (7/4).

Kreativitas dan inovasi di sisi hulu harus diiringi dengan pembinaan petani di on farm. Untuk bisa mendukung sektor hilir yang dilakukan Bulog, diimbagi dengan penyediaan bahan baku yang cukup.

Salah satu caranya dengan menggandeng petani agar bisa menghasilkan beras yang berkualitas agar bisa menjadi bahan baku produk-produk baru Bulog.

Saat ini diakui Imam, Bulog membina para petani di seluruh Indonesia. Di Jawa Timur sendiri sampai kini ada 5 ribu hektar lahan yang dalam pembinaan Bulog.

Sementara Bulog sendiri menarget ada 127 ribu hektar lahan yang akan dibina di seluruh Indonesia.

“Ini kita lakukan agar bahan baku terpenuhi, kalau tidak nanti bisa pincang. Kita serahkan ke petani mau menanam padi jenis apa. Yang penting hasilnya bisa berkualitas. Dan mesin-mesin yang dimiliki Bulog ini bisa bermanfaat,” tukasnya.

Hasil produksi padi petani itu nantinya langsung akan dibeli Bulog. Sehingga daya serap hasil petani dengan harga yang sudah pasti.

“Petani tidak akan resah, gabahnya tidak terbeli. Kita akan beli dengan harga yang sudah ditetapkan,” tambahnya.

Lima produk beras rasa-rasa itu kini masih diproduksi di salah satu gudang Bulog di Jawa Timur.

Kepala Divisi Regional Bulog Jatim, Muhammad Hasyim mengatakan produk ini sebagai alternatif bagi masyarakat yang menginginkan mengonsumsi nasi yang lain dari biasanya.

“Kalau ingin nasi apa ya tinggal beli rasa apa, terus dimasak. Satu kemasan itu cukup untuk empat porsi makan,” tuturnya.

Sementara ini, produksi masih dipusatkan di Surabaya. Namun dalam waktu dekat di setiap gudang Bulog juga akan diproduksi.

Seperti di Bondowoso yang memiliki lahan padi organik botanik yang sudah menjadi binaan Bank Indonesia. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.