PUNCH: Kuswana Mandiri Septian, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) (kiri) dan Arghubi Setya Utama, CEO Aiola (kanan) beserta pemenang  stand. (duta.co/Fatimah)

SURABAYA | duta.co– Usaha tidak harus modal banyak,  adanya media sosial bisa jadi  peluang berwirausaha dengan mempromosikan produk dengan mudah dan gratis.  Ini kesempatan besar bagi mahasiswa mengawali menjadi wirausahawan. Tidak hanya menggunakan medsos untuk narsis, melainkan bermanfaat sekaligus menambah pemasukan selain kiriman orangtua.

Dalam acara talkshow dan bazar Public Administration In Creativepreneurship (PUNCH) hadir Kuswana Mandiri Septian dari Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Surabaya dan Arghubi Setya Utama dari CEO Aiola (Food Court) Surabaya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Kuswana Mandiri Septian dari HIPMI mengatakan menjadi pengusaha perlu miliki mental kuat contoh petinju. Bagaimana petinju tersebut tidak kena pukul dan jatuh karena banyak  latihan. Begitu juga ketika mulai usaha resiko kegagalan entah dari operasional karena tidak laku dan gagal

“Kebanyakan karena ribut dengan usaha yang lain. Sama saja dengan pengusaha berarti harus latihan. Contoh juga marketing lewat digital berarti harus belajar dari jurus baru. Untuk itu, ikutlah berbagai seminar. Insting sebagai pengusaha harus dilatih. Contohlah petinju top. Sebelum kita terjun dunia usaha, mundur dulu, gunakan strategi yang sesuai. Tidak ada pengusaha yang hebat tanpa mengalami masalah yang berat,” ungkapnya.

HIPMI juga mempromosikan dirinya sebagai pengusaha yang terbuka untuk semua mahasiswa yang ingin ikut dan bergabung.

“Keuntungan ikut anggota HIPMI  pengusaha yang ingin maju mutlak nomor satu adalah networking. Bukan kita kenal siapa tapi kita dikenal siapa. Manfaat masuk HIPMI adalah dikenal. Makanya ikutlah organisasi. Bisnis tercipta dari relasi,” jelasnya

Senada Arghubi Setya Utama dari CEO Aiola menegaskan melakukan riset  apapun kebutuhan pasar. Aiola yang awalnya didirikan berlima dan terkenal sebagai food court di surabaya belum menemukan anggota baru.

“Aiola belum menemukan anggota baru dan sekarang hanya berlima. Sebelumnya menyesuaikan dari kelima itu kita memilih dari pasif dan aktif. Yang aktif dijadikan prioritas. Pembangunan skill dan mencoba sesuatu yg belum dicoba,” tuturnya.

Adapun pengembangan Aiola untuk usaha food courtnya, ia melakukan internal tiap minggu dan tiap bulan perencanaan lebih luas. Konsep food court pernah mengalami permasalahan dan ia bisa menghindari permasalahan dengan ide kreatifnya.

“Awal mulanya Aiola dari 15 anggota, lima diantaranya adalah langganan SMA. Mencari Pedagang Kaki Lima (PKL)  yang langganan dari teman sendiri. Prinsip ekonomi di Aiola meminset sistem dan mengedukasi pelan-pelan. Ada yang mengedukasi PKL 3 bulan, karena usaha butuh proses,” tuturnya

“Kita mengajarkan, kita saling memiliki. Awalnya mencari sendiri, semisal cari bakso, cumi, ajak satu-satu yg mau mana. Mencari opsi kedepannya Aiola mencari cabang baru. Kalau untuk menjaga, Aiola Antar penjual Surabaya dan Sidoarjo saling mengenal,” imbuhnya

Arghubi Setya Utama, CEO Aiola memberikan tips untuk menjadi pengusaha. Menggunakan media sosial sebagai peluang untuk berwirausaha. “Kita harus banyak belajar dari internet. Buka pikiran lebih bagus. Keterbukaan pikiran dan jangan menutup diri kita sendiri,” tegasnya.

Tidak berakhir di situ saja, HIPMI dan Aiola juga menilai 20 stand yang terpampang menghiasi acara talkshow dan bazar PUNCH . (mg5)

 

Tinggalkan Balasan