FT/AFP/Haidar Hamdani

Oleh: Abdul Halim Fathani

SETIAP manusia harus memiliki komitmen yang serius untuk meningkatkan kualitas pribadinya menjadi manusia unggul. Pendidikan harus hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Pendidikan yang bagaimana? Tentu, pendidikan yang dapat menginternalisasikan nilai tauhid dalam setiap komponen yang ada di dalamnya: siswa, guru, dan kurikulum. Alquran dan Hadits sudah semestinya harus menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan ilmu dan praktik pembelajarannya.

Yusuf (2013:2) dalam bukunya Tafsir Tarbawi menegaskan bahwa nilai tauhid mesti mewarnai pribadi siswa dan guru serta interaksi atau komunikasi antara keduanya. Guru mesti harus  tampil sebagai pribadi yang bertauhid, yang tercermin dalam perilaku, tutur sapa, pikiran, dan rasa. Semuanya mesti diwarnai oleh tauhid, seperti yang terlihat pada pribadi para nabi mulai dari Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw.

Demikian pula siswa; mereka ini mestinya dilihat sebagai komunitas pencari nilai-nilai tauhid. Maka, semua aktivitas belajar dan interaksi antara guru dan siswa tidak boleh bertentangan dengan nuansa tauhid. Untuk menghadirkan nuanasa tauhid tersebut, maka –paling tidak– dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan harus menginternalisasikan aspek fikir sekaligus dzikir. Fikir dan dzikir merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin bisa dipisah-ceraikan dalam kehidupan manusia. Siswa yang sedang belajar matematika, bisa dikatakan sedang melakukan kegiatan fikir sekaligus dzikir melalui wasilah matematika.

Berfikir sekaligus Berdzikir

Kamis, 13 Februari 2020, saya berkesempatan untuk menghadiri acara pengukuhan Dr. Kusaeri, M.Pd, sebagai guru besar Bidang Evaluasi Pembelajaran Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), yang berlangsung di Gedung Sport Center UINSA. Dalam kesempatan tersebut, Dr Kusaeri, MPd menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Reorientasi Penilaian Pembelajaran Matematika: Dulu, Kini, dan Mendatang”. Apa yang menarik dari orasi ilmiah yang disampaikan tersebut?

Di bagian akhir naskah orasi ilmiahnya, saya tertarik untuk “menelusuri” lebih lanjut uraian Kusaeri (2020:18) yang menegaskan pentingnya ‘Matematika sebagai sarana tafakkur dan tadzakkur. Dengan belajar matematika yang tak semata “ilmu dunia” (tafakkur) namun sekaligus “ilmu akhirat” yang terkandung di dalam matematika (tadzakkur), maka proses pembelajaran matematika yang semacam ini merupakan jalan ibadah untuk memahami kesemestaan hidup dan sekaligus sebagai sarana untuk mengingat ke-Maha Besaran Allah swt.

Sebagai hamba Allah swt, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk senantiasa mengingat-Nya, kapan pun dan di mana pun. Bagaimana cara mengingat Allah swt? Ya, dengan cara berdzikir (dzikrullah). Sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya, Surat Al-Ahzab ayat 41 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”

Pada dasarnya, dzikrullah tentu tidak hanya dimonopoli oleh kaum agamawan yang notabene ahli di bidang ilmu-ilmu agama ansich, seperti ahli fiqih, tauhid, tasawuf, dan sebagainya. Tetapi, orang yang bergelut di bidang ilmu-ilmu umum yang bersumber dari ayat-ayat kauniyah, seperti matematika juga memiliki kesempatan yang sama untuk senantiasa mengingat kepada Allah swt. Tentu, dzikrullah yang dimaksud menggunakan matematika sebagai wasilahnya. Dengan kata lain, siapa pun orangnya yang belajar matematika maka ia harus mampu menjadikan matematika sebagai sarana untuk mengingat Allah swt.

Bagaimana karakteristik matematika? Abdussakir (2012) menguraikan dalam tulisannya: Matematika berada di antara dunia syahadah dan ghaibiyah. Dengan demikian, maka matematika bersifat “setengah nyata dan setengah ghaib”. Untuk memahami objek yang nyata diperlukan pendekatan rasionalis, empiris, dan logis (bayani dan burhani). Sedangkan untuk memahami objek yang ghaib diperlukan pendekatan intuitif, imajinatif, dan metafisis (irfani). Kekuatan utama dalam matematika justru terletak pada imajinasi atau intuisi yang kemudian diterima setelah dibuktikan secara logis atau deduktif.

Lebih lanjut, Abdussakir menguraikan bahwa ilmuwan (termasuk matematikawan) dalam pandangan Alquran adalah sosok yang secara bersamaan mengembangkan potensi dzikir dan fikir untuk menghasilkan amal sholeh, yang dalam Alquran disebut Ulul Albab. Potensi dzikir berperan menghadapi objek yang suprarasional, dan mampu mempertajam kemampuan intuitif, emosional, dan spiritual. Potensi fikir berperan menghadapi objek yang rasional. Dzikir mewakili aktivitas pada aspek ghaibiyah dan fikir mewakili aktivitas pada aspek syahadah. Ulul albab tidak hanya mempelajari yang aqliyah atau kauniyah saja (alam semesta) melalui pendekatan burhani, tetapi juga yang naqliyah atau tanziliyah (wahyu) sebagai sumber ilmu melalui pendekatan bayani.

Sekali lagi, belajar matematika harus bisa menjadi sarana untuk membangun jembatan dalam rangka menghadirkan sekaligus mendekatkan diri Allah swt dalam diri kehidupan manusia (taqarrub ilallah). Sebagai contoh praktik menghadirkan nuansa tauhid (memadu dzikir sekaligus fikir) dalam belajar materi matematika dapat dilihat paparan berikut ini.

Untuk materi operasi penjumlahan dalam Alquran dapat dilihat dari surat al-Baqarah ayat 196. Artinya: “…Apabila kamu telah merasa aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umroh sebelum haji (dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembai. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna…”.

Dalam ayat tersebut, bilangan 10 dinyatakan dengan 3 + 7.

Perhatikan pula surat Al-Kahfi ayat 25. Artinya: “dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”.

Pada ayat tersebut 309 dinyatakan dengan 300 + 9.

Juga pada surat Al-A’raf ayat 142, yang artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam…” 

Ayat ini menunjukkan bahwa 30 + 10 = 40.

Itulah contoh belajar matematika materi penjumlahan dengan menggunakan Alquran sebagai materi kajiannya. Dengan model pembelajaran seperti ini, diyakini mampu membangkitkan semangat para santri untuk memahami matematika (fikir) dan sekaligus menjadi sarana untuk mengingat Allah swt (dzikir).

Belajar seperti ini juga memberi nilai plus bagi siswa, karena bisa lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yakni dengan merasakan bahwa Alquran benar-benar mukjizat yang agung.

Materi matematika yang diintegrasikan dengan Alquran, sungguh, sangat luas sekali. Untuk operasi bilangan saja, masih ada operasi pengurangan, perkalian, pembagian. Lalu, materi himpunan, jenis-jenis bilangan, logika, persamaan linear, dan seterusnya, juga bisa kita temukan konsepnya, dalam Alquran. Subhanallah. Mari berdzikir, mari berfikir.

*Penulis adalah Dosen Pendidikan Matematika FKIP Universitas Islam Malang. Aktif di Komunitas Literasi ‘Sahabat Pena Kita’.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry