Keterangan foto IDN Times

Tindakan inilah  sebenarnya yang patut disebut sebagai terror, atau radikalisme  terselubung dengan berlindung di balik anjuran–anjuran moralitas yang di dalam praktiknya adalah anti moralitas.”

OLEH: Zainal Bintang*

PERHELATAN reuni PA 212 hari ini, Minggu 2 Desember 2018, berlangsung dengan khidmat, aman dan damai. Sebuah peristiwa politik yang menolak artikulasi politik.

Siapakah yang mendapatkan kemenangan dari acara tersebut? Jawabannya adalah Pancasila! Tanpa kesepakatan batiniah yang dialiri oleh nilai sakral Pancasila di dalam perasaan masing – masing stakeholder adalah sangat mustahil untuk menyaksikan acara di Monas dapat berjalan dengan damai.

Menurut informasi panitia dan laporan pandangan mata reporter media,  jumlah peserta mencapai delapan sampai sepuluh juta orang dari berbagai kota besar di luar Jakarta bahkan dari luar pulau Jawa.

Perhelatan masif itu berlangsung khidmat dan berjalan aman dan damai. Gelombang masa yang tumpah ke Jakarta dan bermuara di Monas telah berlangsung dua hari  sebelum puncak  acara. Mereka menetap di mesjid – mesjid terdekat dan mendapat sambutan hangat dari warga ibukota di sekitar titik kumpul itu.

Matahari pagi di langit Jakarta di atas Monas bersinar menyebar senyum  ramah. Pancasila seakan melambai bersama siraman sinar matahari pagi menyapa peserta reuni yang sejak  puluhan jam sebelumnya  tidak pernah berhenti melantunkan doa dan shalawat nabi yang khusyuk, syahdu dan  penuh khidmat  disertai aroma religiusitas yang memukau.

Seperti diketahui perbedaan pilihan politik menjelang Pemilu 2019 yang sangat tajam menjadi sumber konflik horisontal dua kubu kontestan. Semangat keinginan berkuasa  sangat dominan. Nyaris meminggirkan tata krama dan landasan etika berbangsa dan bernegara.

Lapangan Monas, yang dulu bernama Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) pernah menorehkan sejarah penting  di awal–awal kemerdekaan. Hanya kurang lebih satu bulan setelah proklamasi kemerdekaan di Lapangan Ikada berlangsung rapat raksasa  pada 19 September 1945.

Bung  Karno  selaku  proklamator  dan presiden menyampaikan pidato singkat yang dihadiri ribuan pemuda pejuang dan rakyat bertujuan membulatkan tekad mengawal dan mengisi kemerdekaan.

Apa yang terjadi hari ini di Monas, yang dulu dikenal sebagai lapangan Gambir,  harus dimaknai sebagai langkah substansial menegaskan kesepakatan batin bangsa yang mengikatkan seluruh jiwa dan raga ke dalam nilai intrinsik yang terkandung di dalam kelima sila Pancasila.

Ancaman perpecahan yang setiap hari dikobarkan melalui berbagai forum politik merebak ke ruang publik menimbulkan keresahan.

Jelas ini adalah sebuah tindakan pengerdilan nilai luhur bangsa yang secara sadar atau tidak (mungkin juga memang ada yang secara sadar) adalah perbuatan petualang politik yang berkedok Pancasila. Mereka berperilaku seakan-akan sangat Pancasilais.

Jangan Mau Terperangkap

Melakukan propaganda berkedok moralitas yang pada hakekatnya anti moralitas karena yang diciptakannya adalah serangkaian kegoncangan demi kegoncangan yang mencemaskan dan pada gilirannya akan melahirkan semangat yang sangat skeptis terhadap kesaktian Pancasila.

Tindakan inilah  sebenarnya yang patut disebut sebagai terror, atau radikalisme  terselubung dengan berlindung di balik anjuran–anjuran moralitas yang di dalam praktiknya adalah anti moralitas.

Jika kita bersepakat maka sesungguhnya ancama nyata terhadap keutuhan bangsa ini justru terdapat di dalam anjuran dan seruan persatuan yang dikhotbahkan siang malam melalui jalur demokrasi palsu yang dibungkus rapi  dengan  regulasi–regulasi demokrastis yang artifisial.

Maka apa yang terjadi hari ini di Monas, sesungguhnya harus dilihat sebagai peringatan besar dan peringatan keras kepada seluruh rakyat. Mereka  jangan mau terperangkap di dalam propaganda demokrasi semu yang sesungguhnya terbungkus rapi di dalam kemasan tipu muslihat; sebuah rencana pembunuhan tanpa jejak oleh tangan tidak terlihat. Pembunuhan terhadap ketangguhan  persatuan bangsa dengan cara melumpuhkan Pancasila sebagai perekat utama persatuan dan kesatuan itu.

Bangsa besar ini hanya dapat dikalahkan jika Pancasila dipisahkan dari dirinya. Dan upaya panjang untuk melumpuhkan Pancasila sebenarnya sangat jelas dapat kita temukan dan baca di dalam berbagai jejak sejarah hitam upaya bangsa asing bersama kompradornya.

Bangsa asing itu bersama kaki tangannya di dalam negeri yang, notabene adalah anak negeri ini juga, mau merebut negeri yang sangat kaya raya ini sebagai sumber potensi penjamin kelangsung hidup masyarakat dunia untuk jangka panjang dalam bentuk sumber daya alam yang berlimpah (pertanian, tambang dan hasil laut).

Lihatlah, jika kita renungkan sesungguhnya upaya pelemahan secara  sistemik terhadap bangsa ini sudah lama berlangsung.

Sejumlah pergolakan dalam negeri yang tercatat dalam sejarah dapat jadi bukti. Pada saat yang sama di dalam bukti sejarah itu juga kita dapat menemukan fakta bahwa adalah karena Pancasila maka negara dan bangsa ini masih dapat survive  sampai hari ini.

Indonesia Sedang Bergegas

Oleh karena itu, perhelatan reuni “PA212” hari ini harusnya dapat disepakati sebagai sebuah upaya semua elemen bangsa untuk menyatakan diri ;  tidak akan pernah mau menyerah kepada segala daya upaya pihak asing atau kaki tangannya untuk mebelokkan Pancasila.

Jangan ada yang berfikir ini gerakan umat Islam semata. Faktanya, semua elemen bangsa dan lintas agama ikut serta dalam perhelatan akbar yang sangat fantastis dan masif  itu. Yang jelas ini adalah parade kekuatan rakyat – yang merasa untuk itu mereka – tidak butuh  menggunakan gedung mereka yang mentereng di Senayan.

Perhelatan yang dibuat secara spontan dengan persiapan waktu yang sangat pendek itu, pada akhirnya  dapat terlaksana tanpa turut campurnya tangan negara, dalam arti fasilitias dan pendanaan.

Satu–satunya keterlibaan  negara yang nyata dan patut diacungi jempol adalah kolaborasi aparat keamanan TNI dan Polri telah berjasa memberikan rasa aman dan kenyamanan sampai selesai  pesta rakyat yang dikelola sendiri oleh rakyat itu secara swadaya dan bersemangat. Netralitas TNI – Polri adalah sebuah kabar gembira yang konstruktif  berkontribusi besar terhadap demokrasi.

Melalui peristiwa kolosal di Monas hari ini, diharapkan dapat menjadi titik awal untuk  menata kembali pentingnya nilai luhur Pancasila menjadi acuan semua pihak di dalam berkompetisi politik.  Gunanya adalah untuk  mendorong porses demokratisasi ke depan agar dapat  melahirkan sebuah perhelatan Pemilu yang menggembirakan, menyatukan dan saling menguatkan. Semua pihak harus menyadari hal ini. Indonesia sedang bergegas! (artikel ini telah diunggah rmol.co)

* Zainal Bintang adalah wartawan senior dan pemerhati masalah sosial budaya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.