SURABAYA | duta.co – Sudah lebih dari dua pekan tiket penerbangan maskapai AirAsia tidak bisa diperoleh dari online travel agent. Berbagai isu menyeruak terkait adanya keterlibatan kartel yang tidak menginginkan. Terkait hal ini pengamat ekonomi Dr Meithiana Indrasari mengatakan bahwa masyarakat selaku konsumen menjadi imbas terbesar.

Menurutnya, banyaknya pilihan maskapai memudahkan masyarakat untuk memilih jadwal dan harga tiket yang sesuai dengan masing-masing calon penumpang. Hilangnya tiket AirAsia tersebut dinilai perempuan yang akrab disapa Mei tersebut mengakibatkan calon penumpang memiliki sedikit pilihan.

”Sebelumnya calon penumpang memiliki banyak pilihan. Mau naik pesawat apa dan jam berapa, pilihannya beragam. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan budgetnya. Sedikit banyak, hilangnya tiket AirAsia dari online travel agent tentu mengurangi daftar pilihan calon penumpang. Mau tidak mau, calon penumpang yang selama ini mengandalkan pembelian tiket melalui online travel agent, hanya bisa memilih tiket yang tersedia,” ujarnya, Senin (18/3/2019).

Perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen ini menambahkan, ada maladministrasi terkait hilangnya tiket AirAsia dari online travel agent. Menurutnya, sebelum pihak AirAsia resmi menarik semua tiket dari penjualan travel online, beberapa kali tiket AirAsia di online travel agent sempat hilang dan muncul. Ketika dikonfirmasi ke sejumlah online travel agent, hal tersebut dikarenakan adanya masalah teknis. Inilah maladministrasi yang terjadi sehingga merugikan calon penumpang.

Sejumlah calon penumpang juga mengeluhkan hilangnya tiket AirAsia dari online travel agent. Adit, pengusaha asal Surabaya yang kerap melakukan kegiatan bisnisnya di Jakarta dan Denpasar menyebut saat ini harga tiket pesawat lebih mahal dibanding beberapa bulan lalu.

Ia mengaku selalu membeli tiket pesawat melalui online travel agent. Alasannya simpel dan mudah. Mahalnya harga tiket tersebut terbantu dengan adanya tiket AirAsia yang harganya lebih bersaing dan lebih murah dibanding maskapai lain. Hilangnya tiket AirAsia di online travel agent diakui Adit sangat merugikan calon penumpang.

”Harga tiket AirAsia kadang lebih murah daripada maskapai lain meski hanya berselisih puluhan ribu rupiah. Selain itu dengan tersedianya tiket dari maskapai mana saja yang lengkap, akan membuat kami lebih memiliki pilihan baik dari sisi harga maupun jadwal penerbangan,” ujar Adit.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melalui Sekretaris Pengurus Harian Agus Suyatno seperti yang dikutip dari beberapa media massa menduga hilangnya tiket AirAsia dari aplikasi online travel agent ada kaitannya dengan kebijakan bagasi berbayar.

Agus menduga kebijakan AirAsia yang belum menerapkan aturan bagasi berbayar tersebut mengakibatkan adanya intervensi dari pemain bisnis penerbangan lain yang sudah menerapkan kebijakan bagasi berbayar kepada online travel agent agar tidak menjual tiket AirAsia. Menurutnya, jika memang benar ada intervensi maskapai lain terhadap online agent travel berarti ada persaingan tidak sehat di antara maskapai.

Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur Said Sutomo mengatakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) harus turun mengawasi dan menyelidiki kemungkinan terjadi monopoli atau kartel yang tidak memberikan pilihan bagi konsumen.

”Konsumen bisa melaporkan hal tersebut kepada KPPU karena calon penumpang sangat dirugikan dengan tidak tersedianya tiket AirAsia di online travel agent. Jika ada kemungkinan terjadinya monopoli atau kartel dalam industri penerbangan, konsumen tidak lagi memiliki pilihan,” ujar Said Sutomo melalui pesan singkat.

Saat ini tiket AirAsia telah resmi tidak tersedia di sejumlah online travel agent. Putusan AirAsia menarik penjualan dari online travel agent itu diambil setelah hilangnya tiket maskapai tersebut. Penarikan ini meliputi seluruh rute penerbangan di semua jaringan AirAsia. Putusan ini didasari hilangnya tiket AirAsia secara misterius di sejumlah online travel agent untuk kali kedua dalam waktu berdekatan.

Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan di Jakarta, beberapa waktu lalu, menegaskan hilangnya beberapa penerbangan AirAsia di online travel agent menunjukkan dengan jelas sikap diskriminatif dan berat sebelah.

”Persaingan usaha seharusnya bersifat fair sehingga konsumen diuntungkan dengan adanya penawaran yang lebih baik. Jangan sampai monopoli membunuh kompetisi dan membuat para traveler menjadi dirugikan,” jelas Dendy.

Pengamat sosial Universitas Airlangga Surabaya Novri Susan, Ph.D menyebut hilangnya tiket AirAsia dari online travel agent sangat merugikan konsumen. Saat ini masyarakat berada pada fase digital euforia, di mana proses terintegrasinya sistem sosial ke dalam dunia digital. Semua menjadi serba mudah dengan keberadaan sistem online, termasuk online travel agent. Ia mengatakan, hilangnya tiket AirAsia di online travel agent tersebut jelas mempengaruhi masyarakat dalam aktivitasnya. net

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.