Gambar diambil usai salat subuh, Rabu (17/4/2019) tepat hari coblosan. (FT/MKY)

SIDOARJO | duta.co – Instruksi PWNU Jatim berupa Lailatul Ijtima, Istighotsah dan Tahajjud Sukses Pemilu 2019 berbasis Masjid, Musholla dan Pesantren, nyaris tak terlihat. Sejumlah masjid dan musholla dalam pantuan duta.co, menjelang coblosan Rabu (17/4/2019) tampak sepi.

Selain tidak tahu adanya instruksi itu, sejumlah jamaah masjid dan masholla lebih memilih berada di rumah, selesai subuh berjamaah, mereka pulang, tidak ingin menjadikan masjid dan masholla sebagai basis dukung mendukung.

“Katanya kita disuruh jauhi politik? Kan sudah ditulis pengumumkan masjid tempat ibadah, bukan untuk politik,” jelas salah seorang jamaah masjid Al-Ikhlas, Krian, Sidoarjo kepada duta.co.

Padahal rundown yang beredar dengan logo PWNU Jatim terbaca padat. Sejak pukul 03.00 Wib sudah dilakukan kegiatan. Selama 1.45 menit dipakai untuk tahajjud bersama. Lalu 15 menit berikutnya jamaah salat subuh. Pukul 04.30 sampai 06.30 diisi istighotsah dan taushiyah-taushiyah.

Temanya macam-macam, dari ‘Pentingnya Pemimpin Ahlussunnah waljamaah an-Nahdliyah, Hidup Mulia bersama Ulama, sampai  Ulama-Umara Bersatu, Negeri akan Utuh’.

“Warga NU paham, bahwa itu muatan politik. Maunya kan disuruh pilih 01 Jokowi-Kiai Ma’ruf, ini bertentangan dengan khitthah NU dan bisa jadi bertentangan dengan pilihan mereka,” tegas H Agus Solachul A’am Wahib (Gus A’am Wahib) kepada duta.co.

Selain acara resmi, masih dalam rundown itu, ada sarapan bersama pukul 03.30 s/d 07.01. Lalu dilanjutkan salat dhuha bersama selama 30 menit. Pukul 7.30 sampai 10.01 datang secara berjamaah ke TPS dengan baju putih bersama (muslim) dan berkerudung hijau (muslimat).

Gus A’am pun menyarankan warga NU tidak perlu mengikuti instruksi itu. Menurut putra almaghfurlah KH Wahib Wahab Chasbullah ini, keluarnya instruksi PWNU Jatim tersebut menunjukkan politisasi NU sekarang sudah kelewatan. Pengurus NU sudah tidak mengindahkan khitthah NU, lebih mengutamakan nafsu politik.

“Mestinya mereka mundur dari kepengurusan NU. Jangan sampai organisasi yang didirikan para kiai ini menjadi alat untuk merebut kekuasaan dan, ujung-ujungnya hanya untuk mencari uang,” tegasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry