Caption foto : Peresmian masjid Al-Musafirin di Rest Area KM 753 B Tol Surabaya - Gempol,Minggu (18/10/26),(FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Masjid Al Musafirin di Rest Area 753 B Tol Surabaya–Gempol resmi beroperasi pada Ahad (18/10/26). Peresmian dilakukan langsung oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, bersama Komisaris Utama PT Margabhakti Sari Sejahtera (MbSS), Mohamad Faried, SH.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. M. Nuh selaku dewan pembina YDSF menegaskan bahwa membangun masjid merupakan wujud pertolongan sosial yang diharapkan mengundang pertolongan Allah SWT, sekaligus menjadi amal jariyah bagi pihak-pihak yang berkontribusi.

Dalam sambutannya, Prof. Nuh menguraikan sebuah hadis tentang sosio-kausalitas atau hukum sebab-akibat sosial dalam pertolongan Allah. Menurutnya, pertolongan kepada sesama dapat diberikan secara langsung maupun tidak langsung.

“Allah pasti menolong hamba yang menolong orang lain. Menolong itu ada yang direct, ada yang indirect. Ada yang langsung dan ada yang tidak langsung,” jelas Menteri Pendidikan Nasional periode 2009–2014 ini.

Prof. Nuh juga memberikan apresiasi khusus kepada Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) atas kiprahnya dalam mengelola dana umat. Ia berharap YDSF terus berkembang melalui program-program yang memiliki dampak dan nilai manfaat tinggi bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan YDSF terus berkembang dengan program-program yang dampak dan nilai manfaatnya paling tinggi, maximum impact. Terima kasih, selamat berjuang, selamat bahagia mendapat jariyah dari tempat ini,” pesan Prof. Nuh.

Salah satu pendiri YDSF, Ustadz Abdulkadir Baraja, dalam kesempatan tersebut turut mengingatkan pesan Ketua Pembina YDSF, almarhum Prof. Mahmud Zaki.

Menurut Ustadz Abdulkadir, almarhum Prof. Mahmud Zaki berpesan agar YDSF senantiasa menjadi lembaga yang mengoptimalkan pengelolaan dana umat secara amanah dan profesional.

“Dan semoga masjid ini akan diurus dengan manajemen yang bagus,” kata Ustadz Abdulkadir.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan masjid bukan hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut komitmen untuk memakmurkan masjid serta mengelolanya dengan tata kelola yang baik dan berkelanjutan.

Dari sisi arsitektur, arsitek Masjid Al Musafirin, Andy Rahman, menjelaskan bahwa desain masjid mengangkat tema arsitektur yang merespons kondisi tapak (site) dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan. Konsep tersebut dirancang untuk menjaga harmoni dengan lingkungan fisik, sosial, serta budaya setempat.

Upaya optimalisasi ruang berhasil meningkatkan kapasitas masjid secara signifikan. Jika sebelumnya masjid hanya mampu menampung sekitar 280 jemaah, bangunan baru kini dapat menampung hingga 450 jemaah, bahkan lebih.

Sirkulasi udara dan pencahayaan alami menjadi pertimbangan penting dalam perancangan. Dengan konsep tersebut, seluruh ruang diharapkan memperoleh cahaya alami pada siang hari serta memiliki sirkulasi udara sepanjang hari.

“Konsep ini membuat masjid ini lebih hemat energi dan sehat,” tegas Andy.

Bentuk bangunan mengambil dasar arsitektur masjid awal di Nusantara, yakni masjid dengan atap tajuk yang disederhanakan, tetapi tetap tampil monumental. Sementara itu, pemilihan warna mengacu pada ciri khas arsitektur Jawa Timur, yaitu warna terakota yang mengingatkan pada warna khas candi-candi berbahan bata di Jawa Timur.

Pembangunan Masjid Al Musafirin telah dimulai sejak September 2025. Dengan diresmikannya masjid tersebut, YDSF berharap kehadirannya dapat memberikan manfaat seluas-luasnya bagi para pengguna jalan tol maupun masyarakat sekitar.

Alhamdulillah, pada hari peresmian tersebut, sejumlah hadirin juga memanfaatkan kesempatan untuk menunaikan salat dan merasakan sujud pertama di Masjid Al Musafirin yang kini resmi beroperasi.(loe)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry