SURABAYA – Pendaftaran calon anggota DPD RI atau senator pada Pileg 2019 telah dibuka oleh KPU provinsi di seluruh Indonesia, termasuk di KPU Jatim. Sampai Selasa (24/4/2018) kemarin belum ada yang mendaftar. Kamis (26 April 2018) terakhir, dan dibuka hingga pukul 24.00 WIB.

Yang menarik jatah empat kursi senator asal Jatim periode 2019-2024 mendatang itu idealnya diisi oleh siapa. Mengingat, proivinsi dengan 39 juta penduduk ini sangat dinamis dalam urusan politik dukung mendukung.

Pengamat komunikasi politik dari Unair Surabaya, Dr Suko Widodo, MA mengatakan bahwa dinamika elektoral di Jatim sangat dinamis dan cair, termasuk dalam pemilihan calon anggota DPD RI atau senator asal Jatim. Sehingga kuncinya terletak pada kekentalan jaringan yang dimiliki oleh calon senator itu sendiri.

“Kekentalan jaringan yang dimiliki calon senator itu sangat menentukan keterpilihan calon senator dalam Pileg 2019 mendatang,” ujar Sukowidodo kepada duta.co Selasa (24/4/2018).

Jaringan di Jatim yang memiliki kekentalan kuat, karena ada kesamaan ideologi, lanjut Sukowidodo terdapat pada ormas keagamaan, seperti Muhammadiyah dan NU bersama badan otonomnya yaitu Muslimat, GP Ansor, Fatayat, IPNU dan IPPNU. Kemudian organisasi profesi seperti PGRI, HKTI dan lain sebagainya.

Sementara untuk kelompok-kelompok ormas nasionalis, tambah Suko, relatif masih cair karena kekentalan jaringannya baru pada tataran knowledge (pemikiran) dan belum sampai pada tataran sikap. “Peluang kelompok nasionalis masih terbuka, asal mereka mau memanfaatkan jaringan parpol-parpol beraliran nasionalis,” bebernya.

Kekentalan jaringan di era teknologi informasi, kata Suko mudah dirusak lewat Medsos kalau jaringan itu tidak dikelola dengan baik. “Ormas seperti NU justru paling rawan dalam masalah ini karena memiliki banom yang banyak,” dalihnya.

Terpisah, Dekan FISIP Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menyatakan bahwa tokoh-tokoh yang mendapat rekomendasi dari ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah berpeluang besar terpilih menjadi senator Jatim mendatang. Namun, perwakilan tokoh dari Muhammadiyah relatif lebih aman karena loyalitas pemilih Muhammadiyah relatif permanen.

“Pemilih Muhammadiyah itu relatif permanen terhadap rekomendasi organisasi, sehingga calon senator dari Muhammadiyah peluangnya lebih aman,” jelas Surokim. Kelompok ormas keagamaan Islam yang cenderung beraliran kanan juga akan lebih merapat ke utusan Muhammadiyah dibanding ke yang lain.

Sebaliknya, calon senator dari kader NU, lanjut Surokim relatif lebih berat karena rekomendasi organisasi biasanya lebih cair. Pasalnya, banom-banom NU juga berhasrat mengusung perwakilannya menjadi calon senator sehingga konsekwensinya dukungan calon senator dari NU terpecah.

“Kelompok kelas menengah NU yang kritis, berkembang pesat, sehingga warga NU terdikotomi menjadi NU kultural dan struktural. Jadi kompetisi representasi kader NU menjadi lebih berat dibanding di Muhammadiyah,” dalih Surokim.

Idealnya, kata Surokim, NU bisa meloloskan dua kadernya menjadi senator mewakili Jatim. Mengingat jumlah warga Jatim yang berafiliasi dengan NU mencapai kisaran diatas 70 persen dari jumlah penduduk Jatim. Sementara Muhammadiyah hanya di bawah 10 persen.

“Kalau warga NU tidak bermain sendiri-sendiri dan lebih patuh pada struktur organisasi, saya kira NU bisa meloloskan minial dua kadernya bisa menduduki kursi senator pada Pileg 2019 mendatang,” jelasnya.

Selain wakil ormas keagamaan, kata Surokim perwakilan kelompok masyarakat yang berpeluang menjadi senator asal Jatim adalah dari kelompok nasionalis yang sudah memiliki sejarah panjang. Mengingat, komunitas ini jumlanya juga cukup besar di Jatim.

“Saya kira tokoh kelompok nasionalis yang memiliki hubungan dekat dengan kekuasaan baik di pusat maupun di Jatim juga memiliki peluang terbuka. Apalagi calon senator itu bisa diterima oleh pendukung Jokowi dan Pakde Karwo yang notabene representasi kelompok nasionalis,” imbuhnya.

Diakui Surokim, pada Pileg 2014 lalu representasi kelompok ormas keagamaan banyak yang tumbang,  sehingga senator asal Jatim diisi oleh artis seperti Emilia Contesa, ataupun mantan anggota DPRD Jatim Ahmad Nawardi. Namun akhir-akhir ini eskalasi politik nasional justru diramaikan dengan isu SARA sehingga keberadaan ormas menjadi sangat diperhitungkan.

Sekedar diketahui, bakal calon senator asal Jatim yang muncul ke permukaan publik diantaranya, Najib Hamid (Muhammadiyah), Alfa Isnaini (Dansatkornas Banser Ansor/NU), KH R Mujahid Ansori (PMII) dan Suhandoro (Projo Jatim), La Nyalla Mahmud Mattalitti (Pemuda Pancasila) yang juga dengan tokoh-tokoh NU dan pesantren.

Sampai hari ini, pendaftaran calon anggota DPD masih sepi dan belum ada kepastian siapa saja yang sudah mendaftar, termasuk calon senator asal Jatim.

Ketua KPU Jatim, Eko Sasmito mengatakan bahwa sejak pendaftaran calon anggota DPD RI dibuka pada 22 April lalu, pihaknya belum menerima laporan siapa saja yang sudah resmi mendaftar dan melengkapi berkas persyaratan pendaftaran.

“Yang sudah konsultasi ke KPU Jatim ada sekitar 46 orang untuk minta user aplikasi pendaftaran. Tapi yang resmi sudah tercatat mendaftar ke KPU Jatim belum ada sama sekali. Pasalnya, berkas yang mereka bawa belum lengkap sehingga KPU Jatim belum bisa memberikan surat tanda terima pendaftaran,” ujar Eko Sasmito saat dikonfirmasi Selasa (24/4/2018).

Berdasarkan ketentuan, kata Eko, calon senator yang mendaftar harus menyertakan bukti dukungan disertai foto copy KTP sebanyak 5 ribu orang yang tersebar minimal di 50 persen kabupaten/kota di Jatim atau 19 kabupaten/kota.

“Pendaftaran di kantor KPU Jatim dibuka mulai pagi hingga pukul 16.00 WIB hingga tanggal 25 April 2018. Sedangkan khusus tanggal 26 April dibuka hingga pukul 24.00 WIB,” beber mantan Ketua KPU Kota Surabaya ini.

Jatah anggota DPD RI asal Jatim pada Pileg 2019 mendatang, lanjut Eko Sasmito tidak berubah yaitu 4 orang. Kalau melihat jumlah calon senator asal Jatim pada setiap gelaran pemilihan umum, rata-rata kisaran 40-an orang.  “Untuk bisa jadi atau terpilih sebagai anggota DPD RI asal Jatim periode 2019-2024, saya kira perolehan suaranya harus diatas 1,5 juta,” pungkasnya. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.