Rahayu Anggraini – Dosen Fakultas Kesehatan

SAAT dunia mengalami epidemi COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus Corona atau SARS-CoV-2. Bukti klinis menunjukkan jalur COVID-19 mirip dengan SARS dan MERS.

Di mana ketika partikel virus memasuki tubuh melalui hidung, mata, atau mulut dan bila beberapa partikel berhasil masuk ke saluran pernapasan bagian bawah, virus korona akan mengunci sel epitel yang melapisi saluran pernapasan serta kantung udara di paru-paru.

SARS-CoV-2 dapat tetap tidak terdeteksi seperti kebanyakan virus flu, namun ketika berhasil masuk virus akan membuka kunci protein ACE2 (Antigen) di sel paru-paru. Begitu masuk, mereka mengambil alih mesin sel, menggandakan diri serta seterusnya menginfeksi sel normal didekatnya dalam tubuh penderita.

Secara klinis, respon imun/kekebalan yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2 dikendalikan oleh respon imun bawaan (alami) yaitu kulit, lendir dan rambut di hidung, serta enzim di perut, bila gagal, maka akan diambil alih dan dikendalikan oleh respons imun adaptif.

Respon imun adaptif tubuh akan menghasilkan antibody IgM dan IgG dan berusaha untuk menghilangkan virus dan mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang parah. Oleh karena itu, strategi untuk meningkatkan respon imun (antisera / IgG) pada tahap ini sangatlah penting.

Untuk pengembangan respons imun protektif endogen pada tahap inkubasi, sel inang harus dalam kondisi kesehatan baik, sehingga berhasil menimbulkan imunitas antivirus spesifik (IgG spesifik SARS-CoV-2).

Penyakit Komorbid (tubuh telah terinfeksi TB, Sifilis, HIV, HPV, HSV, CMV, Cancer. dll) berkontribusi dalam respon imun terhadap pathogen ini (SARS-CoV-2), sehingga ketika respon imun pelindung terganggu oleh penyakit komorbid, virus akan menyebar dan kerusakan besar pada jaringan yang terkena akan terjadi, terutama pada organ yang memiliki ekspresi ACE2 tinggi, seperti usus dan ginjal.

Sel yang rusak menyebabkan peradangan di paru-paru yang sebagian besar dimediasi oleh makrofag dan granulosit. Peradangan paru-paru adalah penyebab utama gangguan pernapasan yang mengancam jiwa pada tahap terparah.

IgG/IgM Rapid Test ditujukan untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi SARS-CoV-2 dalam tubuhnya dan mampu memberikan respon kekebalan atau tubuh sama sekali belum pernah terpapar oleh SARS-CoV-2. Jadi bila hasil IgG dan IgM Rapid test non reactive, maknanya tubuh sama sekali belum pernah terpapar atau tubuh memiliki penyakit komorbid, sehingga tidak mampu memberikan respon antibody (IgG/IgM).

Pada individu dengan penyakit komorbid ini (hasil IgG/IgM Rapid test non reactive), bila tidak segera dilakukan swab (RT-PCR) dapat menyebar luaskan SARS-CoV-2 tanpa kendali, sehingga tujuan memutus mata rantai penularan COVID-19 sulit untuk tercapai. Jadi untuk memisahkan individu terinfeksi dan tidak terinfeksi hanya dengan metode RT-PCR, karena mendeteksi antigen (SARS-CoV-2) dan bukan antibody (IgG/IgM Rapid test).

Pengujian antibodi (IgG/IgM Rapid Test) pada era new normal sangat penting dalam studi identifikasi individu berisiko tinggi (IgM Rapid test reactive) dan apakah telah memproduksi antibodi melawan SARS-CoV-2 (IgG Rapid test reactive).

Uji ini juga sangat berguna dalam menyeleksi individu untuk menerima vaksin SARS-CoV-2, karena bila hasil IgG SARS-CoV-2 reactive, pemberian vaksin sudah tidak dibutuhkan tubuh, dikarenakan tubuh secara active telah menghasilkan kekebalan, sedangkan bila hasil SARS-CoV-2 dengan RT-PCR dan IgM SARS-CoV-2 reactive, maka dilarang untuk dilakukan vaksinasi, karena akan memperburuk kondisi kesehatan penerima. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry