KETERANGAN FOTO bbc.com/SONNY TUMBELAKA AFP

JAKARTA | duta.co – Ketimpangan sosial di Indonesia kian meningkat. Setidaknya empat tahun terakhir, angkanya terus naik. Delapan dari 10 warga Indonesia mengakui adanya kenaikan ketimpangan sosial yang merata di seluruh wilayah Indonesia selama 2016-2017, demikian hasil survei terbaru LSM Infid yang dirilis awal tahun kemarin.

Survei Ketimpangan Sosial oleh Infid -digelar selama Agustus-Oktober 2017 di 34 provinsi- menyebutkan dari total 2,250 orang responden, 84% diantaranya mempersepsikan adanya ketimpangan, setidaknya pada satu ranah.

“Bisa dikatakan, delapan dari 10 warga Indonesia mempersepsi adanya ketimpangan,” kata Bagus Takwin, ketua tim penelitian ini, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (08/02).

Di Indonesia yang kaya semakin kaya, yang miskin terus miskin. Ada 10 ranah yang disebut sebagai sumber ketimpangan sosial di Indonesia, yaitu, pertama, penghasilan (71,1%), lalu pekerjaan (62,6%), rumah/tempat tinggal (61,2%), harta benda (59,4%), serta kesejahteraan keluarga (56,6%). Lima ranah lainnya adalah pendidikan (54%), lingkungan tempat tinggal (52%), terlibat dalam politik (48%), hukum (45%), serta kesehatan (42,3%).

Jangan sampai Seperti Perancis

Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto mewanti-wanti Indonesia jangan sampai seperti Perancis yang saat ini terjadi kerusuhan akibat tingginya ketimpangan sosial.

“Perancis saat ini sedang terjadi kerusuhan yang sudah berjalan tiga sampai empat minggu. Dan yang bergerak turun ke jalan kurang lebih mencapai 40 hingga 50 ribu orang tiap minggu akibat ketimpangan sosial dan ekonomi yang dirasakan,” ujar Prabowo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/12).

Padahal lanjut Prabowo, ketimpangan ekonomi dan sosial di Perancis jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Di Perancis satu persen orang terkaya hanya menguasai 20 persen ekonomi, sedangkan di Amerika satu persen orang terkaya menguasai 35 persen ekonomi. Bandingkan dengan Indonesia, satu persen orang terkaya menguasai 46 persen ekonomi nasional.

“Jadi di Indonesia hampir setengahnya kekayaan bangsa dan negara dikuasai oleh segelintir orang saja yang jumlahnya hanya satu persen dari total jumlah penduduk di Indonesia. Ini kalau kita bicara secara ekonomi secara keseluruhan, tapi kalau kita bicara khusus tanah situasi nya lebih parah yakni satu persen orang terkaya menguasai 80 persen  tanah,” urainya.

Menurut mantan Pangkostrad tersebut, yang diperlukan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah mengganti arah dan kebijakan, serta sistem. Bangsa Indonesia sudah kehilangan kekayaan terlalu banyak akibat kesalahan pengelolaan negara saat ini.

“Ibarat darah, darah kita sudah mengalir keluar terlalu banyak, terlalu lama, maka kita harus mengambil langkah yang saya sebut adalah strategi dorongan besar yaitu kita harus swasembada energi, swasembada pangan untuk menutup celah dari tingginya ketimpangan sosial dan ekonomi tersebut dan kita punya peluang itu,” tandas Prabowo.(wid,rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.