Oleh Dr. Yusuf Amrozi, M.MT *

PADA acara sarasehan pendidikan tinggi dan halal bihalal yang dihelat oleh Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) Jawa Timur beberapa waktu yang lalu, Sekjen Kemendikti Saintek Prof. Badri Munir Sukoco, Ph.D mendorong perguruan tinggi untuk mengatasi ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

Berdasarkan data dari Kemendikti Saintek tahun 2025, ada 5 besar penyumbang lulusan terbanyak berdasarkan bidang keilmuan di perguruan tinggi, yaitu bidang Pendidikan 490.176, Ekonomi 284.321, Sosial 275.387, bidang Teknik 252.420, serta lulusan bidang kesehatan 246.076 orang.

Data terbaru yang di release oleh BPS tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan perguruan tinggi di Indonesia mencapai sekitar 5,39% untuk lulusan universitas dan 4,31% untuk lulusan diploma.

Oleh karena itu tentunya masih ada sejumlah tantangan dan persoalan, baik dari sisi penyedia lulusan (lembaga pendidikan dan lembaga diklat) maupun dari sisi industri atau pengguna lulusan. Fluktuatifnya dari sisi kebutuhan penerimaan tenaga kerja serta pentingnya efisiensi, pihak industri dan pengguna tenaga kerja pada akhirnya lebih memilih cara pragmatis, misalnya dengan memilih tenaga kerja yang lebih siap pakai tanpa melihat dari mana asal-usul pendidikannya.

Persimpangan Jalan Akademik atau Profesi

Sementara pada lembaga pendidikan, khususnya pendidikan tinggi seolah berada di persimpangan jalan antara meneguhkan reputasi akademik perguruan tinggi dengan mengikuti liga-liga perlombaan atau perangkingan baik dalam skala nasional maupun internasional. Tren terkini tidak hanya PTN, PTS juga memiliki mimpi untuk menjadi world class university. Bagaimana dia juga bisa nangkring di lembaga perangkingan global, apakah itu QS-WUR, THE, Scimago Institutions Rankings maupun lainnya. Target Ranking QS WUR tahun 2030 pada TOP 100, menurut Kemendikti Saintek.

Sebaliknya ataukah perguruan tinggi teguh dan memilih mencetak SDM lulusan perguruan tinggi sebagai calon tenaga kerja yang cepat terserap di sektor ketenaga-kerjaan pada semua sektor yang ada. Visi Kemendikti Saintek untuk menjadikan luaran perguruan tinggi berdampak semakin gencar disuarakan, tetapi beban ganda pada perguruan tinggi tetap tersematkan: antara meluluskan calon tenaga kerja sekaligus menciptakan peserta didik dengan kemampuan akademis yang lebih (baca: peneliti) untuk menunjang reputasi akademik perguruan tingginya. Target yang dipatok kementerian bahwa lulusan perguruan tinggi yang langsung bekerja sebagai karyawan atau berwirausaha di tahun 2029 adalah sebesar 86,31%.

Itulah yang diemban oleh perguruan tinggi, terlebih lagi PTN. Bahkan PTN dan PTS melakukan kontrak kinerja kepada instansi pemerintah yang membinanya. Namun demikian, meskipun perguruan tinggi memiliki kewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat), perguruan tinggi lebih-lebih PTS karena kondisi perguruan tinggi dan lingkungan sekitar yang berbeda perlu menetapkan distingsi atau prioritas capaian yang berbeda.

Dalam konteks tahapan untuk menjadi perguruan tinggi yang memiliki reputasi internasional, setidaknya ada tahapan-tahapaan yang lazim dilalui, misalnya diawali dengan tahapan teaching university (berorientasi pada pembelajaran dan mutu lulusan). Jika sukses pada fase ini dapat mengembangkan diri kearah research university dan innovation university. Jika perguruan tinggi tersebut hasil risetnya telah cukup mapan dan dapat di komersialaisasi / dihilirisasi, maka perguruan tinggi tersebut akan masuk ke entrepreneurial university. Fase entrepreneurial university adalah tonggak penting menuju world-class university. Artinya jualan perguruan tinggi tidak sekedar melakukan pembelajaran atau meluluskan peserta didik, tetapi juga jualan riset dan inovasi sehingga mampu terekognisi secara global kedepannya.

Memilih Focus

Bagi perguruan tinggi yang memilih lebih menekankan teaching university juga tidak apa apa, walaupun juga menjalankan dua Tri Dharma yang lain. Asal mampu menghadirkan lulusan yang kompeten berdasarkan capaian pembelajaran yang diamanatkan oleh program studi. Lulusan mampu terserap di dunia kerja secara cepat dan optimal sehingga mengurangi pengangguran terdidik.

Memang ada pola perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan. Pola itu mudah dikenali dengan akronim BMW (Bekerja sesuai bidang profesinya, Melanjutkan studi, atau Wirausaha). Namun demikian fakta membuktikan bahwa mayoritas lulusan pendidikan tinggi ingin segera bekerja sesuai bidang di lapangan usaha yang diinginkan.
Namun bagi perguruan tinggi yang menekankan tidak sekedar teaching university, misalnya research and innovation university maka juga sah-sah saja, sehingga orientasi pembelajaran diarahkan pada kekuatan akademik, mengasilkan product knowledge dengan sitasinya, paten dan komersialisasi paten tersebut ke industri sehingga selain mendidik profil akademisi dan peneliti juga mampu menghasilkan income generating bagi perguruan tinggi. Pada titik ini kolaborasi dengan industri dan jejaring perguruan tinggi global dapat dimaksimalkan.

STEAM, Peran Micro-Credential dan Kurikulum berbasis Luaran

Pada perguruan tinggi untuk menjaga agar mutu lulusan mampu berdaya saing, maka tidak ada cara lain bahwa penekanannya pada kompetensi lulusan. Kompetensi biasanya dibuktikan dengan sejumlah bukti kinerja atau portofolio atas apa yang telah dikerjakan oleh mahasiswa sehingga mampu membentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan di bidangnya.

Memang belakangan ini pemerintah banyak mendorong pendirian perguruan tinggi bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics). Sehingga diharapkan akan banyak lahir tenaga terampil yang menguatkan bidang teknologi dan vokasi. Oleh sebab itu pola pembelajarannya tidak selesai di tingkat wacana tetapi sampai menghasilkan karya kongkrit. Oleh sebab itu bangunan kurikulumnya menggunakan pendekatan yang berbasis luaran (outcome based education-OBE).

Bahkan belakangan muncul pendekatan yang lebih teknis jangka pendek dengan istilah Micro-Credentials (MC). MC merupakan bentuk pengakuan kompetensi dalam skala kecil yang diperoleh melalui proses pembelajaran yang singkat, fleksibel serta berfocus pada keterampilan tertentu. Dengan demikian bagi peserta didik yang telah mengikuti program ini maka dapat disetarakan dengan nilai kredit atau SKS tertentu. Jaminan kompetensinya bagi peserta didik adalah manakala ia telah tersertifikasi secara nasional, misalnya oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), atau sertifikasi lainnya yang berlaku internasional yang diakui oleh perusahaan multinasional. Bahkan tidak sedikit kampus yang saat ini memiliki Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), selain Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Pertanyaannya adalah: Mungkinkah program studi di luar STEAM memungkinkan untuk mengorientasikan pembelajaran berbasis luaran? Sangat mungkin. Prinsip OBE adalah bahwa pembelajaran harus diarahkan pada luaran yang jelas, terukur, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja atau pengguna lulusan.

Oleh sebab itu memilih penekanan pada orientasi akademik untuk mengasilkan karya penelitian yang akhirnya mendukung kemenangan dalam berbagai liga liga pemeringkatan dalam negeri bahkan berbagai perangkingan global ya boleh saja. Atau kalau tidak memilih jalan teaching university dengan menghasilkan lulusan tenaga kerja juga sangat mulia. Mengurangi pengangguran terdidik.

Menjawab ekspektasi Sekjen Kemendikti Saintek diatas. Dengan demikian tidak perlu menutup prodi yang dianggab banyak mengeluarkan lulusan, tetapi mengembangkannya menjadi lebih inovatif.

* Penulis adalah staf pengajar di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Ketua LSP UINSA, dan Wakil Ketua DPD ADRI Jawa Timur.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry